Sistem Pengetahuan Sunda Kuno: Dari Hierarki Keahlian, Kosmologi Tiga Dunia, hingga Pengaruh Islam
INFO BANDUNG BARAT — Sistem pengetahuan masyarakat Sunda kuno terekam dengan baik dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK). Inti ajaran ini adalah pengakuan terhadap keahlian spesifik yang dimiliki setiap individu atau kelompok. Naskah tersebut menekankan bahwa untuk memahami suatu bidang, seseorang harus bertanya langsung kepada ahlinya.
SSKK menggunakan berbagai perumpamaan untuk menegaskan prinsip tersebut. Misalnya, untuk mengetahui telaga berair jernih, bertanyalah kepada angsa; untuk isi laut, bertanyalah kepada ikan. Secara tersirat, ajaran ini menanamkan etika bahwa pengetahuan tentang budi dan kebijaksanaan sebaiknya ditanyakan kepada raja atau mahapendeta.
Ajaran ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, kerajinan, administrasi, hingga spiritualitas. Cerita ditanyakan kepada dalang, lagu kepada ahli karawitan (paraguna), dan pantun kepada juru pantun. Keahlian teknis pun dihargai, seperti urusan tempa besi kepada pandai besi atau masakan kepada ahli masak (hareup catro). Dalam administrasi negara, pengukuran tanah ditanyakan kepada mangkubumi, urusan harga kepada citri, dan bahasa kepada juru bahasa.
Nasihat dalam naskah SSKK ditutup dengan kalimat, “Ini kawuwusan siksakandang karesian ngaranya, ja na pustaka-nipun sang ngareungeu pun,” yang berarti, “Demikianlah yang disebut siksakandang karesian, semoga menjadi sumber pengetahuan bagi yang mendengarkan.” Ajaran ini ditujukan bagi semua kalangan, menandakan adanya kesetaraan dalam sistem pengetahuan masyarakat Sunda.
Kosmologi dan Dualisme Pemahaman
Selain keahlian profesi, sistem pengetahuan Sunda juga membahas kosmologi, sebagaimana tercatat dalam naskah Sunda Kropak 422. Naskah ini memuat perpaduan pandangan Sunda, Hindu, dan Buddha, yang membagi alam semesta ke dalam tiga dunia utama.
Pertama, Sakala, yakni dunia nyata yang dihuni manusia, tumbuhan, dan benda berwujud. Kedua, Niskala, alam gaib yang dihuni para dewa, bidadari, dan makhluk halus. Ketiga, Jatiniskala, dunia gaib sejati tempat bersemayam Yang Maha Esa, dikenal sebagai Sanghyang Manon dan Sang Ijunajati Nistemen sebagai pencipta batas yang tak terhingga. Konsep kosmologi ini berfungsi membantu manusia mencapai tujuan hidup tertinggi berupa kebahagiaan dan ketenangan abadi.
Pandangan kosmologi serupa juga muncul dalam Sewaka Darma serta tafsir Jakob Sumardjo atas pantun Mundinglaya Kusumah dan Eyang Resi Handeula Wangi, yang dipahami sebagai narasi ajaran kesalehan. Dalam tafsir tersebut, perjalanan kosmis manusia dimaknai sebagai upaya mencapai kesempurnaan hidup (sampurna atau disampurnakeun).
Dalam praktik kehidupan masyarakat Sunda, kosmologi ini dipahami secara ganda. Di satu sisi, ia dimaknai simbolis sebagai perjalanan spiritual manusia. Di sisi lain, kosmologi juga dipahami secara harfiah sebagai keyakinan akan keberadaan dunia nyata, dunia gaib, serta unsur supranatural. Dualisme pemaknaan ini diduga dipengaruhi oleh masuknya ajaran Islam yang memperkenalkan konsep gaib sebagai bagian dari sistem keimanan, sehingga memperkaya dan memodifikasi pandangan kosmologis masyarakat Sunda.***
Sumber: Risdayah, Enok, dkk. (2021). Budaya Sunda (Perspektif Islam).
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah