Arti “Tèh”, “Euy”, “Atuh”, dan “Mah”: Partikel Khas yang Menghidupkan Bahasa Sunda
INFO BANDUNG BARAT — Bahasa Sunda dikenal sebagai bahasa yang lembut, ekspresif, dan sarat makna emosional. Salah satu keistimewaan yang membuatnya hidup adalah keberadaan kata-kata kecil seperti tèh, euy, atuh, dan mah yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Sekilas tampak sepele, namun keempat kata ini memiliki peran linguistik yang penting dalam menyampaikan rasa dan penekanan.
Menurut Prof. Dr. Cece Sobarna, Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, keempat kata tersebut termasuk dalam kategori partikel fatis, unsur yang tidak memiliki makna leksikal mandiri, tetapi berfungsi menegaskan emosi, nada, atau fokus dalam kalimat. Partikel-partikel ini adalah ciri khas tutur lisan bahasa Sunda modern, yang tidak selalu ditemukan dalam bahasa Sunda kuno. Cece menyebut, belum ada bukti bahwa kata-kata seperti tèh, euy, atuh, dan mah muncul dalam naskah Sunda lama, sehingga kemungkinan besar berkembang bersama kehidupan masyarakat Sunda masa kini.
Partikel tèh berfungsi untuk menegaskan atau memperjelas bagian tertentu dari kalimat. Misalnya dalam kalimat “Budak tèh gering” (anak itu sakit), partikel tèh digunakan untuk menandai siapa yang sedang dibicarakan. Dalam konteks linguistik, tèh juga sering menjadi penanda subjek yang memberi tekanan pada inti kalimat. Kajian dalam Jurnal Metamorfosis (2018) menyebutkan bahwa partikel tèh dan téa muncul di tengah atau di akhir kalimat sebagai bentuk penegas frasa.
Berbeda dengan tèh, partikel euy berfungsi menampilkan ekspresi rasa. Kata ini sering muncul dalam sapaan, seruan, atau bentuk keakraban, misalnya “Ka mana euy?” atau “Geulis euy!”. Penggunaan euy menunjukkan kedekatan sosial dan kehangatan dalam percakapan. Dalam Jurnal Bahasa dan Sastra Sunda (2019), Wahya menulis bahwa euy termasuk partikel fatis yang memperkuat ekspresi emosional tanpa memiliki fungsi gramatikal tetap.
Sementara itu, atuh memiliki fungsi yang lebih beragam. Ia bisa digunakan untuk menyatakan ajakan, penegasan, atau permintaan. Contohnya, “Dieu calik heula atuh!” memperlihatkan ajakan dengan nada halus. Dalam konteks lain, “Enya atuh, bener kitu” menjadi bentuk penegasan. Cece Sobarna menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan yang sepenuhnya mewakili makna atuh, karena itu kata ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bahasa Sunda. Artikel Detik.com (2022) bahkan menempatkan atuh sebagai kata panganteb, yakni penegas khas Sunda yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain di Nusantara.
Adapun partikel mah biasanya digunakan untuk menunjukkan perbandingan atau penekanan. Kalimat seperti “Abdi mah ti Bandung” (saya mah dari Bandung) menandakan adanya penegasan atau pembeda dari hal lain yang sedang dibicarakan. Dalam linguistik Sunda, mah dikenal sebagai penanda fokus yang membantu pembicara menyoroti bagian kalimat yang dianggap paling penting. Penelitian dalam Jurnal Metamorfosis (2018) juga menguatkan hal ini, bahwa mah berfungsi mempertegas perbedaan dan kontras dalam struktur kalimat.
Cece Sobarna menambahkan, partikel-partikel seperti tèh, euy, atuh, dan mah memperlihatkan bagaimana bahasa Sunda beradaptasi dengan dinamika sosial. Kemungkinan besar, kata-kata tersebut berakar dari sistem bahasa Austronesia, karena dalam banyak bahasa serumpun di Nusantara juga ditemukan partikel kecil yang memiliki fungsi sosial dan emosional serupa. Dalam buku “Struktur Basa Sunda” (1985) dijelaskan bahwa partikel Sunda bersifat fleksibel, dapat muncul di tengah atau di akhir kalimat tergantung maksud dan nada penutur.
Keberadaan kata-kata seperti tèh, euy, atuh, dan mah membuktikan bahwa bahasa Sunda bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk menjembatani rasa. Partikel-partikel kecil ini menjadikan percakapan terasa lebih hidup, hangat, dan penuh ekspresi. Di tengah arus modernisasi bahasa, unsur-unsur seperti ini adalah pengingat bahwa bahasa Sunda tumbuh bersama penuturnya, berubah, beradaptasi, namun tetap menyimpan keintiman budaya yang tak tergantikan.***