Perjuangan Nyi Raden Ningrum Kusuma dan Babad Ksatria Perempuan Kawedanaan Rongga
INFO BANDUNG BARAT — Sejarah wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat tidak hanya ditulis oleh jejak langkah para bupati dan kaum bangsawan pria, melainkan juga diukir dengan tinta emas oleh perjuangan heroik seorang ksatria perempuan bernama Nyi Raden Ningrum Kusuma. Tokoh pejuang perempuan asal Galunggung yang di kalangan masyarakat lokal akrab disapa dengan sebutan Eyang Istri ini merupakan separuh jiwa sekaligus panglima taktis di samping suaminya, Eyang Jena. Keberanian dan ketangguhan fisik Nyi Raden Ningrum Kusuma dalam memimpin pertempuran di sepanjang aliran Sungai Citarum pada abad ke-17 menjadi fondasi penting bagi tegaknya keamanan wilayah yang kelak berkembang menjadi eks-Kawedanaan Rongga purba.
Sebelum namanya diabadikan menjadi nama kecamatan kontemporer di samping Gununghalu, kata rongga memiliki keterikatan semantik yang sangat dalam dengan karakter perkasa Nyi Raden Ningrum Kusuma. Selain merujuk pada akronim rorompok para rangga (rumah tinggal para pejabat bergelar rangga), tradisi tutur lisan masyarakat lokal Sunda secara konsisten mengartikan rongga sebagai paduan kata rongkah (luar biasa) dan gagah. Sifat berani dan agung tersebut dinisbatkan secara khusus sebagai penghormatan atas karisma ekstradikari Eyang Istri saat menumpas komplotan penyamun militer bersenjata yang kala itu meneror penduduk tatar Pasundan.
Taktik Sirene Citarum dan Kehancuran Komplotan Badog Silalawi
Ujian terbesar bagi kepemimpinan militer Nyi Raden Ningrum Kusuma pecah ketika wilayah selatan Bandung bergejolak akibat masifnya aksi penjarahan oleh kelompok Badog Silalawi. Gerombolan kriminal jalanan ini bukan sekadar perampok amatir, melainkan sekumpulan tentara desersi dan sisa pasukan pemberontak Mataram bawahan Pangeran Trunojoyo yang melarikan diri pascaperistiwa runtuhnya Istana Amangkurat II. Kehadiran para buronan politik yang sadis ini memanfaatkan situasi transisi pemerintahan Kabupaten Bandung yang kala itu baru dialihkan dari Dipati Ukur kepada Tumenggung Wiraangunangun atau Raden Adipati Astamanggala.
Melansir dokumentasi kearsipan visual Kisah Tanah Sunda, ketika sisa pasukan pemberontak tersebut menguasai perimeter Sungai Citarum dan membuat lumpuh aktivitas logistik, Nyi Raden Ningrum Kusuma menolak untuk bersikap pasif. Ia merancang sebuah strategi perang gerilya yang sangat cerdik dan berbahaya di tengah lebatnya hutan belantara. Ksatria perempuan ini dengan berani memosisikan dirinya sendiri sebagai umpan di garda terdepan guna memancing konsentrasi musuh menggunakan tiruan suara perempuan di tepi sungai.
Saat gerombolan penyamun yang mengira mendapat mangsa mudah itu mulai mengepung dan lengah, Nyi Raden Ningrum Kusuma segera meniupkan komando ofensif kepada pasukan infanteri utama Eyang Jena yang telah bersiaga penuh di dalam semak belukar bantaran sungai. Serbuan mendadak yang dikomandani langsung oleh Eyang Istri ini berhasil memporak-porandakan formasi musuh, memaksa para perampok kocar-kacir hingga sebagian besar tewas di medan laga. Menariknya, nama-nama pemimpin bajak laut sungai yang berhasil ditumpas tersebut kemudian diabadikan menjadi penanda geografi wilayah di sekitar Citarum, sebelum akhirnya daratan kuno itu tenggelam akibat proyek pembangunan Waduk Saguling.
Warisan Peradaban Karanggan hingga Pemindahan Ibu Kota Cililin
Kemenangan taktis yang dipimpin oleh Nyi Raden Ningrum Kusuma menjadi titik balik bagi stabilitas keamanan wilayah pedalaman. Keberhasilan menumpas sisa pemberontak Trunojoyo tersebut membuat pemukiman awal yang didirikan pasukannya di tengah hutan, yang dinamai Karanggan atau tempat tinggal para Rangga sejak tahun 1689 Masehi, tumbuh menjadi pusat pemerintahan yang aman dan disegani. Kompleks pemukiman inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kawedanaan Rongga kuno dengan ibu kota pertama berada di Kampung Rongga, wilayah Kecamatan Cihampelas saat ini.
Atmosfer perjuangan ksatria perempuan ini tetap melekat kuat bahkan ketika roda modernisasi tata ruang menuntut perpindahan pusat administrasi publik. Di era berikutnya, ibu kota kawedanaan dialihkan menuju kawasan Sumur Bandung atau yang kini berfungsi sebagai Alun-Alun Cililin oleh Eyang Raksawijaya yang merupakan adik kandung dari Eyang Jena. Perubahan nama menjadi Kawedanaan Cililin tersebut menandai lahirnya era baru penataan wilayah Bandung Barat bagian selatan, yang fondasi keamanannya telah ditegakkan melalui cucuran keringat dan strategi brilian seorang Nyi Raden Ningrum Kusuma.
Hingga hari ini, kompleks makam keramat Eyang Istri dan Eyang Jena yang terletak berdampingan di tepi Sungai Citarum, Kecamatan Cihampelas, tetap berdiri tegak sebagai monumen pengingat bagi generasi muda. Situs sejarah tersebut membuktikan bahwa peradaban luhur di Bandung Barat lahir dari rahim perjuangan seorang perempuan tangguh yang berani berdiri di baris depan demi melindungi kedaulatan tanah kelahirannya.