Sejarah Baru! Kemenag Akan Gelar Natal untuk Pertama Kalinya
INFO BANDUNG BARAT — Kementerian Agama RI mencatat sejarah baru dengan menyelenggarakan Natal Bersama 2025, perayaan pertama yang digelar secara resmi oleh lembaga tersebut sejak berdirinya. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut langkah ini sebagai “tradisi baru yang tidak ada kata terlambat untuk memulainya,” sekaligus menegaskan bahwa Kemenag adalah rumah besar bagi seluruh umat beragama di Indonesia.
Rangkaian Natal dibuka melalui Jalan Sehat Lintas Agama yang digelar di kantor Kemenag Jakarta. Ribuan peserta hadir, mulai dari pejabat eselon, pimpinan gereja, mahasiswa, guru sekolah Kristen, penyuluh agama, hingga komunitas lintas iman. Acara tersebut juga menjadi momentum peluncuran logo resmi Natal Kemenag 2025. Aktivitas awal ini dirancang sebagai simbol kebersamaan bahwa Natal bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang menggerakkan harmoni.
Perayaan tahun ini mengusung tema C-LIGHT: Christmas – Love in God, Harmony Together, yang menekankan cinta kasih dan harmoni sebagai nilai universal yang bisa dirayakan siapa pun. Kemenag menegaskan bahwa perayaan ini bersifat inklusif. Umat agama lain dipersilakan hadir dalam kegiatan budaya, seremonial, atau sosial, tetapi tidak dalam ranah ritual ibadah. Pembatasan yang jelas ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa toleransi tidak menuntut penyamaan keyakinan, melainkan saling menghormati secara proporsional.
Natal Bersama juga diposisikan sebagai bagian dari agenda besar Moderasi Beragama, sebuah strategi nasional untuk memperkuat kerukunan dan mendorong perjumpaan antaragama dalam ruang publik. Berbagai penelitian dalam studi agama menunjukkan bahwa interaksi lintas iman yang terstruktur dan positif mampu mengurangi prasangka, memperkuat empati, serta membangun kohesi sosial yang lebih kuat. Kemenag menyelaraskan perayaan ini dengan gagasan tersebut untuk membangun kedekatan sosial melalui kegiatan bersama yang aman dan inklusif.
Puncak Natal direncanakan berlangsung pada 20 Desember 2025, didahului oleh rangkaian praacara seperti seminar lintas iman, aksi sosial, kegiatan kebudayaan, hingga peluncuran buku ekoteologi. Meski detail teknis masih menunggu konfirmasi lanjutan, Kemenag memastikan rangkaian kegiatan ini melibatkan banyak komunitas keagamaan sebagai wujud komitmen merawat keragaman Indonesia.
Dalam konteks sejarah, Indonesia sebenarnya telah memiliki tradisi Perayaan Natal Nasional sejak 1993. Namun penyelenggaraan Natal secara resmi oleh Kemenag menjadi sesuatu yang baru. Langkah ini dipandang sebagai sinyal penting bahwa negara tidak sekadar merayakan keberagaman, tetapi juga mengafirmasinya melalui tindakan nyata.***
Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah