38°C
06/08/2026
Budaya

Puput Puseur, Manifestasi Kearifan Lokal dalam Merawat Kehidupan

  • November 7, 2024
  • 2 min read
Puput Puseur, Manifestasi Kearifan Lokal dalam Merawat Kehidupan

INFO BANDUNG BARAT Upacara adat Puput Puseur merupakan salah satu tradisi Sunda yang sarat makna dalam proses perawatan tali pusat bayi. Kepercayaan ini dianut oleh berbagai komunitas adat di Indonesia, termasuk masyarakat di Tanah Pasundan. Salah satu wilayah yang masih memegang teguh tradisi ini adalah Kampung Parakansalam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Di kampung tersebut, tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, mulai dari tokoh masyarakat setempat bernama Ibu Entang, diteruskan oleh para emak paraji seperti Abu Ucu, Emak Iduy, Emak Arnas, Emak Da’i, hingga Emak Ipung, dan kini dilestarikan oleh Emak Engkar.

Nilai Filosofis dan Spiritual Upacara

Secara teologis, masyarakat Sunda meyakini bahwa upacara Puput Puseur bertujuan untuk memohon perlindungan dan keberkahan bagi sang bayi dari Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dipandang sebagai bentuk etika dan penghormatan terhadap proses alami lepasnya tali pusat sebagai bagian dari fase kehidupan awal manusia.

Secara filosofis, penguburan ari-ari memiliki makna yang lebih mendalam. Menurut Damardjati, praktik ini merupakan wujud penghormatan terhadap apa yang disebut sebagai kakang bawah dan adi ari-ari. Penguburan ari-ari di halaman rumah bukan sekadar ritual, melainkan upaya menyatukan seluruh perwujudan lahiriah dengan tanah sebagai ibu pertiwi. Melalui proses ini, diharapkan bayi yang baru lahir senantiasa diberikan takdir yang baik serta keseimbangan dalam meniti kehidupan.

Konsep Dulur Opat Kalima Pancer

Masyarakat Sunda memegang teguh kepercayaan mengenai konsep dulur opat kalima pancer. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap bayi lahir bersama empat saudara yang mendampingi proses kelahirannya, yakni kakang bawah atau ketuban, adi ari-ari atau plasenta, getih atau darah, serta pusar atau tali plasenta. Bayi itu sendiri diposisikan sebagai kalima pancer atau titik pusat dari keempat elemen tersebut.

Keempat unsur ini harus dirawat dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Masyarakat Sunda percaya bahwa dengan merawat dengan baik dulur opat kalima pancer, kelak sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang rukun dengan saudaranya serta memiliki karakter yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tradisi ini menjadi pengingat bagi setiap individu akan akar keberadaannya dan pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta sejak detik pertama kehidupan dimulai.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *