Desa Bongas, Jejak Bojong Reunghas di Barat Cililin
INFO BANDUNG BARAT — Terletak di bagian barat Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebuah desa dengan bentang alam lembah dan perbukitan yang menyimpan jejak panjang sejarah masyarakat Sunda. Desa ini berjarak sekitar sepuluh kilometer dari pusat Kecamatan Cililin, memiliki luas sekitar 324 hektare dan dihuni oleh lebih dari lima belas ribu jiwa. Secara geografis, wilayahnya menjadi salah satu kawasan penting dalam perkembangan sosial dan keagamaan di wilayah barat Bandung.
Asal usul penamaannya berasal dari istilah Bojong Reunghas. Dalam bahasa Sunda, kata bojong berarti tegalan yang menjorok ke lembah, sedangkan reunghas adalah tumbuhan kayu yang menimbulkan rasa gatal saat tersentuh kulit. Penamaan ini tidak sekadar menunjuk kondisi alam, tetapi juga menggambarkan hubungan erat masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup. Sebagaimana tradisi masyarakat Sunda pada umumnya, toponimi atau penamaan wilayah sering mencerminkan karakter alam, tumbuhan, dan sejarah lokal yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Pada sekitar tahun 1930-an, kawasan di ujung Bojong Reunghas menjadi tempat berdirinya lembaga keagamaan bernama Babakan Ngabina Santri. Dalam bahasa Sunda, babakan berarti pembukaan lahan baru untuk tempat tinggal, sedangkan ngabina santri berarti mendidik dan mengajarkan ilmu agama Islam. Lembaga ini kemudian dikenal sebagai Pesantren Bongas dan menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di daerah Cililin. Kehadiran pesantren tersebut memperkuat kehidupan sosial masyarakat dan menjadi fondasi lahirnya desa yang secara administratif terbentuk pada tahun 1941.
Hingga dekade 1980-an, sebagian besar penduduk desa ini bekerja di sektor pertanian. Diperkirakan sekitar 80 persen warganya bergantung pada lahan sawah dan hasil bumi sebagai sumber penghidupan utama. Namun, keadaan berubah ketika pembangunan Waduk Saguling dimulai. Sebagian besar lahan pertanian tergenang air, memaksa masyarakat beradaptasi dengan kondisi baru. Dari perubahan inilah muncul sektor ekonomi baru: perikanan air tawar dengan sistem kolam jaring terapung. Warga yang semula petani beralih menjadi pembudidaya ikan dan pengusaha perikanan, memanfaatkan potensi waduk yang kini mengelilingi wilayah mereka.
Transformasi tersebut membawa dampak besar terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Nilai-nilai gotong royong yang dahulu menjadi ciri khas kehidupan pedesaan perlahan bergeser mengikuti pola kerja yang lebih individualistik. Sistem ekonomi yang baru menuntut kemandirian, kemampuan berinovasi, dan semangat kompetitif. Meski demikian, warisan religius dari pesantren yang telah berdiri sejak awal abad ke-20 tetap menjadi penopang moral dan spiritual masyarakat di tengah perubahan zaman.
Kini, desa di barat Cililin ini dikenal sebagai kawasan yang berhasil beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dari lembah yang dipenuhi vegetasi reunghas hingga permukaan air waduk yang luas, masyarakatnya menunjukkan daya tahan luar biasa. Mereka mampu mempertahankan identitas lokal di tengah arus modernisasi, menjaga keseimbangan antara iman, alam, dan kehidupan sosial. Sejarah desa ini bukan hanya tentang pergeseran ekonomi, tetapi juga tentang ketekunan masyarakat Sunda dalam merawat akar tradisi di tengah perubahan ruang dan waktu.***
Penulis: Ayu Diah Nur’azizah
Editor: Ayu Diah Nur’azizah