Integrasi Gedung Sate dan Gasibu Dimulai, Wajah Baru Pusat Kota Bandung Segera Terwujud
INFO BANDUNG BARAT — Warga Bandung dan sekitarnya akan segera menyaksikan perubahan besar pada salah satu kawasan paling ikonik di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai merealisasikan proyek integrasi antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu sejak April 2026. Program ini tidak sekadar penataan ulang kawasan, melainkan upaya menyatukan dua ruang publik yang selama puluhan tahun terpisah oleh Jalan Diponegoro.
Selama ini, area depan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dibatasi ruas jalan yang padat kendaraan. Melalui proyek ini, bagian Jalan Diponegoro yang berada tepat di depan Gedung Sate akan ditutup secara permanen dan diubah menjadi plaza khusus pejalan kaki. Dengan demikian, kedua kawasan tersebut akan terhubung tanpa sekat dan membentuk ruang terbuka hijau yang luas di pusat kota.
Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa proyek ini memiliki sejumlah tujuan strategis. Salah satunya mengembalikan nilai historis kawasan, mengingat secara arsitektur Gedung Sate dan Gasibu berada dalam satu garis lurus sebagai sumbu utama kota. Penyatuan ini dinilai penting untuk memperkuat identitas Gedung Sate sebagai simbol pusat pemerintahan.
Selain itu, keberadaan ruang terbuka yang lebih luas juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari olahraga hingga kegiatan sosial, tanpa terganggu lalu lintas kendaraan.
Dari sisi transportasi, proyek ini diharapkan mampu mengurangi potensi kemacetan yang selama ini kerap terjadi, terutama saat ada kegiatan di Gedung Sate. Penutupan jalan yang sebelumnya bersifat situasional sering kali memicu kepadatan arus lalu lintas. Dengan pengalihan arus yang dirancang permanen, pergerakan kendaraan di sekitar kawasan tersebut diharapkan menjadi lebih tertib dan mudah diprediksi.
Pelaksanaan proyek ini didanai melalui APBD 2026 dengan nilai anggaran sekitar Rp12 miliar hingga Rp15,8 miliar. Pengerjaan dimulai sejak 8 April 2026 dan ditargetkan selesai pada Agustus 2026, sehingga kawasan baru ini dapat dimanfaatkan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dan Hari Jadi Jawa Barat.
Sejumlah pekerjaan utama yang dilakukan meliputi penyesuaian ketinggian jalan agar sejajar dengan area plaza, pembongkaran pagar pembatas, serta pembangunan jalur alternatif untuk pengalihan arus kendaraan.
Penutupan Jalan Diponegoro tentu membawa perubahan bagi pengguna jalan. Kendaraan dari arah Jalan Ir. H. Juanda tidak lagi dapat melintas langsung di depan Gedung Sate, melainkan harus melalui jalur baru yang mengitari sisi Lapangan Gasibu, termasuk area dekat Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.
Di tengah pembangunan yang berlangsung, aspek pelestarian sejarah tetap menjadi perhatian. Salah satu yang sempat menjadi kekhawatiran masyarakat ialah keberadaan Batu Prasasti Sapta Taruna. Pemerintah menegaskan monumen tersebut tidak akan dihilangkan, melainkan ditata ulang agar posisinya lebih menonjol dan tetap terjaga sebagai bagian dari nilai sejarah kawasan.
Secara keseluruhan, integrasi Gedung Sate dan Lapangan Gasibu menjadi langkah besar dalam penataan ruang Kota Bandung. Kawasan ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik modern yang memadukan unsur sejarah, kenyamanan, dan kebutuhan masyarakat. Jika berjalan sesuai rencana, perubahan ini akan menjadikan Bandung memiliki ruang terbuka ikonik yang dapat dibanggakan sekaligus menjadi salah satu pusat aktivitas kota yang representatif di Jawa Barat.