38°C
07/06/2026
Sejarah

Di Balik Monumen Pasir Pahlawan Si Jalak Harupat di Gudangkahuripan Lembang

  • Juni 4, 2024
  • 2 min read
Di Balik Monumen Pasir Pahlawan Si Jalak Harupat di Gudangkahuripan Lembang

INFO BANDUNG BARATJejak persinggahan koloni Belanda di Tatar Pasundan tidak hanya berkaitan dengan tokoh-tokoh dari negeri tersebut. Di wilayah Bandung Barat bagian utara, terdapat monumen peninggalan yang mengabadikan jasa seorang pahlawan nasional dalam bentuk monumen pemakaman.

Jika melintasi Jalan Raya Lembang menuju Kota Bandung, sebelum sampai di kawasan wisata Farmhouse, tampak sebuah gerbang berwarna putih di tepi jalan. Di lokasi tersebut terdapat sebuah kompleks pemakaman yang menjadi ruang penghormatan bagi jasa para pahlawan, lengkap dengan monumen peringatan.

Tempat ini dikenal sebagai Kompleks Monumen Perjuangan Bandung Utara, atau Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata. Lokasinya berada di Desa Gudangkahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Oto Iskandar Dinata merupakan pahlawan nasional asal Kabupaten Bandung. Ia lahir pada 31 Maret 1897 dan wafat pada 20 Desember 1945 dalam usia 48 tahun. Sosoknya dikenal luas dengan julukan “Si Jalak Harupat”.

Penulis buku Oto Iskandar Di Nata: The Untold Story, Iip D. Yahya, menjelaskan bahwa keberadaan monumen pasir pahlawan ini lahir dari kesadaran masyarakat untuk mengenang dan mengabadikan jasa-jasa Oto Iskandar Dinata.

Meskipun jasadnya tidak dimakamkan di lokasi tersebut, makam simbolik ini kemudian dikenal sebagai Taman Pahlawan Oto Iskandar Dinata. Peresmiannya dilakukan pada 20 Desember 1952 oleh Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI), yang merupakan metamorfosis dari Paguyuban Pasundan.

Sebagai simbol keberadaan jasadnya, pasir dan air laut dari Pantai Mauk, Tangerang, dimasukkan ke dalam peti mati. Hal ini dilakukan karena Oto Iskandar Dinata gugur di wilayah Banten. Lembang dipilih sebagai lokasi monumen karena lingkungannya yang sejuk dan tenang.

Seiring waktu, kompleks ini juga menjadi makam nyata setelah wafatnya putra sulung Oto, Mayjen H. Sentot Iskandar Dinata, yang gugur bersama batalyonnya saat mengamankan wilayah Bandung Utara pada masa revolusi. Di area ini terdapat pula monumen berbentuk tiga dinding dengan tulisan “Bihari ngancik di kiwari ayeuna ngagelar jaga”, “Merdeka atau mati”, serta prasasti peresmian oleh Gubernur Jawa Barat kala itu. Setiap tanggal wafat Oto Iskandar Dinata, masyarakat sekitar rutin menggelar ziarah, doa bersama, dan mengenang jasa para pahlawan di kompleks tersebut.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *