38°C
23/06/2026
Budaya

Filosofi Ibu Bumi Bapak Angkasa di Ngertakeun Bumi Lamba ke-18, Sebuah Refleksi Moral di Tengah Krisis Lingkungan

  • Juni 23, 2026
  • 3 min read
Filosofi Ibu Bumi Bapak Angkasa di Ngertakeun Bumi Lamba ke-18, Sebuah Refleksi Moral di Tengah Krisis Lingkungan

INFO BANDUNG BARAT – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan modernisasi, manusia modern justru dinilai semakin jauh dari akar kehidupannya. Kemampuan menembus ruang angkasa dan menciptakan kecerdasan buatan tampaknya belum berbanding lurus dengan kebijaksanaan dalam membaca tanda-tanda alam.

Pesan reflektif inilah yang mengemuka dalam upacara sakral Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 yang digelar di Gunung Tangkuban Parahu. Mengusung tema “Ibu Bumi, Bapak Angkasa”, momentum budaya ini hadir bukan hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan sebuah panggilan nurani untuk memulihkan hubungan antara manusia dan alam.

Mayjen TNI (Purn.) Prof. H.C. Dr. Rido Hermawan, M.Sc selaku Pembina Keluarga Besar Ngertakeun Bumi Lamba menyampaikan kegelisahannya atas kondisi manusia modern yang dinilai kehilangan kepekaan.

“Kita semakin pandai membaca angka, tetapi mulai sulit membaca tanda-tanda alam. Kita semakin fasih berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi mulai lupa menghitung berapa banyak mata air yang mengering, berapa banyak hutan yang hilang, dan berapa banyak nilai-nilai luhur yang kita tinggalkan,” ungkap Mayjen Rido. Beliau lantas mengingatkan kembali petuah karuhun Sunda, yaitu “urang ulah nepi ka leungit rasa” atau jangan sampai manusia kehilangan kepekaan hatinya.

Tema “Ibu Bumi, Bapak Angkasa” sendiri menyimpan kedalaman filosofi hidup yang melampaui untaian kata puitis. Bumi disebut sebagai ibu karena karakternya yang selalu memberi tanpa pamrih. Bumi menyediakan air, tanah, udara, dan ruang kehidupan. “Ibu bumi terus memberi, meskipun sering kali dilukai,” tambahnya, merujuk pada maraknya penebangan hutan, pencemaran sungai, hingga lautan yang dipenuhi sampah.

Sementara itu, angkasa disebut sebagai bapak karena mengajarkan keluasan pandangan, kebijaksanaan, keteguhan, dan tanggung jawab. Angkasa mengingatkan manusia bahwa hidup tidak boleh hanya untuk diri sendiri, melainkan ada generasi yang akan datang dan ada amanah yang harus ditunaikan. Filosofi ini sejatinya adalah ajaran tentang kasih sayang, cara menerima dengan penuh syukur, dan menjaga dengan penuh hormat.

Menyoroti perubahan iklim dan rentetan bencana yang kian marak, Mayjen Rido menegaskan bahwa fenomena tersebut mungkin bukanlah amarah alam, melainkan tangisan seorang ibu yang terlalu lama diabaikan oleh anak-anaknya.

“Sebab sesungguhnya, krisis lingkungan bukan semata-mata krisis ekologi. Ia adalah krisis moral, krisis spiritual, krisis kesadaran,” tegasnya. Kerusakan alam sering kali berawal dari kerusakan cara pandang ketika keserakahan dianggap sebagai kewajaran dan keuntungan dinilai lebih penting daripada keberlangsungan hidup.

Para leluhur telah lama memperingatkan hal ini lewat pesan “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” (gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak). Ajaran ini membuktikan bahwa para pendahulu memahami betul bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kehancuran.

Oleh karena itu, perhelatan ini menjadi momentum ikhtiar untuk membangunkan kesadaran kolektif. Siapa pun kita, memiliki tanggung jawab yang sama. “Karena sesungguhnya, menanam pohon adalah ibadah. Menjaga mata air adalah ibadah. Merawat budaya adalah ibadah. Menghormati sesama manusia adalah ibadah. Dan cinta kepada bumi adalah wujud syukur atas karunia Sang Pencipta,” pesannya.

Di pengujung acara, seluruh hadirin diajak untuk memperbarui janji batin agar tidak menjadi generasi yang sekadar mengambil dari bumi dan mewariskan kerusakan. Sebaliknya, manusia harus menjadi generasi pemulih yang bersedia memelihara, menjaga, dan memuliakan kehidupan demi kelestarian alam bagi anak cucu kelak.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *