38°C
23/04/2026
Budaya

Mengenal Sistem Waktu Tradisional Sunda: Konsep Wanci sebagai Kearifan Lokal

  • April 23, 2026
  • 3 min read
Mengenal Sistem Waktu Tradisional Sunda: Konsep Wanci sebagai Kearifan Lokal

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah kehidupan modern yang serba diukur oleh jam digital, masyarakat Sunda pada masa lampau memiliki cara khas dalam memahami waktu melalui konsep wanci. Berbeda dengan sistem berbasis angka, wanci lahir dari pengamatan terhadap alam, aktivitas manusia, serta perilaku makhluk hidup di sekitarnya. Cara pandang ini mencerminkan kearifan lokal yang menegaskan eratnya hubungan dan harmoni antara manusia dengan lingkungan.

Secara sederhana, wanci merupakan sistem pembagian waktu tradisional masyarakat Sunda yang tidak menggunakan angka, melainkan tanda-tanda alam dan fenomena sosial sebagai penanda. Dalam sistem ini, waktu tidak hanya dibagi menjadi pagi, siang, dan malam, tetapi diuraikan lebih rinci ke dalam berbagai fase. Setiap wanci memiliki nama, makna, serta filosofi yang berkaitan dengan kondisi alam dan aktivitas manusia pada saat itu. Karena itu, waktu dipahami sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan sarat makna.

Pada malam hari, pukul 01.00 dikenal sebagai Tumorék, berasal dari kata torek (tuli), yang menggambarkan suasana sangat sunyi ketika hampir seluruh makhluk hidup terlelap. Memasuki pukul 02.00 disebut Janari Leutik, yaitu awal waktu sahur. Sementara pukul 03.00 disebut Janari Gedé, waktu sahur utama sekaligus saat yang diyakini baik untuk beribadah karena mulai mendekati fajar.

Selanjutnya, pukul 04.00 dikenal sebagai Kongkorongok Hayam, ditandai suara ayam berkokok sebagai penanda alam untuk memulai aktivitas. Waktu ini juga mengandung makna filosofis bahwa manusia hendaknya sigap bergerak dan tidak terlambat bekerja, sebagaimana ungkapan bahwa rezeki harus “dipatok ayam”.

Memasuki pagi, pukul 05.00 disebut Balébat, yakni waktu fajar saat cahaya kemerahan mulai tampak di ufuk timur. Pukul 06.00 dikenal sebagai Carangcang Tihang, ketika sinar matahari mulai menembus pepohonan dan mengenai tiang rumah, menandakan aktivitas masyarakat mulai ramai. Kemudian pukul 07.00 disebut Méléték Panonpoé, saat matahari terbit sempurna dan kegiatan harian berjalan penuh.

Pada pukul 08.00 terdapat Ngaluluh Taneuh, yang menandai dimulainya aktivitas petani di sawah dan ladang. Pukul 09.00 dikenal sebagai Haneut Moyan, waktu yang hangat dan sering dimanfaatkan untuk berjemur, termasuk dalam tradisi perawatan bayi. Adapun pukul 10.00 disebut Rumangsang, saat udara mulai terasa panas dan gerah.

Berlanjut ke pukul 11.00 terdapat Pecat Sawed, yaitu waktu istirahat bagi petani dan hewan pekerja setelah beraktivitas di ladang. Pukul 12.00 disebut Tangagé atau Manceran, yakni saat matahari berada di titik tertinggi dan udara sangat panas sehingga masyarakat biasanya berhenti sejenak untuk beristirahat.

Memasuki sore hari, pukul 13.00 disebut Lingsir Ngulon, yang menandakan matahari mulai bergeser ke arah barat. Pukul 14.00 dikenal sebagai Kalangkang Satungtung, saat panjang bayangan hampir sama dengan tinggi tubuh. Pukul 15.00 disebut Méngok, menggambarkan matahari yang seolah menoleh ke arah barat.

Selanjutnya pukul 16.00 disebut Tunggang Gunung, ketika matahari berada di atas punggung gunung dan hari mulai menjelang senja. Pukul 17.00 dikenal sebagai Sariak Layung, yang menggambarkan warna merah lembayung di langit. Pada pukul 18.00 disebut Sareupna atau Sande Kala, yaitu waktu magrib ketika hari mulai gelap.

Memasuki malam, pukul 19.00 terdapat Harieum Beungeut, yang menggambarkan suasana temaram. Pukul 20.00 disebut Sareureuh Budak, saat anak-anak mulai beristirahat. Pukul 21.00 dikenal sebagai Tumoké, yang ditandai suara tokek pada malam hari. Pukul 22.00 disebut Sareureuh Kolot, yakni waktu orang dewasa beristirahat.

Pukul 23.00 dikenal sebagai Indung Peuting. Indung berarti ibu, sedangkan peuting berarti malam, menggambarkan malam yang semakin dalam dan sunyi. Terakhir, pukul 24.00 disebut Tengah Peuting Ngaweng-Ngaweng, yakni tengah malam yang pekat dan hening.

Sistem wanci menunjukkan bahwa masyarakat Sunda tradisional tidak hanya mengukur waktu, tetapi juga merasakannya melalui alam. Setiap perubahan cahaya, suara, dan aktivitas menjadi penanda hidup, sehingga waktu bukan sekadar hitungan, melainkan bagian dari keseharian yang sarat nilai kehidupan.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *