INFO BANDUNG BARAT — Di tengah diskursus kontemporer mengenai kesetaraan gender, sejarah Sunda menyimpan narasi yang membuktikan bahwa nilai penghormatan terhadap perempuan bukanlah gagasan baru. Jauh sebelum wacana kesetaraan berkembang seperti sekarang, masyarakat Sunda telah menempatkan sosok perempuan pada posisi strategis, mulai dari pemimpin kerajaan, guru spiritual, hingga panglima perang. Salah satu figur sentral yang merepresentasikan keluhuran tersebut adalah Batari Hyang Janapati, Ratu Kerajaan Galunggung pada abad ke-12.
Keberadaan Batari Hyang Janapati menegaskan bahwa dalam sejarah Sunda, perempuan dipandang berdasarkan kapasitas, kebijaksanaan, dan kemampuan dalam mengemban amanah, melampaui batasan jenis kelamin.
Pemimpin, Pendidik, dan Panglima
Menurut catatan sejarah, Batari Hyang Janapati memiliki nama asli Dewi Citrawati. Ia mulai memimpin Kerajaan Galunggung setelah suaminya, Resiguru Sukadarmawisesa, memilih untuk menempuh jalan hidup sebagai seorang resi. Sejak saat itu, ia memegang kendali penuh atas tata kelola pemerintahan, pembinaan kehidupan keagamaan, pengembangan pendidikan, hingga pengamanan wilayah kerajaan.
Dalam kajian filologi berjudul Batari Hyang Janapati dalam Perspektif Gender, Prof. Dr. Elis Suryani menjelaskan bahwa gelar “Batari” bukan sekadar atribut kebangsawanan, melainkan penanda kedudukan tinggi dalam bidang keagamaan. Batari Hyang Janapati dikenal sebagai Sang Sadu Jati, yaitu sosok guru yang memberikan tuntunan spiritual bagi masyarakat maupun kalangan bangsawan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan pada masa tersebut dipercaya sepenuhnya sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Selain aspek religius, ia juga mengembangkan Kabuyutan Galunggung sebagai pusat pendidikan bagi para cantrik. Di sana, mereka mempelajari pelbagai disiplin ilmu, mulai dari keagamaan hingga nilai-nilai kepemimpinan. Dedikasinya dalam membangun tradisi intelektual menunjukkan bahwa ruang gerak perempuan masa itu tidak terbatas pada ranah domestik, melainkan berperan aktif dalam membangun peradaban.
Tidak hanya mahir dalam urusan pendidikan dan pemerintahan, Batari Hyang Janapati merupakan sosok panglima yang tangguh. Ia memimpin pembangunan benteng pertahanan Rumatak dan menyusun strategi militer untuk melindungi wilayahnya. Namun, kepemimpinannya tidak serta-merta mengandalkan kekuatan fisik. Ia justru dikenal mahir dalam diplomasi, salah satunya melalui keberhasilannya mencapai kesepakatan pembagian wilayah antara Sunda dan Galuh dengan Prabu Langlangbumi melalui jalan musyawarah.
Warisan Nilai dan Relevansi Masa Kini
Kisah Batari Hyang Janapati memberikan gambaran komprehensif bahwa dalam tradisi Sunda, perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi sebagai pemimpin, pendidik, pemuka agama, maupun diplomat. Hal ini mencerminkan konsep keadilan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap individu untuk mengabdi kepada masyarakat.
Warisan nilai dari Batari Hyang Janapati menjadi pengingat bagi masyarakat modern bahwa upaya membangun lingkungan yang saling menghargai dan tidak merendahkan perempuan sejatinya merupakan upaya untuk meneruskan nilai luhur para leluhur. Dengan meneladani kebijaksanaan Sang Ratu, kita diingatkan bahwa menghormati peran perempuan adalah fondasi peradaban yang telah tertanam kuat dalam akar sejarah dan budaya Sunda sejak berabad-abad lalu.