38°C
03/02/2026
Sejarah

Stasiun Cikadongdong: Simpul Sunyi Warisan Kolonial di Jalur Cikampek–Padalarang

  • Januari 27, 2026
  • 3 min read
Stasiun Cikadongdong: Simpul Sunyi Warisan Kolonial di Jalur Cikampek–Padalarang

INFO BANDUNG BARAT — Tahukah kamu bahwa Stasiun Cikadongdong bukan sekadar stasiun kereta api biasa? Stasiun yang terletak di Desa Puteran, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat ini menyimpan sejarah panjang, mulai dari anggaran pembangunan kolonial yang fantastis hingga drama sabotase dan kriminalitas yang sempat menghebohkan media Belanda pada masanya.

Stasiun Cikadongdong dibangun pada tahun 1901 hingga 1906 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Stasiun ini menjadi bagian integral dari proyek ambisius jalur kereta api Cikampek–Padalarang. Tujuan pembangunan jalur tersebut sangat strategis, yakni untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan antara pusat pemerintahan Batavia (kini Jakarta) dan Bandung, yang sebelumnya harus memutar melalui Bogor–Sukabumi–Cianjur.

Pembangunan jalur ini menelan anggaran sebesar f12 juta gulden pada masanya. Proyek tersebut diawasi oleh kepala proyek W. L. Harmsen dan kepala seksi proyek D. J. Stam sejak tahun 1901. Keduanya mengawasi pembangunan rel kereta api dari stasiun ini, melakukan peninjauan jalur, serta mengatur pasokan logistik. Kontur wilayah yang cukup sulit memaksa Harmsen dan Stam membangun sejumlah jembatan dan terowongan di sepanjang rute.

Menariknya, stasiun ini juga tercatat pernah menjadi alamat petunjuk lokasi bagi sejumlah perkebunan di sekitarnya, seperti Gunung Susuru dan Panglejar, yang memasang iklan lowongan kerja di surat kabar untuk mencari pegawai. Salah satunya adalah potongan iklan De Preanger-Bode edisi 19 Desember 1921 yang memuat pengumuman dari pabrik teh dan karet Panglejar. Dalam iklan tersebut tertulis, “Surat ditujukan kepada Administrator, Halte Tjikadongdong 13131,” yang menjadikan stasiun tersebut sebagai alamat korespondensi pengiriman surat lamaran.

Pada Desember 1927, persoalan keamanan di Cikadongdong menjadi sorotan media, sebagaimana diberitakan oleh De Locomotief pada 6 Januari 1928 dan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië pada 5 Januari 1928. Berita-berita tersebut melaporkan serangkaian kejadian mencurigakan yang mengindikasikan adanya upaya sabotase dan tindak kriminal di area stasiun.

Salah satu peristiwa yang dilaporkan adalah aksi pelemparan batu yang terjadi pada 23 Desember 1927. Kereta ekspres nomor 34 yang melaju dari Weltevreden (kini Gambir, Jakarta) dilempari batu saat melintasi Stasiun Cikadongdong. Aksi yang dilakukan oleh sejumlah orang tersebut sempat diketahui oleh petugas pengawas kereta api. Hasil penyelidikan awal mencurigai enam anak laki-laki pribumi sebagai pelaku, meskipun mereka menyangkal tuduhan tersebut.

Tidak hanya pelemparan batu, dua tiang telegraf ditemukan dalam kondisi miring di antara Stasiun Cikadongdong dan Rende karena empat gulungan kawatnya telah dicuri. Camat Cikalong meyakini bahwa tindakan tersebut merupakan perbuatan pidana, bukan sekadar kenakalan. Selain itu, sejumlah batu juga sengaja diletakkan pada perangkat sinyal halte, sehingga menyebabkan sinyal tidak dapat digunakan.

Itjok, mandor kereta api setempat, menuding seorang bocah laki-laki dari Kampung Ciharashas terlibat dalam aksi pelemparan batu. Namun, bocah tersebut juga membantah keterlibatannya saat diinterogasi. Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 20 Januari 1928 kemudian memberitakan pengiriman dua detektif dari kepolisian kota untuk membantu bupati dalam penyelidikan kasus ini. Sayangnya, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena penanganan kasus dinilai sudah terlambat dilakukan.

Selain faktor keamanan, alam juga memberikan tantangan tersendiri. Longsor jalan pernah terjadi di antara Rende dan Cikadongdong pada Februari 1919, yang memutus jalur Batavia–Bandung selama beberapa hari. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada Desember 1914, longsor serupa juga terjadi, meskipun berhasil diatasi melalui pembersihan lokasi.

Kecelakaan kereta api pun pernah mewarnai sejarah stasiun ini. Saat jalur Padalarang–Karawang masih dalam tahap pembangunan, beberapa kereta kerja dilaporkan berpapasan di halte baru Tjikadongdong. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya lima orang mengalami luka-luka, meskipun kerusakan material disebut relatif kecil.

Kini, Stasiun Cikadongdong berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia, mulai dari ambisi kolonial, dinamika sosial, hingga perjuangan menghadapi tantangan alam dan keamanan. Penetapannya sebagai cagar budaya menjadi bentuk pengakuan atas perannya sebagai simpul sejarah yang pernah menghubungkan manusia, ekonomi, dan teknologi pada masanya.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *