38°C
28/07/2026
Budaya

Kecerdasan Linguistik Orang Sunda: Mengenal ‘Kirata Basa’ dan Filosofi di Balik Akronim Jenaka

  • Juli 4, 2024
  • 3 min read
Kecerdasan Linguistik Orang Sunda: Mengenal ‘Kirata Basa’ dan Filosofi di Balik Akronim Jenaka

INFO BANDUNG BARATMasyarakat Sunda dikenal memiliki selera humor yang tinggi dan kreativitas yang luar biasa dalam mengolah kata. Salah satu manifestasi keunikan linguistik yang melekat kuat dalam komunikasi sehari-hari adalah kegemaran menyingkat kata atau kalimat menjadi akronim yang terdengar jenaka, sederhana, tetapi sarat akan makna filosofis. Fenomena kebahasaan ini populer disebut sebagai Kirata Basa.

Merujuk pada Kamus Bahasa Sunda, istilah kirata itu sendiri sejatinya merupakan sebuah akronim dari frasa: “dikira-kira sugan nyata”. Frasa tersebut mengandung arti harfiah berupa perkiraan atau asumsi yang dibuat sedemikian rupa hingga mendekati realitas, keadaan, atau esensi dari benda dan sifat kata yang dimaksud.

Definisi dan Esensi ‘Kirata Basa’

Secara sosiolinguistik, Kirata Basa dapat diartikan sebagai metode memberikan tafsiran, rujukan, atau pemaknaan alternatif terhadap penamaan benda, tempat, peristiwa, maupun karakteristik sifat. Meskipun sering kali diidentikkan dengan candaan atau plesetan, metode ini sebenarnya mencerminkan kecerdasan, ketajaman analisis, dan kelenturan cara berpikir masyarakat Sunda dalam mengontekstualisasikan bahasa dengan realitas sosial di sekeliling mereka.

Beberapa contoh klasik dari Kirata Basa yang sangat akrab di telinga masyarakat antara lain:

  • Korsi (Kursi), merupakan akronim dari “cokor di sisi” yang berarti kaki di pinggir.

  • Doktor (Dokter), merupakan akronim dari “dokoh ka nu kotor” yang mengisyaratkan seseorang yang suka memeriksa atau telaten membenahi bagian tubuh yang sakit atau kotor.

  • Kirata, merupakan akronim dari frasa “dikira-kira sugan nyata” itu sendiri.

Dua Metode Pembentukan ‘Kirata Basa’

Dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, terdapat dua cara utama yang digunakan untuk merumuskan sebuah Kirata:

1. Metode Akrostik (Pengambilan Huruf Awal)

Metode pertama dilakukan dengan cara menyingkat kata berdasarkan deretan huruf awal pada setiap kata penyusun kalimatnya. Contoh fungsional dari metode ini dapat dilihat pada tafsiran kata Islam:

Menurut Kirata orang Sunda, kata Islam merujuk pada kewajiban salat lima waktu, yaitu: Isa (Isya), Subuh, Lohor (Zuhur), Asar, dan Magrib.

2. Metode Akronim Kontraksi (Pengambilan Suku Kata)

Metode kedua menggunakan teknik akronim konvensional, mirip dengan kaidah penyingkatan dalam bahasa Indonesia. Suku kata yang diambil bisa berada di bagian awal, tengah, atau akhir kata untuk membentuk satu kesatuan kata baru yang unik dan berima (purwakanti).

  • Comro, merupakan akronim dari “oncom di jero” untuk menggambarkan makanan olahan singkong dengan isian oncom di bagian dalam.

  • Dasi, merupakan akronim dari “dina dada ngarah aksi” yang mengindikasikan kain penunjang pakaian yang dipasang di bagian dada agar terlihat bergaya atau rapi.

Kesimpulan

Kirata Basa bukan sekadar humor pengisi waktu luang (guyonan), melainkan bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui Kirata, bahasa tidak lagi bersifat kaku, melainkan bertransformasi menjadi instrumen budaya yang dinamik, interaktif, dan penuh dengan kehangatan sosiologis khas masyarakat Sunda.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *