Wisesa Asri dan Wisesa Asih Raih Sertifikasi Platinum GBCI, Perkuat Standar Hunian Hijau di Indonesia
INFO BANDUNG BARAT — Dua klaster hunian di kawasan Tatar Surawisesa, Kota Baru Parahyangan, yakni Wisesa Asri dan Wisesa Asih, resmi meraih sertifikasi Greenship Homes peringkat platinum dari Green Building Council Indonesia pada Februari 2026. Predikat tersebut menjadi capaian penting dalam pengembangan hunian berkelanjutan, sekaligus menegaskan meningkatnya perhatian sektor properti terhadap prinsip bangunan hijau.
Peringkat platinum merupakan level tertinggi dalam sistem sertifikasi GREENSHIP yang diberikan kepada bangunan dengan performa unggul dalam efisiensi energi, konservasi air, penggunaan material ramah lingkungan, serta kesehatan dan kenyamanan ruang. Wisesa Asri dan Wisesa Asih meraih 50 poin, melampaui batas minimum 46 poin untuk kategori tertinggi tersebut, menunjukkan penerapan standar keberlanjutan yang melampaui persyaratan dasar.
Capaian ini menjadi lebih istimewa karena kedua proyek tersebut merupakan yang pertama dinilai menggunakan GREENSHIP Homes versi 2.0 (Pilot Project Phase), sistem penilaian terbaru dari GBCI yang diperkenalkan pada September 2025. Versi ini menghadirkan pendekatan lebih progresif dalam menilai hunian hijau, termasuk pengukuran jejak karbon material, penggunaan material lokal, konsep rumah tumbuh, hingga kesiapan menuju bangunan net zero.
Dalam proses asesmen, penilaian dilakukan melalui enam kategori utama, yakni Appropriate Site Development (ASD), Energy Efficiency and Conservation (EEC), Water Conservation (WAC), Material Resources and Cycle (MRC), Indoor Health and Comfort (IHC), serta Building Environment Management (BEM). Dari enam kategori tersebut, aspek indoor health and comfort menjadi salah satu sorotan karena meraih nilai sempurna. Capaian ini menunjukkan hunian tidak hanya dinilai efisien secara lingkungan, tetapi juga mendukung kualitas hidup penghuni melalui sirkulasi udara yang baik, pencahayaan alami, kualitas material interior yang sehat, serta kenyamanan spasial yang terjaga.
Vice Chairperson Green Building Council Indonesia Ir. Prasetyoadi menegaskan capaian sempurna pada aspek kesehatan interior menunjukkan kualitas hunian yang berdampak langsung pada kesehatan penghuni. “Artinya orang yang tinggal di sini akan sehat secara hunian. Ini nilai plus yang besar. Berbeda dengan banyak hunian di tengah kota yang tingkat polusinya tinggi, material dalam ruangnya kurang baik, ventilasinya minim, pencahayaannya juga kurang,” ujarnya.
Menurut Prasetyoadi, aspek kesehatan ruang kerap luput dari perhatian dalam pengembangan perumahan, padahal justru menjadi fondasi kualitas hidup sehari-hari. Ia menilai keberhasilan pada kategori ini menegaskan rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang dirancang untuk mendukung kesejahteraan fisik dan mental penghuninya.
Selain itu, kategori building environment management juga menjadi salah satu komponen dengan poin tertinggi, bahkan melampaui banyak aspek penilaian lainnya. Prasetyoadi menyebut capaian ini menandakan keberlanjutan tidak berhenti pada desain, tetapi berlanjut dalam pengelolaan saat rumah dihuni. “Setelah punya rumah dan tinggal di sini, pengelolaan mandirinya akan mudah, terbantu dengan sistem seperti smart home. Jadi bukan hanya rumah hijau saat dibangun, tetapi keberlanjutannya juga berjalan saat dihuni,” katanya.
Sementara itu, Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali menegaskan pencapaian ini merupakan bagian dari komitmen yang dibangun secara sistematis oleh pengembang. Menurutnya, keberlanjutan tidak bisa dijalankan sendiri oleh developer, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. “Kami punya departemen khusus Social and Community untuk memastikan komitmen ini berjalan. Namun, kami juga sadar satu kota ini pemangku kepentingannya banyak, ada penghuni, tenant, broker, pengunjung, dan semuanya punya peran,” kata Ryan.
Ryan menambahkan, standar penilaian Green Building Council Indonesia yang ketat menjadi pijakan penting agar keberlanjutan tidak berhenti sebagai label semata. “GBCI punya rating yang cukup ketat dan standar yang tinggi. Yang dinilai bukan hanya bangunannya, tetapi performanya sebagai hunian dalam jangka panjang,” ujar Ryan.
Ia menilai kekuatan keberlanjutan justru lahir ketika komunitas di dalam kawasan ikut bergerak. “Penghuni maupun tenant tidak hanya hadir sebagai pengguna, tetapi punya inisiatif, bahkan menginspirasi yang lain untuk tetap berkegiatan hijau. Jadi keberlanjutannya tumbuh alami sebagai ekosistem,” ujarnya.
Sertifikasi platinum ini sekaligus memperkuat rekam jejak Kota Baru Parahyangan dalam pengembangan kawasan berbasis prinsip hijau. Sebelumnya, sejumlah kawasan seperti Tatar Tejakancana, Tatar Purbasari, dan Tatar Nilapadmi telah memperoleh sertifikasi Greenship Neighborhood dengan predikat emas. Rangkaian pencapaian itu memperlihatkan keberlanjutan tidak diterapkan secara parsial, melainkan menjadi pendekatan pengembangan kawasan secara menyeluruh.
Di tengah meningkatnya urgensi isu perubahan iklim dan transisi menuju pembangunan rendah karbon, pencapaian Wisesa Asri dan Wisesa Asih mencerminkan perubahan orientasi dalam industri properti. Hunian kini tidak lagi dipandang semata sebagai ruang tinggal, melainkan bagian dari solusi lingkungan dan kualitas hidup yang lebih baik, dengan kesehatan penghuni dan pengelolaan lingkungan sebagai fondasi utamanya.