38°C
24/08/2026
Edukasi

Paradoks Religiusitas, Ketika Agama Hanya Menjadi Kulit

  • Oktober 4, 2024
  • 3 min read
Paradoks Religiusitas, Ketika Agama Hanya Menjadi Kulit

INFO BANDUNG BARAT “Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.” Penggalan syair karya Gus Mus berjudul Ketika Agama Kehilangan Tuhan tersebut seolah menjadi cermin retak bagi potret keberagamaan di Indonesia. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia, namun ironisnya, predikat tersebut belum berbanding lurus dengan kemajuan moralitas publik.

Berbagai survei internasional sering menempatkan Indonesia pada posisi teratas dalam urusan religiusitas. Data dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa 98 persen responden Indonesia menganggap agama sangat penting dalam kehidupan mereka. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh berbagai survei lain, seperti dari Global Business Policy Institute dan Statista, yang menempatkan Indonesia dalam jajaran sepuluh besar negara dengan tingkat religiusitas tertinggi. Namun, di saat yang sama, fakta sosial di lapangan justru menampilkan wajah yang kontradiktif.

Antara Having Religious dan Being Religious

Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, memberikan catatan kritis atas fenomena ini. Menurutnya, praktik keberagamaan di Indonesia mayoritas masih sebatas having religious, sebuah keberagamaan yang bersifat superfisial atau kulit luar dan belum menyentuh taraf being religious yang menjadikan nilai-nilai agama sebagai wawasan serta pedoman hidup yang substansial.

Paradoks ini tampak nyata ketika kita membandingkan tingginya angka religiusitas dengan indeks korupsi di tanah air yang cenderung stagnan. Semboyan “kebersihan adalah sebagian dari iman” yang diajarkan sejak dini sering kali hanya menjadi jargon, sementara perilaku membuang sampah sembarangan telah membudaya. Lebih memilukan lagi, merebaknya praktik judi daring, tindak kriminal, hingga fanatisme yang berujung pada aksi kekerasan atas nama agama menunjukkan adanya kesenjangan lebar antara titel religius dan realitas moralitas masyarakat.

Menguji Korelasi Kemajuan Bangsa dan Religiusitas

Timbul pertanyaan mendasar mengenai relevansi tingkat religiusitas dengan kemajuan sebuah bangsa. Fakta menunjukkan pola yang berlawanan. Negara-negara dengan peradaban maju seperti Kanada, Finlandia, Swedia, Inggris, hingga Jepang dan Tiongkok umumnya memiliki skor religiusitas yang relatif rendah dalam berbagai survei internasional. Fenomena ini bukan berarti agama merupakan penghambat kemajuan, melainkan menjadi indikator bahwa parameter “menjadi religius” tidak bisa hanya diukur dari pengakuan administratif atau keterlibatan dalam ritual semata.

Pada hakikatnya, seluruh agama besar di dunia diturunkan untuk mendorong kemajuan, meninggikan peradaban, dan melarang segala bentuk kerusakan. Jika terdapat ketidaklinieran antara pengakuan beragama dengan fakta sosial yang ada, maka titik permasalahannya bukan terletak pada ajaran agamanya, melainkan pada cara manusia menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.

Agama seharusnya berfungsi sebagai kompas moral yang membimbing manusia menuju kemaslahatan, bukan sekadar simbol identitas untuk membenarkan tindakan-tindakan destruktif. Pada akhirnya, keberagamaan yang autentik adalah yang mampu melahirkan tindakan nyata berupa kebaikan bagi sesama, bukan hanya sekadar klaim kesalehan di atas kertas.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *