38°C
10/05/2026
Budaya

Nganteuran, Tradisi Sunda dalam Memaknai Kebersamaan di Hari Raya Idulfitri

  • Maret 26, 2026
  • 2 min read
Nganteuran, Tradisi Sunda dalam Memaknai Kebersamaan di Hari Raya Idulfitri

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah kemeriahan Hari Raya Idulfitri, masyarakat Sunda memiliki tradisi yang sarat makna, yaitu nganteuran. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan berbagi makanan, melainkan wujud nyata kasih sayang, penghormatan, dan keharmonisan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

Secara etimologis, nganteuran berasal dari bahasa Sunda yang berarti “mengantarkan”. Tradisi ini merujuk pada kebiasaan mengirimkan makanan khas Lebaran, seperti ketupat, opor ayam, lauk-pauk, hingga aneka kue, kepada keluarga, tetangga, atau kerabat. Umumnya, makanan dikemas dalam rantang bertingkat dan diantarkan oleh anggota keluarga yang lebih muda kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

Lebih dari sekadar berbagi hidangan, nganteuran memiliki makna sosial dan spiritual yang mendalam. Tradisi ini menjadi sarana mempererat silaturahmi serta memperkuat hubungan antarkeluarga dan masyarakat. Terdapat keyakinan bahwa makanan yang diterima dari orang lain terasa lebih nikmat karena mengandung rasa cinta, kepedulian, dan keikhlasan.

Berdasarkan Renungan Pagi Edisi Maret 2023 oleh Tim Kreatif Bahana (34:2023), nganteuran juga dikenal sebagai “tukar rantang”, yaitu kegiatan saling mengirim dan menerima makanan antarwarga. Tradisi ini menciptakan interaksi sosial yang hangat dan membangun kehidupan bertetangga yang harmonis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup.

Rantang bukan sekadar wadah makanan, melainkan simbol solidaritas sosial. Kehadirannya mencerminkan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan saling berbagi. Dalam konteks yang lebih luas, nganteuran juga menjadi bagian dari ajaran moral dan keagamaan, yaitu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan serta praktik tolong-menolong (ta’awun) antarsesama.

Namun, seiring perubahan zaman dan gaya hidup modern, tradisi nganteuran mulai jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan. Kesibukan, meningkatnya individualisme, serta pergeseran pola interaksi sosial membuat tradisi ini perlahan memudar. Saat ini, hanya beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Cianjur, yang masih berupaya melestarikannya.

Padahal, di balik kesederhanaannya, nganteuran menyimpan nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi, menghormati sesama, dan menjaga keharmonisan sosial. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung individualistis, nganteuran menjadi pengingat akan pentingnya kembali pada nilai-nilai kebersamaan.

Melestarikan nganteuran bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat jalinan kemanusiaan. Sebab, dalam setiap rantang yang diantarkan, tersimpan makna mendalam tentang cinta, kepedulian, dan harapan akan kehidupan yang lebih harmonis.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *