INFO BANDUNG BARAT — Pernahkah Anda mengajarkan anak untuk mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang membuatnya merasa terganggu atau tidak nyaman? Jika ya, Anda sebenarnya telah menanamkan fondasi konsep consent atau persetujuan sejak dini.
Consent bukan sekadar istilah yang berkaitan dengan hubungan intim orang dewasa. Secara luas, consent adalah bentuk kesepakatan atau izin antara individu. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini mencakup sentuhan, kepemilikan benda, hingga tata cara bersikap yang melibatkan orang lain. Sexual consent secara spesifik merujuk pada persetujuan sadar dan sukarela dari kedua belah pihak sebelum terlibat dalam aktivitas seksual. Memahami hal ini berarti menetapkan batasan pribadi sekaligus menghormati batasan orang lain. Tanpa persetujuan, aktivitas seksual apa pun dikategorikan sebagai tindakan pelecehan atau kekerasan.
Mengajarkan hal ini pada anak usia 5 hingga 10 tahun tentu merupakan tantangan tersendiri karena sifatnya yang kompleks dan dianggap tabu oleh sebagian orang. Berikut adalah lima langkah sederhana untuk memulainya.
1. Gunakan Kosakata yang Tepat
Hindari mengganti nama organ reproduksi dengan istilah yang disamarkan atau tidak sopan. Menggunakan istilah medis yang benar seperti “penis” atau “vagina” memberikan persepsi positif bahwa tubuh anak adalah hal yang wajar dan perlu dipahami. Dengan kosakata yang tepat, anak akan merasa nyaman mendiskusikan tubuhnya dengan orang tua dan mampu melaporkan kejadian pelecehan dengan detail yang jelas jika hal tersebut terjadi.
2. Ajarkan Otonomi Tubuh
Anak usia sekolah harus memahami bahwa mereka memiliki kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Mereka berhak menolak pelukan, ciuman, atau gelitikan dari siapa pun, termasuk anggota keluarga terdekat. Orang tua harus menghormati keputusan anak saat mereka mengatakan “tidak” atau “berhenti”. Sebagai langkah awal, ajarkan anak untuk bertanya terlebih dahulu kepada orang lain sebelum memeluk atau menyentuh mereka, guna membangun rasa saling menghormati.
3. Libatkan Keluarga dan Kerabat
Edukasi ini tidak akan efektif tanpa dukungan lingkungan sekitar. Jelaskan kepada keluarga dan kerabat untuk tidak memaksa anak memberikan afeksi fisik jika sang anak merasa tidak nyaman. Jika anak menolak pelukan, ajarkan mereka untuk menawarkan alternatif interaksi yang tetap sopan, seperti bersalaman atau high five.
4. Terapkan Batasan yang Jelas
Seiring bertambahnya usia, jelaskan batasan fisik berdasarkan hubungan sosial. Misalnya, jelaskan bahwa ibu atau ayah boleh memeluknya, namun tidak dengan orang asing. Tekankan pula bahwa hanya orang tua atau dokter (dalam pengawasan orang tua) yang diizinkan menyentuh bagian tubuh tertentu untuk keperluan pemeriksaan medis, dan batasan ini tidak berlaku bagi pihak lain.
5. Merespon Rasa Ingin Tahu dengan Bijak
Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan pemikiran kritis yang berkembang. Ketika mereka melontarkan pertanyaan mengenai seksualitas, jangan mengalihkan pembicaraan atau memarahi mereka. Berikan penjelasan jujur sesuai dengan tahapan usia mereka. Jika Anda merasa terkejut atau belum menemukan jawaban yang tepat, sampaikan dengan tenang, “Mama terkejut kamu menanyakan hal ini, mari kita bicarakan setelah makan malam nanti.” Ciptakan ruang diskusi yang aman sehingga anak tidak mencari jawaban dari sumber yang salah.
Menjadi orang tua berarti menjadi sahabat pertama bagi anak untuk memahami tubuh dan batasan mereka. Keterbukaan komunikasi mengenai edukasi seksual adalah bekal dasar yang sangat penting untuk melindungi anak dari potensi kekerasan seksual di dunia luar.