38°C
11/05/2026
Climate Edukasi

Godzilla El Niño dan IOD, Ancaman Nyata Iklim Ekstrem di Indonesia 2026

  • Maret 24, 2026
  • 3 min read
Godzilla El Niño dan IOD, Ancaman Nyata Iklim Ekstrem di Indonesia 2026

INFO BANDUNG BARAT — Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman fenomena iklim global. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa tahun 2026 akan ditandai dengan kemunculan El Niño kuat yang populer disebut sebagai “Godzilla”. Fenomena ini diperkirakan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memicu cuaca ekstrem dengan pola berbeda di tiap wilayah.

Mengutip keterangan BRIN pada Minggu (22 Maret 2026), El Niño diperkirakan berlangsung sejak April hingga Oktober 2026. Pada periode ini, pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik, sementara wilayah Indonesia mengalami kekurangan awan dan hujan.

Secara ilmiah, El Niño merupakan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini menggeser pusat pembentukan awan dan hujan ke tengah Pasifik sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih panjang, panas, dan kering.

Istilah “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan intensitas El Niño yang sangat kuat. Dalam kondisi ini, dampak yang ditimbulkan tidak lagi sekadar penurunan hujan biasa, tetapi dapat memicu kekeringan luas dan berkepanjangan.

Dalam Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa (2024) disebutkan bahwa El Niño berkaitan erat dengan penurunan curah hujan di Indonesia, bahkan dapat mengganggu produksi pertanian, termasuk penurunan produksi padi, terutama pada musim kemarau.

Di saat yang sama, Indian Ocean Dipole (IOD) positif menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa menjadi lebih dingin sehingga pembentukan awan semakin terhambat. Studi dalam Jurnal Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro (2013) menyebutkan bahwa IOD positif dapat memperkuat dampak El Niño, terutama dalam menurunkan curah hujan di wilayah barat Indonesia.

Ketika kedua fenomena ini terjadi secara bersamaan, dampaknya saling memperkuat. El Niño “menarik” hujan menjauh dari Indonesia, sementara IOD positif memperparah kondisi kering. Akibatnya, pola cuaca menjadi timpang. Wilayah barat dan selatan Indonesia, seperti Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, berpotensi mengalami kemarau lebih awal dan kering, yang mengancam sektor pertanian serta ketersediaan air, terutama di daerah lumbung padi.

Sebaliknya, wilayah timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera diperkirakan tetap mengalami curah hujan tinggi meskipun memasuki musim kemarau sehingga meningkatkan risiko banjir. Sementara itu, Sumatra dan Kalimantan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi yang semakin kering. Penelitian dalam Jurnal Kelautan (2025) menunjukkan bahwa kombinasi El Niño dan IOD positif dapat memperkuat anomali iklim serta meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Bahkan, penurunan curah hujan saat El Niño dapat mencapai 20 hingga 50 persen dari kondisi normal.

Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan dan ketersediaan air. Namun, di balik risiko tersebut, terdapat peluang, terutama dalam peningkatan produksi garam akibat musim kemarau panjang. Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia berpotensi menuju swasembada garam pada 2026–2027.

Menghadapi kondisi ini, kesiapan menjadi kunci. Pemerintah perlu memperkuat pengelolaan air dan mitigasi bencana, petani perlu menyesuaikan pola tanam, serta masyarakat perlu lebih bijak dalam penggunaan air dan waspada terhadap potensi kebakaran maupun banjir.

Fenomena Godzilla El Niño dan IOD positif menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan realitas yang harus dihadapi. Dengan adaptasi yang tepat, risiko dapat ditekan dan peluang tetap dapat dimanfaatkan.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *