38°C
18/06/2026
Lifestyle

Waspadai Sedentary Lifestyle Bagi Kaum Rebahan, Ini 7 Dampak Buruknya Terhadap Kesehatan

  • September 21, 2024
  • 3 min read
Waspadai Sedentary Lifestyle Bagi Kaum Rebahan, Ini 7 Dampak Buruknya Terhadap Kesehatan

INFO BANDUNG BARAT — Di era modern yang serba digital, sebagian besar aktivitas harian manusia kini bisa dilakukan hanya dengan duduk di depan layar. Tanpa disadari, pola hidup seperti ini memicu fenomena yang dikenal sebagai sedentary lifestyle atau gaya hidup santai (kurang gerak).

Secara umum, sedentary lifestyle adalah kondisi ketika seseorang menghabiskan waktu enam jam atau lebih dalam sehari untuk duduk atau berbaring. Kementerian Kesehatan RI mendefinisikannya sebagai perilaku berdiam diri tanpa banyak beranjak dari tempat duduk atau tempat tidur sepanjang hari, di luar waktu tidur malam normal.

Meskipun terlihat nyaman, kebiasaan malas bergerak ini menyimpan dampak buruk yang sangat berbahaya bagi kesehatan jangka panjang. Berikut adalah tujuh risiko penyakit kronis yang mengintai pelaku sedentary lifestyle:

1. Penyakit Jantung

Kurangnya aktivitas fisik secara langsung memengaruhi kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Saat tubuh jarang bergerak, otot jantung melemah dan efisiensinya dalam memompa darah akan menurun. Risiko yang mengintai meliputi kardiomiopati (gangguan otot jantung yang memengaruhi pompa darah) hingga penyakit arteri koroner yang memicu serangan jantung.

2. Kolesterol Tinggi

Aktivitas gerak yang minim dapat mengacaukan metabolisme lemak di dalam tubuh. Kondisi ini memicu lonjakan kadar kolesterol jahat (LDL) sekaligus menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) yang berfungsi melindungi pembuluh darah. Akibatnya, terjadi pengerasan arteri (aterosklerosis) yang menyumbat aliran darah ke organ-organ vital.

3. Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi ketika darah mengalir terlalu kuat melalui dinding arteri di seluruh tubuh. Akibat pembuluh darah yang kaku akibat kurang gerak, jantung dipaksa bekerja jauh lebih keras untuk memompa darah, sehingga lambat laun memicu kerusakan organ lainnya.

4. Diabetes Tipe 2

Kurangnya aktivitas fisik dalam jangka waktu lama berdampak buruk pada sensitivitas tubuh terhadap hormon pengatur gula darah. Hal ini memicu terjadinya resistensi insulin—kondisi di mana sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik—sehingga kadar gula darah melonjak dan berpotensi besar berkembang menjadi diabetes tipe 2.

5. Gangguan Mental: Stres, Cemas, dan Depresi

Dampak sedentary lifestyle tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga kesehatan mental. Saat tubuh aktif bergerak, otak secara alami melepaskan hormon serotonin dan endorfin, yaitu zat kimia alami yang berfungsi meningkatkan suasana hati (mood). Tanpa aktivitas fisik, produksi hormon kebahagiaan ini akan berkurang drastis, sehingga memicu kerentanan terhadap stres, kecemasan, hingga depresi.

6. Obesitas

Masalah yang paling kasat mata dari kurang gerak adalah penumpukan lemak tubuh. Ketika asupan kalori dari makanan tidak diimbangi dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik, sisa energi akan disimpan sebagai lemak, memicu kelebihan berat badan hingga obesitas.

Rekomendasi Kesehatan: Untuk mencegah obesitas, orang dewasa dan remaja sangat disarankan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 2,5 jam (150 menit) per minggu.

7. Masalah pada Pembuluh Darah Vena

Saat tubuh tidak cukup bergerak, otot-otot kaki tidak dapat membantu memompa darah kembali ke jantung secara optimal. Akibatnya, aliran darah melambat dan terjadi penumpukan cairan di pembuluh darah balik (vena) area bawah. Kondisi ini memicu gangguan estetika dan kesehatan seperti varises hingga spider veins (pelebaran pembuluh darah kecil di permukaan kulit).

Bagaimana Cara Memulai Perubahan?

Memutus rantai gaya hidup kurang gerak tidak harus dimulai dengan olahraga berat. Anda bisa memulainya dari langkah kecil yang konsisten untuk mengembalikan kebugaran tubuh:

  • Aturan 30 Menit: Pasang alarm untuk berdiri dan melakukan peregangan ringan selama 2–3 menit setiap kali Anda telah duduk selama 30 menit bekerja.

  • Pilih Tangga: Gunakan tangga manual daripada lift atau eskalator jika hanya naik-turun 2–3 lantai di area kantor atau pusat perbelanjaan.

  • Berjalan saat Menelepon: Biasakan diri untuk berjalan mondar-mandir di dalam ruangan ketika Anda sedang menerima panggilan telepon yang cukup lama.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *