Hasan Nasbi Sebut Ngopi dan Makan Gorengan Sebabkan Deforestasi, Bagaimana Faktanya?
INFO BANDUNG BARAT — Pernyataan Hasan Nasbi, mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan yang kini menjabat sebagai komisaris PT Pertamina (Persero), yang mengaitkan konsumsi gorengan dan kopi dengan hutan gundul memicu perdebatan luas di ruang publik. Dalam pernyataannya, kebiasaan konsumsi masyarakat disebut berkontribusi pada deforestasi karena mendorong pembukaan lahan untuk produksi komoditas seperti kelapa sawit dan kopi. Namun, ketika klaim tersebut ditelusuri melalui data dan kajian ilmiah, persoalannya tidak sesederhana hubungan langsung antara makanan, minuman, dan hilangnya.
Kritik berbasis data disampaikan oleh Alif Hijriah, alumni Matematika Institut Teknologi Bandung. Mengacu pada data yang dikutip Merdeka.com (2025), konsumsi minyak goreng nasional Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2,6 juta ton per tahun. Dengan asumsi produktivitas kelapa sawit rata-rata sekitar 4 ton per hektare per tahun, kebutuhan lahan sawit untuk memenuhi konsumsi minyak goreng domestik hanya berada di kisaran 650 ribu hingga 850 ribu hektare. Angka ini jauh lebih kecil dibanding total luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai sekitar 16 juta hektare. Dengan perbandingan tersebut, konsumsi gorengan masyarakat hanya menyerap sekitar 4–5 persen dari total lahan sawit nasional.
Perhitungan ini menunjukkan bahwa sebagian besar perkebunan sawit tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng rumah tangga, melainkan untuk kepentingan industri dan ekspor. Karena itu, mengaitkan hutan gundul secara langsung dengan kebiasaan makan gorengan dinilai tidak proporsional. Hal serupa juga berlaku pada kopi. Meski kopi memang membutuhkan lahan tanam, deforestasi yang berkaitan dengan komoditas ini lebih ditentukan oleh pola ekspansi perkebunan dan tata kelola lahan, bukan oleh tingkat konsumsi individu.
Menurut penjelasan ilmiah dari NASA (2007), deforestasi adalah proses konversi kawasan hutan menjadi lahan non-hutan seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, atau infrastruktur. NASA menegaskan bahwa deforestasi jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi keputusan ekonomi dan kebijakan dalam skala besar. Dengan demikian, konsumsi individu berada di ujung rantai yang panjang dari sistem produksi dan distribusi komoditas.
Temuan serupa juga disampaikan dalam penelitian yang dimuat di jurnal Environmental Science & Policy (2025), yang menyebut bahwa pendorong utama deforestasi global adalah ekspansi pertanian skala besar dan komersial. Studi tersebut menekankan bahwa sistem produksi global, permintaan pasar internasional, serta lemahnya pengawasan terhadap pemanfaatan lahan memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap hilangnya hutan dibandingkan konsumsi harian masyarakat.
Sementara itu, riset dari CIFOR-ICRAF (2025) mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, proporsi produksi sawit yang berasal dari pembukaan hutan baru cenderung menurun. Meski demikian, lembaga ini juga mengingatkan bahwa risiko deforestasi tetap ada apabila kebijakan perlindungan hutan tidak ditegakkan secara konsisten. Artinya, persoalan sawit, sebagaimana kopi, tidak bisa dilepaskan dari konteks tata kelola dan pengawasan negara.
Menurut laporan dari NRDC (2021), penyederhanaan penyebab deforestasi ke dalam perilaku individu berpotensi mengaburkan tanggung jawab aktor besar dan negara. Narasi semacam ini dapat memindahkan beban krisis lingkungan dari kebijakan dan industri ke masyarakat, sekaligus melemahkan dorongan untuk melakukan reformasi struktural yang dibutuhkan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Dengan demikian, membingkai deforestasi sebagai akibat dari konsumsi gorengan dan kopi bukan hanya tidak akurat secara data, tetapi juga berisiko menyesatkan arah diskusi publik. Perlindungan hutan membutuhkan pendekatan berbasis bukti, penguatan regulasi, serta pengawasan terhadap praktik produksi berskala besar. Alih-alih menyalahkan apa yang ada di piring dan cangkir, perhatian seharusnya diarahkan pada sistem dan kebijakan yang menentukan masa depan hutan.***
Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah