Jejak Sejarah Kolonial dan Harmoni Air dalam Tradisi Ngalokat Cai di Ciburuy
INFO BANDUNG BARAT — Ciburuy merupakan salah satu wilayah permukiman yang telah dikenal sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Nama daerah ini tercatat dalam sejarah awal abad ke-19, tepatnya pada kurun waktu 1808–1811, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels, membangun Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer. Jalan yang menghubungkan ujung barat dan timur Pulau Jawa tersebut melintasi kawasan Ciburuy, menjadikan wilayah ini bagian dari jalur strategis pada masa kolonial. Secara administratif, Ciburuy merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Selain menyimpan jejak kolonial, Ciburuy juga dikenal melalui keberadaan Situ Ciburuy yang menjadi pusat kehidupan masyarakat setempat. Situ ini pada awalnya terbentuk dari pertemuan dua aliran sungai kecil di wilayah desa. Pada 1918, pertemuan kedua sungai tersebut dibendung, kemudian aliran airnya diatur untuk mengairi persawahan warga. Sejak saat itu, Situ Ciburuy tidak hanya berfungsi sebagai sumber irigasi, tetapi juga menjadi simbol ketergantungan masyarakat terhadap air sebagai penopang utama kehidupan.
Hubungan masyarakat Ciburuy dengan air tidak berhenti pada aspek pemanfaatan semata. Desa ini juga dikenal sebagai wilayah yang kaya akan warisan budaya, salah satunya melalui Upacara Adat Ngalokat Cai yang masih lestari hingga kini. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan terhadap air yang dipandang sebagai sumber kehidupan yang suci dan perlu dijaga keseimbangannya. Tradisi tersebut tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Dalam bahasa Sunda, kata ngalokat berarti mengambil atau memindahkan, sedangkan cai berarti air. Secara keseluruhan, Ngalokat Cai dimaknai sebagai ritual pengambilan atau pemindahan air dengan tujuan tertentu. Upacara ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-19 dan menjadi bagian integral dari adat istiadat masyarakat Sunda, khususnya di wilayah yang menggantungkan kehidupan pada pertanian dan ketersediaan air.
Pelaksanaan Upacara Ngalokat Cai erat kaitannya dengan kepercayaan dan mitologi lokal. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan dengan ritual ini adalah Sanghyang Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan dalam kepercayaan masyarakat Sunda. Dewi Sri dipercaya sebagai pemberi kemakmuran melalui aliran air yang menghidupi sawah dan ladang. Sumber air yang digunakan dalam upacara ini juga diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh atau makhluk gaib, sehingga diperlakukan dengan penuh rasa hormat.
Ritual Ngalokat Cai biasanya diiringi doa dan persembahan sebagai wujud permohonan agar aliran air tetap terjaga dan membawa keberkahan bagi masyarakat. Melalui prosesi ini, masyarakat diajak untuk kembali mengingat peran air sebagai unsur penting dalam kehidupan, sekaligus sebagai titipan alam yang tidak boleh dirusak. Tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan budaya yang menanamkan nilai tanggung jawab ekologis sejak dini.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah