Eyang Dalem Raden Ibrahim, Ulama yang Membuat Belanda Gagal Menangkapnya
INFO BANDUNG BARAT — Kisah penyebaran agama Islam di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat seolah tidak pernah habis untuk ditelusuri. Salah satu tokoh dari Cipatik yang hingga kini masih menjadi magnet bagi para penziarah adalah Eyang Dalem Raden Ibrahim.
Kompleks makam beliau terletak di Kampung Tambakan, Desa Cipatik, Kecamatan Cihampelas, tepatnya di area pemakaman umum Pataruman. Lokasinya berada di seberang Pondok Pesantren Manba’ul Falah. Hingga kini, makam tersebut menjadi situs ziarah religi yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi masyarakat.
Eyang Dalem Raden Ibrahim dikenal sebagai ulama ahli tafsir yang berasal dari Cipatik. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kelebihan dibandingkan anak seusianya, berkat didikan keagamaan dari ayahnya, Eyang Dalem Anggayudha, seorang ulama terkemuka yang dimakamkan di Cicapar, Garut. Sementara itu, kakeknya, Eyang Rangga Abdul Gholib, juga merupakan ulama yang dimakamkan di Rancapanggung, Kecamatan Cililin.
Secara historis, sosoknya kerap dikaitkan dengan silsilah tokoh-tokoh Sunda terdahulu serta memiliki hubungan spiritual dengan jaringan penyebar Islam di Jawa Barat pasca-era Prabu Siliwangi.
Riwayat masa kecil dan kelahiran Raden Ibrahim tidak banyak tercatat dalam dokumen resmi. Informasi yang ada lebih banyak bersumber dari cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Kisah tersebut kerap disertai cerita luar biasa, termasuk karomah beliau yang konon mampu menghilang atau terbang saat dikepung masyarakat pada masa mudanya.
Menurut K.H. M. Muhyiddin Abdul Qadir Al-Manafi, M.A., Raden Ibrahim pernah menimba ilmu agama di pesantren di Surabaya hingga usia sekitar lima puluh tahun. Setelah itu, beliau menyebarkan ajaran Islam di Sumedang dan bahkan diminta oleh Pangeran Sumedang untuk menetap sebagai ulama di wilayah tersebut. Namun, beliau menolak dengan sopan dan memilih kembali ke Cipatik untuk mendirikan pesantren serta berdakwah di kampung halamannya.
Eyang Dalem Raden Ibrahim dikenal sebagai tokoh yang memiliki pendirian kuat. Ia pernah dikaitkan dengan jabatan “dalem” yang pada masa kolonial identik dengan pemimpin pemerintahan. Namun, tawaran tersebut ditolak. Penolakan ini membuat pemerintah kolonial Belanda geram hingga mengancam akan menangkap dan memenjarakannya.
Upaya penangkapan pun dilakukan. Namun, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pasukan Belanda yang datang tidak mampu memasuki wilayah Cipatik. Konon, ratusan tentara merasakan kesemutan pada kaki mereka saat mencoba melangkah masuk ke wilayah tersebut sehingga upaya penangkapan gagal.
Tidak berhenti di situ, Belanda kembali mengerahkan pasukan berkuda dalam jumlah besar. Namun, kejadian serupa kembali terjadi. Kuda-kuda yang ditunggangi tentara tiba-tiba mengamuk tanpa sebab, membuat pasukan menjadi kacau dan tidak dapat melanjutkan misi penangkapan.
Pada akhirnya, Belanda menyerah dan tidak lagi memaksakan kehendak agar Raden Ibrahim menjadi dalem. Sebagai alternatif, mereka meminta beliau menunjuk orang yang layak. Raden Ibrahim kemudian menunjuk adiknya, Eyang Abdurrahman, yang selanjutnya diangkat sebagai dalem dan keturunannya melanjutkan kepemimpinan di wilayah Bandung.
Pengaruh Eyang Dalem Raden Ibrahim juga terlihat dari keturunannya yang melahirkan banyak ulama berpengaruh, di antaranya KH Muhammad Hasan dari Sumedang serta KH Raden Muhammad Zarkasyi atau Mama Cibaduyut, yang turut berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam konteks sejarah lokal, Eyang Dalem Raden Ibrahim dipandang sebagai tokoh penting yang tidak hanya berperan dalam penyebaran agama, tetapi juga dalam pembentukan karakter masyarakat. Sosoknya dihormati sebagai waliyullah dan hingga kini tetap dikenang melalui tradisi ziarah serta cerita turun-temurun.