38°C
25/06/2026
Budaya

Mengulas Falsafah Tri Tangtu di Buana dalam Tradisi Nyeupah Sunda

  • Juni 25, 2026
  • 4 min read
Mengulas Falsafah Tri Tangtu di Buana dalam Tradisi Nyeupah Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan gaya hidup urban, keberadaan berbagai ritus serta tradisi komunal masyarakat Sunda kian hari kian jarang dijumpai di ruang publik. Salah satu warisan budaya takbenda yang perlahan mulai memudar adalah aktivitas nyeupah, yaitu sebuah kebiasaan mengunyah lintingan selembar daun sirih yang dipadukan dengan irisan biji pinang, kapur sirih, gambir, serta tambahan tembakau jepon di beberapa daerah tertentu. Bagi sebagian masyarakat modern, kegiatan ini mungkin hanya dipandang sebelah mata sebagai sekadar kebiasaan kuno yang lazim dilakukan oleh generasi lansia pada masa lampau. Padahal, jika dibedah secara sosiokultural, di balik kesederhanaan tradisi tersebut tersimpan kedalaman falsafah hidup yang mencerminkan cara pandang kosmologis masyarakat Sunda terhadap eksistensi manusia, semesta alam, dan Sang Pencipta.

Sejarah mencatat bahwa tradisi mengunyah sirih ini telah dikenal sejak berabad-abad silam di berbagai wilayah administrasi Tatar Sunda. Selain dipercaya secara empiris memiliki khasiat medis untuk menjaga kekuatan gigi serta kesehatan rongga mulut, aktivitas ini memegang peranan penting dalam merekatkan jalinan sosial kemasyarakatan. Dalam berbagai kesempatan interpersonal seperti saat berkumpul bersama kerabat, menyambut kedatangan tamu kehormatan, maupun sebagai sarana pelepas lelah selepas beraktivitas di ladang, nyeupah bertindak sebagai medium komunikasi yang akrab dan inklusif.

Representasi Kosmologi Pola Tiga dan Harmonisasi Tubuh Manusia

Lebih dari sekadar rutinitas harian, riset kebudayaan yang dilakukan oleh Andri Yadi Fardhani (2021) memaparkan bahwa nyeupah memuat konsep kosmologi pola tiga atau Tri Tangtu di Buana. Konsep ini merupakan pilar pandangan hidup masyarakat Pasundan yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas serta keseimbangan antara tiga unsur kehidupan. Dalam anatomi racikan seupah, biji pinang diposisikan sebagai simbol dari buana luhur atau dunia atas, kapur sirih melambangkan buana handap atau dunia bawah, sedangkan daun sirih bertindak sebagai poros penghubung yang merepresentasikan buana tengah, yakni hamparan bumi tempat manusia melangsungkan kehidupannya. Perpaduan ketiga unsur alam ini menegaskan pesan moral bahwa keharmonisan hakiki hanya akan tercapai apabila manusia mampu menyelaraskan hubungannya dengan alam lingkungan serta Tuhan Yang Maha Esa.

Di samping memetakan struktur makrokosmos semesta, susunan bahan-bahan organik di dalam seupah juga disimbolkan sebagai representasi mikrokosmos tubuh manusia itu sendiri. Buah pinang dan gambir diibaratkan sebagai komponen daging, kapur sirih yang putih dikonotasikan sebagai kekuatan tulang, sedangkan lembaran daun sirih bertindak sebagai lapisan kulit yang membungkus rapi seluruh organ bagian dalam tersebut. Pandangan antropologis ini menunjukkan kesadaran masyarakat Sunda bahwa manusia adalah satu kesatuan yang utuh, di mana setiap elemen biologis dan spiritual memiliki fungsi spesifik yang saling melengkapi satu sama lain.

Keselarasan Tekad, Ucapan, dan Tindakan Menghadapi Modernitas

Kedalaman falsafah lain dari tradisi lisan ini juga terpancar dari prosedur penyusunannya sebelum dikunyah oleh mulut. Sebelum mulai dikunyah, seluruh bahan racikan wajib disatukan dan dilipat secara presisi di dalam selembar daun sirih. Tahapan persiapan ini dimaknai secara mendalam sebagai simbol dari pematangan tekad, niat, atau tekad. Setelah dilipat, bahan-bahan tersebut kemudian dikunyah bersama-sama hingga melumat dan menyatu secara utuh, yang melambangkan manifestasi tindakan nyata atau lampah. Dari pertautan antara niat yang tulus dan perbuatan yang baik inilah nantinya akan melahirkan air sirih berwarna merah serta aroma segar, yang mengibaratkan lahirnya ucapan atau ucap yang bijaksana. Dengan demikian, nyeupah mengajarkan prinsip hidup yang sangat fundamental mengenai pentingnya menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Budayawan Jakob Sumardjo dalam berbagai tesis kebudayaannya turut menegaskan bahwa pola tiga merupakan struktur berpikir mendasar yang membentuk pola kebudayaan Sunda. Pola triadik ini tidak hanya muncul dalam ritus nyeupah, melainkan mengakar kuat dalam struktur cerita rakyat, tata ruang geografi tradisional, hingga simbol-simbol adat keraton. Realitas ini membuktikan bahwa nyeupah bukanlah sebuah kebiasaan domestik yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem nilai adiluhung yang diwariskan secara komprehensif.

Meskipun aktivitas fisik mengunyah sirih kini kian terpinggirkan oleh modernitas, upaya pewarisan nilai yang paling esensial sebenarnya terletak pada substansi maknanya. Melestarikan kebudayaan tidak berarti harus menduplikasi secara kaku seluruh kebiasaan material masa lalu, melainkan merevitalisasi nilai keseimbangan, saling menghargai, serta menjaga keharmonisan transendental dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan agar tetap relevan diimplementasikan oleh generasi muda saat ini.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *