38°C
03/08/2026
Edukasi

Anak Tidak Pernah Meminta Dilahirkan, Kasus Penganiayaan di Bandung Barat Mengingatkan Pentingnya Kesiapan Menjadi Orang Tua

  • Agustus 3, 2026
  • 5 min read
Anak Tidak Pernah Meminta Dilahirkan, Kasus Penganiayaan di Bandung Barat Mengingatkan Pentingnya Kesiapan Menjadi Orang Tua

INFO BANDUNG BARAT — Seorang anak berusia lima tahun di Kabupaten Bandung Barat diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Korban mengalami luka serius hingga berlumuran darah dan harus mendapatkan penanganan medis, sementara pelaku telah diamankan oleh jajaran Polres Cimahi untuk menjalani proses hukum.

Kasus ini tentu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Namun, di balik proses hukum tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar dan perlu dijawab bersama, mengapa seorang anak bisa menjadi korban kekerasan dari orang yang seharusnya menjadi pelindung pertamanya?

Pertanyaan itu membawa kita pada satu isu yang sering luput dibicarakan, yakni kesiapan menjadi orang tua.

Menjadi Orang Tua Bukan Sekadar Mampu Memiliki Anak

Di tengah masyarakat, pembahasan mengenai kesiapan memiliki anak sering kali berhenti pada persoalan usia, kondisi ekonomi, atau status pernikahan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesiapan menjadi orang tua juga mencakup kesiapan psikologis, emosional, sosial, dan kemampuan menjalankan pengasuhan.

Dalam panduan Parenting for Every Child, UNICEF menegaskan bahwa anak membutuhkan pengasuhan yang penuh kasih sayang, responsif, dan konsisten agar dapat tumbuh secara optimal. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan, tetapi juga menjadi tempat pertama anak belajar mengenali emosi, membangun rasa aman, dan memahami hubungan dengan orang lain.

Ketika orang tua tidak memiliki kemampuan mengelola stres, mengendalikan amarah, atau mencari bantuan saat menghadapi tekanan, hubungan pengasuhan dapat berubah menjadi relasi yang dipenuhi ketakutan. Dalam kondisi seperti inilah risiko kekerasan terhadap anak meningkat.

Kekerasan terhadap Anak Tidak Pernah Terjadi karena Satu Penyebab

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak merupakan persoalan yang kompleks. Psikolog Jay Belsky, melalui Ecological Integration Model of Child Maltreatment (1980), menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak muncul dari interaksi berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis orang tua, hubungan dalam keluarga, lingkungan sosial, hingga tekanan ekonomi dan budaya.

Berbagai penelitian setelahnya menemukan pola yang serupa. Orang tua yang mengalami stres berkepanjangan, konflik rumah tangga, kesulitan ekonomi, gangguan kesehatan mental, penyalahgunaan zat, atau pernah mengalami kekerasan pada masa kecil memiliki risiko lebih tinggi melakukan kekerasan apabila tidak memiliki sistem pendukung yang memadai.

Namun, penting ditegaskan bahwa faktor-faktor tersebut bukan alasan yang membenarkan kekerasan. Temuan ilmiah justru menunjukkan bahwa semakin besar tekanan yang dihadapi seseorang, semakin penting pula akses terhadap pendidikan pengasuhan, layanan kesehatan mental, serta dukungan sosial.

Anak Tidak Hanya Mengalami Luka Fisik

Kekerasan terhadap anak hampir selalu meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang daripada luka yang tampak di tubuhnya.

Psikiater Bessel van der Kolk, dalam bukunya The Body Keeps the Score, menjelaskan bahwa trauma masa kecil dapat mengubah cara otak berkembang. Pengalaman kekerasan memengaruhi sistem saraf, kemampuan mengelola emosi, proses belajar, bahkan cara seseorang membangun hubungan ketika dewasa.

Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Adverse Childhood Experiences (ACE Study) yang dipublikasikan oleh Vincent J. Felitti dan rekan-rekannya pada 1998. Studi tersebut menemukan bahwa pengalaman kekerasan, penelantaran, maupun disfungsi keluarga pada masa kanak-kanak berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan kecemasan, penyalahgunaan zat, penyakit jantung, diabetes, hingga kematian dini.

Artinya, kekerasan terhadap anak bukan hanya menciptakan korban hari ini, tetapi juga dapat membentuk berbagai persoalan kesehatan dan sosial pada masa depan.

Pengasuhan Adalah Keterampilan yang Perlu Dipelajari

Masih banyak orang beranggapan bahwa naluri menjadi orang tua akan muncul dengan sendirinya setelah memiliki anak. Padahal, American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa pengasuhan merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan terus dikembangkan.

Belajar menjadi orang tua berarti memahami perkembangan anak, mengenali cara berkomunikasi sesuai usia, menerapkan disiplin tanpa kekerasan, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan ketika emosi mulai sulit dikendalikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan dukungan terhadap orang tua dan pengasuh sebagai salah satu dari tujuh strategi utama pencegahan kekerasan terhadap anak dalam kerangka INSPIRE: Seven Strategies for Ending Violence Against Children. Menurut WHO, memperkuat kapasitas pengasuhan merupakan langkah yang terbukti efektif mengurangi risiko kekerasan di lingkungan keluarga.

Kesiapan Menjadi Orang Tua Perlu Dimulai Sebelum Anak Dilahirkan

Kasus yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat seharusnya tidak hanya mengundang kemarahan terhadap pelaku, tetapi juga menjadi momentum untuk mengevaluasi cara masyarakat memandang peran sebagai orang tua.

Selama ini, pendidikan mengenai pengasuhan sering baru dicari setelah seseorang memiliki anak. Padahal, kesiapan menjadi orang tua seharusnya dipersiapkan jauh sebelumnya, termasuk kesiapan mengelola emosi, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, membangun hubungan yang sehat dengan pasangan, serta memahami kebutuhan perkembangan anak.

Anak bukanlah pihak yang memilih untuk dilahirkan. Mereka sepenuhnya bergantung pada keputusan, sikap, dan tanggung jawab orang dewasa yang menghadirkannya ke dunia.

Karena itu, keputusan untuk memiliki anak semestinya tidak hanya didasarkan pada keinginan memiliki keturunan, tetapi juga pada kesiapan untuk menghadirkan ruang yang aman bagi tumbuh kembangnya.

Sebagaimana ditegaskan dalam Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan. Hak tersebut tidak dimulai ketika kekerasan terjadi, melainkan sejak orang dewasa memutuskan untuk menjadi orang tua.

Kasus penganiayaan di Bandung Barat menjadi pengingat bahwa perlindungan terbaik bagi anak bukan hanya penegakan hukum setelah kekerasan terjadi, tetapi juga memastikan setiap orang yang memilih menjadi orang tua telah siap menjalankan tanggung jawab tersebut. Sebab, anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tetapi setiap anak berhak dibesarkan dengan kasih sayang, rasa aman, dan martabat sebagai manusia.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *