Jajanan Jadul, Rasa yang Tak Pernah Hilang
INFO BANDUNG BARAT — Ada masa ketika kebahagiaan terasa sangat sederhana: uang seribu di saku, bel istirahat berbunyi, dan aroma jajanan memenuhi halaman sekolah. Jajanan bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita tentang antrean panjang, tangan lengket, dan tawa tanpa beban. Sebagian memang mulai jarang ditemui, tetapi kenangannya tetap hangat hingga kini.
1. Rambut Nenek (Arumanis)
Siapa yang tak mengenal jajanan manis selembut kapas ini? Arumanis biasanya diselipkan di antara dua keping kerupuk renyah, menciptakan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Dahulu, kehadiran penjual rambut nenek selalu ditandai dengan suara alat musik gesek tradisional bernada khas—cukup satu bunyi, anak-anak langsung berlarian. Rasanya seperti sihir kecil di tengah hari sekolah.
2. Cilung (Aci Digulung)
Cilung membuktikan bahwa jajanan sederhana bisa terasa istimewa. Tepung kanji yang kenyal digulung pada tusuk sate, dimasak di atas wajan panas, lalu dibalur bumbu pedas atau saus encer yang menggugah selera. Bahkan, hanya dengan menonton proses pembuatannya saja sudah membuat lapar. Tak heran jika hingga kini cilung sering muncul dalam konten nostalgia di media sosial.
3. Telur Gulung
Telur gulung bukan sekadar telur goreng biasa, melainkan hasil keahlian memutar tusuk sate di dalam minyak panas dengan kecepatan dan ketepatan. Sekali putaran berhasil, telur pun melilit rapi. Rasanya gurih, aromanya menggoda, dan selalu berhasil membuat dompet menipis, tetapi hati terasa senang.
4. Es Goyang
Sesuai namanya, es ini dibuat dengan cara digoyang hingga adonan membeku di dalam cetakan. Setelah itu, es dicelupkan ke dalam cokelat cair yang langsung mengeras, menciptakan lapisan tipis yang “kriuk” saat digigit. Di tengah teriknya siang hari, es goyang menjadi penyelamat selepas jam pelajaran yang panjang.
5. Kue Leker
Jauh sebelum istilah crêpes populer, kue leker sudah lebih dulu mengisi daftar jajanan favorit. Tipis, garing, dan harum, kue ini biasanya diisi irisan pisang, gula, dan cokelat meses. Bunyi “krek” saat digigit menghadirkan kepuasan sederhana yang sulit dilupakan.
Menariknya, sebagian besar jajanan tersebut tidak benar-benar hilang. Telur gulung, cilung, dan kue leker masih mudah ditemui di sekitar sekolah, pasar malam, hingga festival kuliner. Bahkan, beberapa di antaranya kini hadir dengan varian rasa kekinian tanpa meninggalkan cita rasa aslinya.***
Penulis; Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah