Kawih Pangeuyeukan dan Falsafah Menenun dalam Kosmologi Sunda Buhun
INFO BANDUNG BARAT — Di antara warisan intelektual Sunda Kuna, Kawih Pangeuyeukan merupakan salah satu naskah yang memperlihatkan bagaimana sastra, filsafat, dan kebudayaan bertemu dalam satu ruang makna. Naskah yang termuat dalam Kropak 407 ini sering dibaca sebagai puisi tentang menenun, tetapi sesungguhnya jauh melampaui itu. Ia merekam cara masyarakat Sunda Buhun memandang kehidupan melalui simbol-simbol yang dekat dengan keseharian. Menenun, dalam naskah ini, bukan hanya keterampilan, melainkan metafora untuk memahami keteraturan hidup dan semesta.
Seperti dicatat dalam penelitian Aditia Gunawan, Mamat Ruhimat, dan Tien Wartini dalam Kawih Pangeuyeukan: Tenun dalam Puisi Sunda Kuna, istilah “ngeuyeuk” tidak hanya bermakna merajut benang menjadi kain, tetapi juga menyiratkan tindakan menyusun, menata, dan merawat keseimbangan. Dari sini, menenun dimaknai sebagai laku filosofis. Hidup dipahami seperti helai benang yang harus dirajut perlahan, dijaga ketegangannya, dan disusun agar membentuk keutuhan. Gagasan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sunda lama memaknai kehidupan sebagai proses merawat harmoni.
Konsep harmoni itu juga tampak dalam simbol benang lungsin dan pakan yang berulang muncul dalam tafsir terhadap naskah ini. Dua unsur yang saling bersilang itu kerap dipahami sebagai perlambang dualitas yang saling melengkapi, seperti langit dan bumi, maskulin dan feminin, lahir dan batin. Sebagaimana tercermin pula dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian, pandangan hidup Sunda bertumpu pada prinsip keseimbangan. Dalam perspektif ini, tenun bukan sekadar produk kerajinan, tetapi citra kosmos yang dibangun dari pertemuan unsur-unsur berbeda dalam keselarasan.
Dimensi filosofis Kawih Pangeuyeukan juga terlihat dari cara naskah ini memosisikan aktivitas menenun sebagai pengetahuan. Menenun dipahami bukan sekadar kerja tangan, tetapi kerja batin. Seperti dicatat dalam berbagai kajian filologi Sunda Kuna, termasuk penelitian Elis Suryani NS, tradisi menenun sering kali terkait dengan pembentukan watak, seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, dan kehalusan rasa. Dalam konteks ini, kain menjadi hasil dari laku hidup, bukan sekadar hasil produksi.
Menariknya, perempuan dalam Kawih Pangeuyeukan tidak hadir hanya sebagai pelaku domestik, melainkan penjaga pengetahuan budaya. Penenun dalam naskah ini dapat dibaca sebagai figur yang merawat ingatan kolektif dan nilai-nilai hidup. Dalam banyak tradisi Nusantara, perempuan dan tenun memang kerap berkaitan dengan transmisi pengetahuan antargenerasi. Karena itu, kegiatan menenun dalam naskah ini juga dapat dipahami sebagai simbol pewarisan peradaban.
Hubungan manusia dan alam menjadi lapisan penting lain dalam teks ini. Citra bunyi burung, angin, tumbuhan, dan suasana alam yang hadir dalam Kawih Pangeuyeukan menunjukkan bahwa alam bukan sekadar latar, melainkan bagian dari struktur makna. Seperti banyak ditunjukkan dalam kajian kosmologi Sunda Buhun, manusia dipandang hidup di dalam tatanan alam, bukan di luar atau di atasnya. Menenun, dalam hal ini, seolah meniru ritme alam, berulang, teratur, dan harmonis.
Filosofi tersebut diperkuat oleh hadirnya berbagai pamali atau aturan yang berkaitan dengan proses menenun. Dalam pembacaan budaya, pamali bukan hanya larangan, tetapi bentuk etika yang membimbing laku hidup. Ada penghormatan pada proses, ketelitian dalam bekerja, dan kesadaran bahwa sesuatu yang indah lahir melalui disiplin. Seperti banyak nilai dalam tradisi Sunda, ajaran moral dihadirkan bukan melalui dogma, melainkan lewat simbol dan praktik keseharian.
Dalam beberapa tafsir, kain yang selesai ditenun bahkan dimaknai sebagai miniatur jagat raya. Ragam warna, pola, dan susunan benang dipandang merepresentasikan keteraturan kosmos. A. Teeuw dan Noorduyn dalam Tiga Pesona Sunda Kuna menunjukkan bahwa simbol-simbol visual dalam puisi Sunda lama sering berkaitan dengan pandangan dunia yang kosmologis. Dalam kerangka ini, tindakan menenun serupa tindakan mencipta, mengubah yang tercerai-berai menjadi tatanan yang utuh.
Di sinilah Kawih Pangeuyeukan menjadi menarik sebagai teks filsafat budaya. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Sunda lama tidak memisahkan kerja sehari-hari dari pemikiran metafisik. Aktivitas domestik justru menjadi medium untuk memahami keberadaan. Menenun menjadi bahasa simbolik untuk membicarakan hidup, relasi sosial, bahkan semesta. Sebuah pandangan yang memperlihatkan kedalaman intelektual tradisi Sunda Buhun.
Di tengah dunia modern yang serba cepat dan cenderung memisahkan manusia dari ritme alam, naskah ini terasa kembali relevan. Ia mengingatkan bahwa hidup yang baik bukan soal percepatan, tetapi soal keteraturan dan keseimbangan. Bahwa seperti benang dalam tenun, relasi manusia, alam, dan kehidupan harus terus dirawat agar tidak kusut. Dari Kawih Pangeuyeukan, kita belajar bahwa merawat hidup, pada dasarnya, adalah seni merajut semesta.