Tugu Juang di Pasir Kentit: Ingatan Kelam Perjuangan Cipongkor
INFO BANDUNG BARAT — Di balik perbukitan hijau Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebuah tugu yang menjulang tinggi di atas bukit di Kampung Cipari Girang, Desa Cijambu. Monumen bersejarah ini dikenal resmi sebagai Tugu Peringatan Perlawanan Rakyat Cipongkor, meski warga setempat lebih akrab menyebutnya Tugu Juang.
Tugu tersebut didesain menyerupai bambu runcing, simbol perlawanan rakyat Indonesia. Tingginya mencapai sekitar 10 meter dengan diameter kurang lebih 0,5 meter. Di dalamnya terdapat ornamen yang merekam kekejaman penjajahan bangsa asing, khususnya Belanda, terhadap rakyat Cipari.
Kisah kelam itu hidup dalam ingatan warga, salah satunya melalui penuturan Mak Ani (89), seorang sesepuh yang menjadi saksi mata tragedi pembantaian. Berdasarkan penuturan yang dimuat Pikiran Rakyat, Mak Ani dengan penuh semangat menceritakan rentetan peristiwa perjuangan serta nama-nama warga yang gigih melawan penjajah.
Peristiwa mencekam tersebut bermula ketika pasukan Belanda bergerak dari wilayah Parapatan, yang kini menjadi perlintasan ruas jalan PLTA Cisokan. Sebelum tiba di lokasi eksekusi massal, kekejaman sudah terjadi di Ciparikaler. Dua warga, Ajengan Tamami dan mertuanya, Suhaeri, dibunuh terlebih dahulu. Ajengan Tamami tewas mengenaskan dengan kepala dipenggal di pintu rumahnya.
Pasukan tersebut kemudian menggiring sejumlah warga dari berbagai wilayah, seperti Pasir Tarasi, Pasir Pici, dan Ciparikaler. Hingga kini, motif pembantaian masih diselimuti misteri. Namun, menurut Mak Ani, target utama Belanda adalah seorang warga bernama Abun, pengungsi dari Cipatat.
Di sebuah rumah warga, salah seorang prajurit bertanya, “Di sini ada yang namanya Abun, tidak?”
Seorang pria keluar rumah dan menjawab, “Tidak ada, di sini mah Kardi.” Jawaban itu justru dibalas dengan tendangan, makian, dan tembakan yang membuat penghuni rumah tersebut tewas di tempat. Abun pun tetap ditembak mati meskipun sempat mengelak dan mengaku bernama Kardi.
Amuk pasukan Belanda tidak berhenti di situ. Rumah-rumah warga Cipari Girang dibakar. Sejumlah warga yang ditangkap kemudian digiring ke sebuah medan yang lebih tinggi. Setelah berdebat singkat, terdengar perintah “Semuanya.” Peluru dimuntahkan dari jarak sekitar 50 meter, menghabisi nyawa warga secara massal.
Mak Ani, yang saat itu berusia sekitar tujuh tahun dan masih duduk di kelas satu sekolah dasar, menjadi salah satu saksi hidup tragedi tersebut. Ia bersama orang tuanya selamat dengan bersembunyi di kebun bambu di pinggir sawah bersama warga lain.
Tidak ada data pasti mengenai jumlah korban, namun diperkirakan mencapai puluhan orang. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Tugu Perjuangan Rakyat Cipongkor didirikan di lokasi kejadian dan diresmikan pada 20 Januari 1984 oleh Bupati Bandung saat itu, H. Sani Lupias Abdurrachman.
Monumen ini berdiri sebagai pengingat akan keberanian Ajengan Tamami dan seluruh rakyat Cipongkor yang gugur demi kemerdekaan. Ia menjadi situs sejarah yang menegaskan pentingnya mengingat masa lalu dan menghargai arti sebuah perjuangan.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah