38°C
03/08/2026
Budaya Lingkungan Hidup

Bagaimana Kasepuhan Ciptagelar Bisa Memiliki Stok Padi hingga 95 Tahun ke Depan?

  • Maret 26, 2026
  • 3 min read
Bagaimana Kasepuhan Ciptagelar Bisa Memiliki Stok Padi hingga 95 Tahun ke Depan?

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah kekhawatiran dunia akan krisis pangan global, sebuah komunitas adat di kaki Gunung Halimun-Salak, Jawa Barat, justru menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik. Tanpa bergantung pada teknologi modern maupun rantai pasok global, mereka mampu menjaga ketersediaan beras hingga puluhan tahun ke depan. Rahasia ketahanan ini terletak pada kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu leuit.

Leuit bukan sekadar bangunan untuk menyimpan padi. Dalam penelitian Nugraha (2020), leuit dipahami sebagai bagian dari cara pandang hidup masyarakat Sunda, khususnya di Ciptagelar. Hal ini berkaitan dengan konsep opat kalima pancer, yakni ajaran kosmologis yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keselarasan antara alam dan Sang Pencipta. Menjaga padi berarti menghormati Nyai Pohaci Sanghyang Asri sebagai simbol pemberi kehidupan. Dalam kerangka ini, padi tidak dipandang sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai simbol kehidupan. Mandat leluhur yang dijaga sejak tahun 1368 mengharuskan warga memastikan keberlangsungan pangan.

Salah satu praktik utama yang dilakukan adalah menyisihkan sebagian hasil panen untuk disimpan. Setiap kali panen, masyarakat diwajibkan menyimpan sekitar 10 persen padi ke dalam leuit. Tradisi ini dilakukan secara konsisten selama ratusan tahun dan terbukti mampu menciptakan cadangan pangan yang sangat besar, bahkan disebut dapat bertahan hingga 95 tahun.

Dalam kebudayaan Sunda, sistem penyimpanan padi terbagi menjadi dua, sebagaimana dijelaskan oleh Jakob Sumardjo dalam bukunya Sunda: Pola Rasionalitas Budaya (2011). Pertama adalah goah, yaitu ruang penyimpanan pribadi di dalam rumah yang terletak dekat dapur (hawu). Ruang ini bersifat feminin dan tidak boleh dimasuki sembarang orang. Kedua adalah leuit, lumbung komunal yang berdiri di luar rumah. Bagi masyarakat, leuit bukan sekadar “bank sosial”, melainkan simbol keberlanjutan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Dari segi konstruksi, leuit dirancang secara cermat. Bangunan ini berbentuk panggung dengan bahan utama bambu dan kayu, sehingga memungkinkan sirkulasi udara berjalan secara alami. Kondisi ini menjaga kadar air padi tetap rendah, yaitu di bawah 14 persen, sehingga gabah tidak mudah rusak atau membusuk.

Selain itu, masyarakat Ciptagelar menggunakan teknik penyimpanan yang disebut pocongan, yaitu menyimpan padi bersama tangkainya. Cara ini membuat lapisan sekam berfungsi sebagai pelindung alami dari oksidasi dan serangan hama tanpa memerlukan bahan kimia seperti pestisida. Dengan metode tersebut, padi dapat bertahan dalam kondisi baik hingga puluhan tahun.

Manajemen penyimpanan padi juga dilakukan secara disiplin dengan prinsip first in, first out (FIFO). Artinya, padi yang lebih lama disimpan akan digunakan terlebih dahulu, sementara hasil panen terbaru disimpan untuk masa mendatang. Beberapa studi bahkan menunjukkan bahwa padi yang disimpan lebih lama memiliki kandungan antioksidan lebih tinggi sehingga baik bagi kesehatan.

Keberhasilan masyarakat Ciptagelar dalam menjaga ketahanan pangan menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu tertinggal dibandingkan teknologi modern. Kearifan lokal yang dijaga secara konsisten justru dapat menjadi solusi nyata dalam menghadapi tantangan global.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *