38°C
19/06/2026
Bhineka Budaya

Menguak Filosofi Ngertakeun Bumi Lamba Sebagai Alat Perlawanan Kultural

  • Juni 19, 2026
  • 4 min read
Menguak Filosofi Ngertakeun Bumi Lamba Sebagai Alat Perlawanan Kultural

INFO BANDUNG BARAT — Di era kontemporer yang didikte oleh nalar industrialisasi dan komodifikasi, upacara adat sering kali direduksi maknanya. Sebagian besar masyarakat mengira ritual tradisional hanyalah sekadar nostalgia masa lalu, repetisi mistis, atau komoditas pariwisata budaya belaka. Namun, jika dibedah lebih dalam melalui kacamata filsafat kritis dan poskolonial, ritual adat dapat bertransformasi menjadi sebuah instrumen perlawanan radikal (radical agency).

Salah satu contoh manifestasi dari gerakan politik kebudayaan ini adalah Upacara Ngertakeun Bumi Lamba (NBL) yang diselenggarakan di kawasan Bandung Utara. Ketika instrumen politik dan hukum formal sering kali lumpuh oleh kepentingan kapitalisme ekstraktif, ritual ini hadir mengintervensi realitas. NBL menawarkan sebuah episteme (cara pandang) dan laku hidup tandingan guna merebut kembali kedaulatan ruang hidup yang kian tergerus.

Bagaimana sebuah ritual tradisional mampu beroperasi sebagai alat perlawanan kultural yang kuat? Berikut adalah dekonstruksi filosofis di balik falsafah Ngertakeun Bumi Lamba.

Tiga Dimensi Filsafat dalam Ngertakeun Bumi Lamba

Upacara Ngertakeun Bumi Lamba tidak bergerak di ruang hampa. Di balik barisan doa dan konfigurasi estetikanya, ritual ini mengaktivasi tiga dimensi filosofis untuk membongkar dan melawan hegemoni modernitas Barat yang eksploitatif.

1. Perlawanan Ontologis Menggugat Dualisme Kartesian

Filsafat modern pasca-Renaans berakar pada pemikiran dualisme Kartesian yang memisahkan secara tegas antara subjek (manusia) dan objek (alam). Pemisahan ini melahirkan doktrin antroposentrisme, sebuah cara pandang yang menganggap alam semesta hanyalah komoditas mati yang bebas dieksploitasi demi keuntungan materi manusia.

Ngertakeun Bumi Lamba mendobrak narasi tersebut melalui premis: “Urang jeung alam taya antarana, mun aya antarana urang rek cicing di mana?” (Kita dengan alam tiada antaranya, bila ada antaranya kita kan berdiam di mana?). Secara ontologis (hakikat keberadaan), ritual ini menegaskan prinsip monisme kosmis, bahwa raga manusia adalah senyawa integral dari gerak alam semesta (Bapak Angkasa dan Ibu Bumi). NBL mendeklarasikan sebuah kebenaran spekulatif bahwa merusak alam sama dengan merusak eksistensi raga manusia itu sendiri.

2. Epistemologi Rasa Melawan Positivisme Modern

Dunia modern hari ini lumpuh oleh dominasi positivisme, sebuah paham yang menyatakan bahwa realitas hanya diakui keabsahannya jika bisa diukur secara kuantitatif di laboratorium atau dihitung dalam angka pasar. Akibatnya, hubungan manusia dan alam menjadi sangat transaksional.

NBL menawarkan sebuah epistemologi tandingan (counter-epistemology) yang berbasis pada Rasa. Ritual ini membuktikan bahwa validitas hubungan manusia dengan semesta tidak melulu harus dirumuskan lewat angka-angka eksakta, melainkan dicapai melalui kemuncak kesadaran intuitif transendental, yakni rasa terima kasih (Nganuhunkeun) kepada Hyang Maha Pencipta. Epistemologi rasa ini menjadi counter-hegemony terhadap sains modern yang kerap abai pada etika lingkungan.

3. Aksiologi Spasial Dekolonisasi Ruang Melalui Kabuyutan

Secara aksiologis (nilai dari sebuah tindakan), keputusan untuk memusatkan ritual di kawasan Jayagiri dan Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, bukan sekadar pelestarian geografis, melainkan sebuah tindakan politik spasial.

Di bawah ancaman alih fungsi lahan yang masif oleh industri pariwisata dan properti, NBL mengidentifikasi kembali kawasan ini sebagai Kabuyutan (loka suci). Berpijak pada hukum adat purba, Kabuyutan adalah ruang yang haram dirusak, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Langkah ini merupakan bentuk dekolonisasi ruang, sebuah perlawanan terhadap tata ruang kapitalistik yang menegaskan bahwa ada batas-batas ekologis yang tidak boleh dijamah oleh nalar pasar.

Naraga Ragana Nagara Sebagai Etika Politik Menggugat Negara

Lebih dari sekadar urusan konservasi lingkungan, Ngertakeun Bumi Lamba mengartikulasikan kritik etika politik yang sangat tajam bagi penguasa modern. Dengan mereaktualisasi manuskrip hukum abad ke-13 (Amanat Darmasiksa) dan naskah abad ke-16 (Sanghyang Siksakanda ng Karesian), ritual ini menegaskan doktrin Naraga Ragana Nagara (di dalam raga kita, terlekat raganya negara).

Melalui doktrin ini, institusi negara digugat untuk melepaskan nalar korporatnya dan kembali pada fungsi konstitusional ekologis. Ritual ini menjadi instrumen untuk mengadili indikator kesejahteraan modern. NBL mengingatkan bahwa kemakmuran (kerta) suatu bangsa tidak boleh diukur dari angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas atau produk domestik bruto, melainkan dari:

  • Halaman dan jalanan yang bersih dari residu industri.
  • Hutan dan tetumbuhan yang hijau subur (hejo lembok).
  • Lumbung pangan rakyat yang terisi penuh (leuit kaeusi).
  • Kesehatan serta kedamaian hidup manusia sedunia (sama wong sarat).

Solidaritas Kosmo-Politik dalam Penyatuan Air

Perlawanan kultural ini dikunci secara simbolik melalui Prosesi Penyatuan Air. Konsep ini mengambil inspirasi dari narasi sejarah Patanjala, yaitu jalannya aliran air yang mengalir dari hulu Gunung Sunda Purba ke empat penjuru mata angin sebagai simbol sumber pengetahuan peradaban.

Ketika air dari berbagai daerah terjauh dikumpulkan kembali untuk disatukan, prosesi ini bertransformasi menjadi sebuah taktik konsolidasi solidaritas. Air yang datang dari berbagai titik geografis merepresentasikan simpul-simpul perlawanan masyarakat yang mengalami penindasan ekologis serupa akibat ekspansi industri.

Menyatukan air dalam ritual ini bukan sekadar urusan estetika adat, melainkan sebuah seruan kosmo-politik. Ritual Ngertakeun Bumi Lamba menegaskan bahwa mempertahankan daur hidup semesta dan menjaga integritas ekologi adalah basis tertinggi dari kedaulatan pertahanan sebuah bangsa.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *