Filosofi Tata Pemerintahan Tri Tangtu di Buana dalam Kosmologi Sunda Kuno
INFO BANDUNG BARAT — Konsep Tri Tangtu di Buana merupakan sistem tata pemerintahan dan kepemimpinan masyarakat Sunda tradisional yang memiliki akar historis sangat tua. Berbagai lembaran maklumat mengenai pilar politik ini ditopang secara autentik oleh dokumentasi naskah Sunda kuno (buhun) serta pola perikehidupan sosiologis masyarakat kampung adat yang eksistensinya masih dapat dijumpai di beberapa pelosok Jawa Barat. Secara filologis, lembaran kearsipan kuno yang memuat rumusan filosofis Tri Tangtu di Buana dapat ditelusuri pada naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian yang ditulis pada tahun 1518, naskah Carita Parahyangan dari tahun 1580, serta naskah Sewaka Darma yang diperkirakan berasal dari era abad ke-15.
Struktur fundamental dari ajaran kosmologi ini terdiri atas tiga unsur utama yang saling mengikat, yaitu prabu atau raja dan ratu, rama, serta resi. Kekuatan sejati dari tatanan tata negara tradisional ini bertumpu pada kekukuhan serta keteguhan fungsional dari masing-masing unsur tersebut. Dalam praktiknya, tidak ada satu pun komponen yang saling berebut kekuasaan atau melakukan intervensi kewenangan. Sebaliknya, setiap elemen bergerak harmonis pada jalurnya masing-masing dengan menjunjung tinggi kapasitas, profesionalisme, serta batas wilayah teritorial yang jelas demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Pembagian Peran Politik Tradisional dan Representasi Keselarasan Semesta
Sistem pemerintahan adat ini merefleksikan pembagian peran yang seimbang di dalam tatanan sosial maupun struktur administrasi negara. Jika dikaji secara makrokosmos, trilogi komponen Tri Tangtu di Buana merupakan representasi simbolis dari keselarasan tiga unsur mutlak semesta, yaitu Tuhan, alam, dan manusia. Hubungan timbal balik ini diikat oleh tujuan luhur untuk menyejahterakan kehidupan orang lain secara jasmani dan rohani, di mana seorang pemimpin dituntut memiliki ketetapan sikap bagaikan raja, memegang ucapan yang dapat dipercaya bagaikan petuah tetua, serta senantiasa memelihara kesucian budi pekerti luhur laksana seorang pertapa.
Komponen pertama yang memegang kendali spiritualitas adalah rama. Elemen ini bertindak sebagai manifestasi dari nilai ketuhanan di bumi yang bertugas mengawal wilayah keagamaan dan adat. Sosok rama diposisikan sebagai manusia suci yang telah berhasil melepaskan diri dari belenggu kepentingan duniawi maupun materi lahiriah. Berkat kematangan rohaninya tersebut, golongan ini mampu menjaga kemurnian rasa cinta kasih (asih) yang tinggi, memelihara objektivitas, serta menonjolkan kebijaksanaan dalam memberikan nasihat moral bagi jalannya roda birokrasi kerajaan.
Komponen kedua adalah resi yang memegang amanah sebagai representasi dari unsur alam semesta selaku penyedia sarana pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Kelompok resi merupakan sekumpulan ahli, cendekiawan, atau guru besar yang menguasai berbagai bidang disiplin ilmu strategis, mulai dari sektor pendidikan, tata kelola pertanian, strategi militer, estetika seni, jaringan perdagangan, hingga ilmu kesehatan herba. Misi utama yang diemban oleh otoritas intelektual ini adalah mencerdaskan dan menajamkan akal budi masyarakat melalui doktrin saling asah (silih asah).
Kedudukan Prabu sebagai Pamong Tradisional demi Keharmonisan Ekologis
Komponen ketiga dalam trilogi kepemimpinan ini ditempati oleh raja atau prabu yang bertindak sebagai representasi dari unsur manusia di bumi. Tugas utama seorang kepala pemerintahan adalah mengasuh, mengelola, serta melindungi seluruh dinamika aktivitas kemasyarakatan dan kekayaan material yang dimiliki oleh negara. Karena mengemban misi pengasuhan yang humanis, dalam tatanan sosiopolitik tradisional Sunda, para pemimpin pemerintahan tidak diposisikan sebagai penguasa yang otoriter, melainkan disebut sebagai pamong atau pengasuh (pangereh).
Melalui pembagian peran yang presisi ini, dapat disimpulkan bahwa Tri Tangtu di Buana merupakan manifes sistem pemerintahan tradisional Sunda yang mengusung falsafah moral silih asah, silih asih, silih asuh. Konsep kepemimpinan ini menawarkan prinsip keharmonisan ekologis yang menekankan pada keselarasan mutlak antara keberadaan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Konsep keseimbangan siber ini mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan jasmani yang dikelola oleh prabu dan resi, dengan pemenuhan kebutuhan rohani yang dijaga oleh rama, sehingga menciptakan stabilitas sosial yang berkelanjutan dari masa ke masa.