Jejak Moksa Raden Rangga Manik dan Simbol Sangkur Raksasa dalam Lanskap Sejarah Gunung Manik Citatah
INFO BANDUNG BARAT — Di hamparan Karst Citatah, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, berdiri Gunung Manik, sebuah tebing batu kapur yang bukan hanya menyimpan jejak geologis purba, tetapi juga lapisan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat. Lanskapnya yang terjal dan kokoh menjadikannya penanda visual di jalur Bandung–Cianjur. Namun lebih dari itu, Gunung Manik adalah ruang tempat mitos, spiritualitas, dan sejarah modern bertemu dalam satu bentang alam.
Nama Gunung Manik berkaitan dengan sosok Raden Rangga Manik, seorang ningrat yang dalam tradisi lisan setempat dikisahkan melakukan tapa hingga mencapai moksa atau menghilang secara spiritual. Kisah ini diwariskan secara turun-temurun dan menguat dalam ingatan masyarakat sebagai asal-usul sakralitas gunung tersebut, sebagaimana diangkat dalam laporan Suara.com (2022) yang menelusuri cerita lokal mengenai pertapaan dan pesan terakhir sang ningrat agar tempat itu dijaga serta dihormati.
Dalam perspektif sejarah kebudayaan Sunda, praktik tapa atau semedi di tempat sunyi seperti gunung bukanlah hal asing. Gunung dipandang sebagai ruang liminal atau penghubung antara dunia manusia dan kekuatan adikodrati. Sejarawan Edi S. Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (2005) menjelaskan bahwa laku spiritual semacam itu kerap dijalani oleh bangsawan atau tokoh tertentu sebagai jalan pencarian kesempurnaan batin dan penguatan legitimasi moral. Dengan demikian, kisah Raden Rangga Manik dapat dipahami bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari pola kosmologi dan tradisi spiritual yang hidup dalam masyarakat Sunda.
Memasuki babak sejarah modern, identitas Gunung Manik bertambah satu lapisan makna melalui hadirnya struktur menyerupai sangkur atau belati raksasa yang tampak tertancap di puncak tebing. Dari kejauhan, bentuknya mencolok dan kerap memancing imajinasi publik. Berbagai tafsir bermunculan, mulai dari simbol mistis hingga pertanda alam. Namun catatan sejarah menunjukkan bahwa sangkur tersebut merupakan monumen yang dibangun pada 2004 oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) TNI AD. Kawasan Gunung Manik sendiri telah digunakan sebagai lokasi latihan militer sejak dekade 1960-an, pada masa RPKAD yang kemudian dikenal sebagai Kopassus.
Di sinilah Gunung Manik menemukan posisinya sebagai lanskap sejarah yang utuh. Ia bukan hanya ruang sakral tempat seorang ningrat diyakini moksa, tetapi juga ruang institusional yang mencatat perjalanan militer Indonesia. Tebing-tebingnya menjadi saksi laku spiritual masa lampau sekaligus disiplin keras latihan para prajurit. Alam karst yang diam itu menyimpan dua arus waktu, tradisi dan modernitas.
Gunung Manik hari ini berdiri sebagai simbol bagaimana sejarah tidak selalu hadir dalam prasasti atau arsip resmi semata. Ia juga hidup dalam cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi, dalam tafsir masyarakat atas simbol yang tertancap di puncak tebing, dan dalam lanskap yang terus berubah oleh zaman. Di Citatah, batu, cerita, dan sejarah menyatu, membentuk narasi yang menjadikan Gunung Manik lebih dari sekadar gunung, ia adalah ruang ingatan.***