Membalut Kain pada Pohon, Upaya Manusia Menghormatinya sebagai Makhluk Hidup
INFO BANDUNG BARAT — Pohon yang dibalut kain sering memunculkan rasa penasaran, terutama ketika kain yang digunakan memiliki pola tertentu seperti hitam dan putih. Dalam tradisi Sunda lama, praktik membalut pohon memiliki kedalaman makna yang tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga menyangkut cara pandang leluhur terhadap alam dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Dalam kepercayaan leluhur Sunda, pohon dianggap sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang menyambungkan bumi dan langit. Pohon, terutama yang besar, tua, dan rimbun, dipandang bukan sekadar tumbuhan, melainkan makhluk hidup yang memiliki nilai, daya, serta peran spiritual dalam menjaga harmoni lingkungan. Pembalutan kain pada batang pohon merupakan simbol penghormatan terhadap kehidupan tersebut.
Kain hitam-putih yang digunakan bukan tanpa makna. Kombinasi dua warna ini mencerminkan filosofi keseimbangan, seperti gelap dan terang, bumi dan langit, lahir dan batin. Hitam sering dihubungkan dengan tanah, unsur dasar yang menjadi sumber kehidupan. Sementara putih menggambarkan air atau cahaya, unsur penghidup yang menyucikan dan memberi energi. Warna-warna ini menjadi pengingat bahwa alam bekerja melalui dualitas yang saling melengkapi.
Dalam pandangan leluhur, pohon besar dianggap pusat kehidupan tempat energi berkumpul. Akar yang menjulur jauh ke tanah dan dahan yang menjulang ke atas melambangkan hubungan harmonis antara dunia manusia, alam, dan kekuatan gaib. Karena itu, pohon tertentu tidak boleh ditebang atau disakiti. Membalut batangnya dengan kain juga berfungsi sebagai tanda larangan agar tidak dipaku, ditempeli spanduk, atau dirusak.
Pohon yang dibalut kain juga menjadi penanda etika ekologis, setiap manusia wajib menjaga, merawat, dan menghormati pohon sebagai bagian dari keberlangsungan hidup. Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari lingkaran kehidupan yang harus saling mendukung. Menghormati pohon berarti menghormati keseimbangan dunia yang menopang kehidupan manusia itu sendiri.
Saat praktik ini diterapkan kembali dalam kehidupan modern, maknanya bukan sekadar romantisasi budaya lama, melainkan bentuk pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam harus kembali dilandasi rasa hormat, kesadaran, dan tanggung jawab.***
Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah