38°C
21/03/2026
Budaya

Tradisi Mikanyaah Munding: Wujud Rasa Syukur dan Kearifan Lokal Masyarakat Desa Mukapayung

  • Januari 6, 2026
  • 3 min read
Tradisi Mikanyaah Munding: Wujud Rasa Syukur dan Kearifan Lokal Masyarakat Desa Mukapayung

INFO BANDUNG BARAT — Tradisi Mikanyaah Munding merupakan salah satu warisan budaya yang masih lestari di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur, kasih sayang, serta penghormatan kepada kerbau yang selama ini berperan penting sebagai mitra petani dalam mengolah lahan pertanian. Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan tradisi ini menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga nilai-nilai leluhur.

Secara etimologis, Mikanyaah Munding berarti “menyayangi kerbau”. Makna tersebut sejalan dengan pandangan masyarakat setempat yang menempatkan kerbau sebagai makhluk berjasa besar dalam menunjang ketahanan pangan. Kerbau tidak hanya dipandang sebagai hewan pekerja, tetapi juga bagian dari kehidupan petani yang harus diperlakukan dengan penuh perhatian dan tanggung jawab. Tradisi ini mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam dan makhluk hidup lainnya harus dibangun atas dasar kasih sayang dan rasa hormat.

Berdasarkan tayangan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat, pelaksanaan Mikanyaah Munding terbagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama diawali dengan persiapan sesajen oleh pemilik kerbau yang disertai pembacaan doa. Prosesi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas manfaat yang telah diberikan kerbau dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap kedua dikenal dengan sebutan Ngamandian Munding. Pada tahap ini, kerbau diarak menuju kolam yang telah disiapkan untuk dimandikan. Prosesi berlangsung dengan iringan alunan degung Sunda yang menambah kekhidmatan suasana. Ngamandian Munding tidak sekadar memandikan kerbau, tetapi juga menjadi simbol pembersihan lahir dan batin, baik bagi hewan maupun pemiliknya.

Tahap terakhir disebut sasadu ka munding, yakni mengembalikan kerbau ke dalam kandang. Pada tahap ini, leher kerbau dipasangi kalung yang terbuat dari daun kelapa. Pemilik kerbau kemudian menyampaikan permohonan maaf serta harapan agar kerbau senantiasa sehat dan bersedia membantu pekerjaan di sawah. Prosesi ini menandai berakhirnya rangkaian tradisi Mikanyaah Munding.

Dikutip dari laman Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (2025), Ngamandian Munding merupakan ritual yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali setelah panen padi. Tradisi ini berakar dari ajaran Eyang Mundinglaya Dikusumah yang menekankan pentingnya menghormati hewan pekerja. Prosesi biasanya dipimpin oleh juru kunci setempat, salah satunya Abah Aripin di Desa Mukapayung.

Abah Aripin menuturkan bahwa kerbau dipandang sebagai bagian dari keluarga. Dengan menjaga dan memperlakukannya secara baik, manusia diyakini akan memperoleh kebaikan yang serupa dari alam. Selain nilai spiritual, tradisi Mikanyaah Munding juga memiliki fungsi sosial, lingkungan, ekonomi, dan pendidikan. Tradisi ini bahkan berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi budaya yang mengenalkan etika ekologis kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Melalui keberlanjutan tradisi Mikanyaah Munding, masyarakat Desa Mukapayung tidak hanya mempertahankan identitas budaya lokal, tetapi juga mewariskan nilai rasa syukur serta penghormatan terhadap hewan ternak yang telah menopang kehidupan masyarakat agraris.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *