38°C
16/01/2026
Budaya

Upacara Ngaras: Ungkapan Bakti dan Permohonan Restu dalam Tradisi Pernikahan Sunda

  • Januari 8, 2026
  • 3 min read
Upacara Ngaras: Ungkapan Bakti dan Permohonan Restu dalam Tradisi Pernikahan Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam budaya masyarakat Sunda, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan peristiwa sakral yang sarat nilai adat, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, sebelum prosesi pernikahan berlangsung, terdapat rangkaian upacara adat yang dijalankan, seperti ngaras, siraman, dan ngeuyeuk seureuh. Setiap tahapan memiliki makna simbolis yang mendalam, salah satunya adalah upacara ngaras atau ngahiras.

Upacara ngaras tidak hadir begitu saja dalam tradisi Sunda. Berdasarkan jurnal Irfan (2020), ngaras merupakan gagasan kreatif budayawan Sunda Rd. Hidayat Suryalaga yang diperkenalkan pada tahun 1975 sebagai pelengkap rangkaian upacara pra-pernikahan adat Sunda. Prosesi ini pertama kali dipresentasikan dalam pernikahan salah satu putra Gubernur Jawa Barat saat itu, Haji Aang Kunaefi, dan sejak itu mulai dikenal luas oleh

Secara etimologis, istilah ngaras memiliki beragam penafsiran. Dalam bahasa Jawa, ngaras dimaknai sebagai sungkem atau munjungan. Dalam bahasa Kawi, kata ini berasal dari raras yang berarti senang, indah, dan haru. Sementara dalam bahasa Sunda, ngaras berkaitan dengan kata raas yang bermakna menyeberangi air dangkal, sehingga berhubungan dengan penggunaan air dalam prosesi. Adapun Rd. Oesman Sadli Sumadilaga menafsirkan ngaras sebagai prosesi membasuh telapak kaki kedua orang tua.

Dalam buku Budaya Sunda (2021) karya Enok Risdayah dkk., dijelaskan bahwa upacara ngaras umumnya dilaksanakan pada sore hari dan bersifat terbuka. Artinya, siapa pun diperbolehkan hadir untuk menyaksikan prosesi tersebut. Keterbukaan ini menjadikan ngaras tidak hanya sebagai ritual keluarga, tetapi juga sarana pendidikan nilai, karena di dalamnya terkandung nasihat kehidupan yang disampaikan oleh para sesepuh, baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat, serta diiringi hiburan musik tradisional kecapi suling yang khas.

Rangkaian upacara ngaras diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara. Setelah itu, prosesi sungkeman menjadi inti utama ritual. Calon pengantin bersungkeman dengan cara bersujud di pangkuan ibu masing-masing sebagai simbol ungkapan terima kasih, permohonan maaf, serta permintaan doa restu. Prosesi kemudian dilanjutkan kepada ayah dengan makna yang sama.

Sungkeman berikutnya dilakukan kepada calon orang tua mertua. Calon pengantin perempuan bersungkeman kepada ibu dan ayah calon suami, demikian pula calon pengantin laki-laki kepada ibu dan ayah calon istri. Tahapan ini melambangkan penerimaan kedua calon pengantin ke dalam keluarga besar masing-masing.

Setelah sungkeman selesai, rangkaian upacara dilanjutkan dengan prosesi membasuh kaki kedua orang tua menggunakan air dan sabun wangi, lalu mengeringkannya dengan handuk. Prosesi ini mengandung makna pengabdian dan bakti seorang anak kepada orang tua sebagai perwujudan rasa terima kasih atas kasih sayang dan pengorbanan yang telah diberikan.

Upacara ngaras menjadi bagian penting dalam adat pernikahan Sunda yang menegaskan nilai bakti, penghormatan, dan kesadaran akan peran orang tua dalam kehidupan anak. Melalui prosesi ini, calon pengantin mempersiapkan diri secara batiniah sebelum melanjutkan ke tahapan adat berikutnya, yakni siraman, sebagai simbol penyucian diri menjelang pernikahan.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *