38°C
23/04/2026
Budaya

Rahasia di Balik Penyebutan Nama Tuhan dalam Masyarakat Adat Sunda

  • April 23, 2026
  • 2 min read
Rahasia di Balik Penyebutan Nama Tuhan dalam Masyarakat Adat Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam kosmologi masyarakat adat Sunda, hubungan manusia dengan Sang Pencipta tidak hanya dibangun melalui laku spiritual, tetapi juga melalui tata krama lisan yang sangat dijaga. Salah satu fenomena menarik yang masih bertahan adalah keengganan melafalkan nama Tuhan secara langsung. Alih-alih menyebut nama Tuhan secara gamblang, masyarakat adat lebih memilih menggunakan gelar pengganti atau istilah simbolis sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Penggunaan istilah pengganti untuk menyebut hal-hal yang sakral merupakan bagian dari fenomena bahasa yang dikenal sebagai eufemisme budaya. Dalam banyak tradisi, termasuk Sunda, terdapat kebiasaan menggunakan bahasa halus atau simbolik untuk menjaga kesopanan sekaligus kesakralan suatu konsep.

Penggunaan istilah seperti Sang Hyang menjadi salah satu bentuk penghormatan tersebut. Istilah ini merujuk pada entitas yang suci, luhur, dan tidak boleh disebut sembarangan. Dalam kajian Jurnal Ledalero (2023), konsep ketuhanan ini dipahami sebagai bentuk henoteisme murni, yakni keyakinan terhadap satu Tuhan tertinggi yang berada di luar jangkauan indra manusia (niskala).

Dengan tidak menyebut nama Tuhan secara langsung, masyarakat adat menjaga agar makna kesakralan tidak mengalami penurunan menjadi sekadar rutinitas kata yang kehilangan ruhnya.

Sebagai pengganti nama diri, masyarakat adat Sunda lebih sering merujuk pada sifat-sifat Tuhan. Salah satu yang utama ialah Sang Hyang Kersa atau Nu Ngersakeun, yang berarti Yang Maha Berkehendak. Istilah ini menegaskan filosofi bahwa seluruh gerak semesta berlangsung atas kuasa-Nya.

Selain itu, dikenal pula sebutan seperti Gusti Sikang Sawiji-wiji atau Batara Tunggal untuk menekankan konsep keesaan Tuhan. Dalam perspektif Sunda Wiwitan, Tuhan dipahami sebagai zat yang maha asih dan maha kuasa, tetapi tetap harus ditempatkan dalam derajat tertinggi melalui bahasa yang santun.

Tradisi ini sekaligus mencerminkan etika komunikasi masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi undak usuk basa atau tata krama berbahasa. Hal ini sejalan dengan ajaran dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), yang menekankan pentingnya menjaga ucapan sebagai bagian dari integritas manusia. Berbicara mengenai sesuatu yang sakral secara langsung dianggap dapat mengurangi derajat kesuciannya.

Pada akhirnya, bagi masyarakat adat Sunda, Tuhan adalah Dzat yang lebih banyak dirasakan, disadari, dan dihayati dalam diam. Dengan membatasi lisan agar tidak menyebut nama Sang Pencipta secara sembarangan, mereka sesungguhnya sedang mengasah kepekaan batin.

Tradisi ini mengajarkan satu prinsip mendalam: penghormatan yang paling tulus sering kali tidak diucapkan keras-keras, melainkan dijaga rapat di dalam hati.

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *