Jejak Syiar Islam dan Kearifan Agraris yang Membentuk Akar Sejarah Desa Citalem
INFO BANDUNG BARAT — Di balik setiap lekuk jalan, rimbunnya pepohonan, dan hamparan sawah di tanah Parahyangan, selalu tersimpan peninggalan masa lalu yang menanti untuk diceritakan. Sebuah desa bukanlah sekadar garis batas administratif di atas peta, melainkan sebuah denyut nadi kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikian pula halnya dengan Desa Citalem, yang bernaung di bawah sejuknya udara Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.
Sejarah Desa Citalem merupakan sebuah epik lokal yang kaya akan warna. Kisahnya merajut berbagai dimensi peradaban manusia mulai dari tapak suci para pendakwah Islam, kearifan lokal masyarakat agraris yang menyatu dengan alam, hingga sebuah prosesi musyawarah sakral yang melahirkan identitas desa tersebut. Mengkaji sejarah Citalem berarti kita sedang membuka lembaran-lembaran memori yang dikonfirmasi oleh berbagai sumber tertulis maupun lisan untuk memahami jati diri masyarakatnya hari ini.
Angin Syiar dari Cirebon dan Jejak Eyang Direja Atas Angin
Babak pertama dari hikayat Citalem tidak bisa dilepaskan dari aroma religiusitas yang pekat. Jauh sebelum wilayah ini memiliki struktur birokrasi pemerintahan yang modern, narasi besar Citalem dimulai dari sebuah misi suci penyebaran agama Islam. Berdasarkan catatan dalam dokumen resmi Profil Desa Citalem pada bagian sejarah desa, tokoh sentral dalam epos ini adalah Eyang Raden Haji Dalem Muhamad Syafei. Beliau merupakan seorang ulama kharismatik keturunan Cirebon yang di kalangan masyarakat lokal lebih masyhur dengan julukan Eyang Direja Atas Angin.
Gelar “Atas Angin” dalam tradisi historis Nusantara sering kali disematkan kepada sosok linuwih yang datang dari wilayah jauh untuk membawa pencerahan, atau merujuk pada kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Merujuk pada riwayat tutur dan kesaksian sejumlah tokoh masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, Eyang Direja Atas Angin mengemban amanah besar untuk merentangkan sayap dakwah Islam ke ufuk barat Jawa Barat. Kedatangannya tidak sekadar membawa ajaran teologis, melainkan juga meletakkan dasar tata cara hidup, adab, dan tatanan sosial yang baru bagi masyarakat setempat.
Jejak langkah penyebaran Islam Eyang Raden Haji Dalem Muhamad Syafei terekam kuat di kawasan Cijenuk. Di sanalah beliau menghabiskan sisa usianya dalam pengabdian kepada umat, hingga akhirnya wafat dan disemayamkan di makam Cijenuk yang kini menjadi salah satu situs peziarahan bernilai historis. Sepeninggal beliau, nyala api dakwah terus dihidupkan. Sebagian pengikut setianya mulai bergerak, membuka lahan, dan membangun perkampungan baru di kawasan Babakan. Komunitas di Babakan inilah yang secara historis diyakini sebagai cikal bakal dari entitas masyarakat Desa Citalem.
Meski kisah Eyang Direja Atas Angin begitu hidup dalam urat nadi tradisi lisan, historiografi yang obyektif memosisikan cerita yang diwariskan masyarakat ini sebagai bagian penting dari ingatan masyarakat.
Zamrud Agraris di Atas Tanah yang Subur
Selain dihidupi oleh napas spiritualitas, peradaban Citalem dibangun di atas fondasi tanahnya yang sangat subur. Citalem adalah potret ideal dari kearifan agraris masyarakat Sunda. Mengacu pada data historis dalam Profil Desa Citalem, wilayah ini sejak dahulu kala terekam sebagai lumbung kemakmuran yang menghasilkan aneka ragam komoditas bumi unggulan, mulai dari padi, jagung, ketela, sayur-sayuran, hingga berbagai jenis palawija.
Kesuburan tanah Citalem bukanlah kebetulan semata, melainkan paduan antara berkah geografis dan etos kerja masyarakatnya. Pada masa silam, pertanian di Citalem bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk menyambung hidup, tetapi juga sebuah ritus kebudayaan. Pertanian membentuk hubungan yang sangat erat antara masyarakat dengan tanah yang mereka kelola.
Harmoni antara ajaran Islam yang dibawa oleh para leluhur dan budaya agraris ini menciptakan tatanan masyarakat yang makmur dan mandiri. Riwayat agraris Citalem memberikan pembuktian sosiologis bahwa sejarah sebuah desa tidak hanya dibangun melalui rentetan peristiwa besar atau tokoh-tokoh elite yang dikenal luas, melainkan juga diukir oleh keringat, pekerjaan, dan kehidupan masyarakat yang berlangsung secara konsisten dari generasi ke generasi.
Filosofi Talem, Kuliner Tradisional, dan Musyawarah Pembentukan Nama
Di balik kata “Citalem”, tersembunyi sebuah peristiwa linguistik dan kultural yang sarat makna. Nama ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari rahim musyawarah yang merupakan tradisi demokrasi akar rumput peninggalan leluhur Nusantara.
Penamaan desa ini dirembukkan oleh tiga tokoh pilar masyarakat pada masa itu, yakni Eyang Kartadibja, Sastrawidjaja, dan Atmawidjaya. Di antara triumvirat ini, Eyang Kartadibja muncul sebagai figur utama yang paling dikenal, disegani, dan didengar suaranya oleh masyarakat. Dari pemikiran dan kesepakatan ketiganya, diputuskanlah penggunaan nama “Citalem”.
Secara etimologis, “Citalem” mengambil akar kata dari talem. Dalam riwayat kesejarahan yang dikaitkan dengan kawasan Cijenuk, talem merujuk pada baki atau nampan sebagai wadah yang digunakan untuk menyajikan makanan, termasuk kue basah. Simbolisme talem ini sangatlah dalam karena baki adalah representasi dari pelayanan, penghormatan kepada tamu, dan simbol kelimpahan rezeki yang dibagikan kepada sesama.
Lebih jauh lagi, literatur sejarah lokal mencatat adanya korelasi antara nama desa dengan tradisi boga masyarakatnya. Keterangan mengenai tradisi kue basah di kampung sebelah utara Cijenuk dan kaitannya dengan asal-usul nama Citalem turut dibahas secara komprehensif dalam tulisan kajian Ansor Jabar mengenai sejarah kawasan Cililin dan sekitarnya. Hubungan erat antara istilah talem, tradisi pangan berupa kue basah, dan penamaan desa ini memperlihatkan tingginya kebudayaan masyarakat masa lalu, meski hal ini masih membuka ruang untuk ditelusuri lebih lanjut melalui pendekatan linguistik dan sejarah kebudayaan lokal.
Dinamika Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa
Buku sejarah Citalem pada akhirnya dirangkum oleh deretan nama-nama tokoh yang pernah menakhodai pemerintahan desa ini. Perjalanan pemerintahan Desa Citalem adalah cerminan langsung dari transisi zaman dari era kepemimpinan tokoh adat dan karismatik menuju era birokrasi pemerintahan desa modern.
Berdasarkan daftar kepala desa pada Profil Desa Citalem, tercatat ada 16 urutan kepemimpinan yang menjadi tonggak sejarah administratif desa. Silsilah kepemimpinan ini dimulai langsung oleh para tokoh perumus nama desa, yakni Eyang Karta Dibya, yang kemudian estafetnya diteruskan secara berurutan kepada Sastrawidjadja, KH. Idjudin, Atmawidjaya, Kartobi, H. Muhamad Nur, Mustopa, Sukirman, KH. Anatudin, Achmad Supardi, H. Somawidjaya, H. Atip Sudjana, Saepul Ridwan, A. Achmad Hidayat, hingga Mauludin Sofyan yang mengemban amanah pada periode kepemimpinan 2015–2021.