38°C
21/03/2026
Budaya Sejarah

Legenda Desa Mukapayung: Kisah Mundinglaya di Balik Batu dan Alam Cililin

  • Januari 5, 2026
  • 3 min read
Legenda Desa Mukapayung: Kisah Mundinglaya di Balik Batu dan Alam Cililin

INFO BANDUNG BARAT — Legenda yang hidup dan dipercaya oleh masyarakat Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sejumlah situs batu yang tersebar di wilayah tersebut. Salah satu yang paling dikenal adalah Situs Batu Mundinglaya yang terletak di Kampung Cibitung. Menurut penuturan Ali Suharna, tokoh masyarakat setempat, sebagaimana tercatat dalam laman resmi Pemerintah Desa Mukapayung, kisah ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya warga.

Konon, pada masa lampau berdiri sebuah kerajaan yang menyelenggarakan sayembara besar untuk mencari jimat sakti bernama Salakadomas. Tidak diketahui secara pasti latar belakang penyelenggaraan sayembara tersebut. Namun, sang raja menjanjikan hadiah besar, yakni menikahkan putrinya dengan siapa pun yang berhasil menemukan jimat itu.

Di antara para peserta sayembara, terdapat dua ksatria kenamaan, yaitu Mundinglaya dan Ki Jongkrang Kalapitung. Waktu berlalu hingga akhirnya Mundinglaya berhasil menemukan jimat Salakadomas. Dengan niat baik, ia bermaksud mempersembahkan jimat tersebut kepada sang putri. Dalam perjalanannya, Mundinglaya ditemani sahabat setianya, Munding Dongkol.

Keberhasilan Mundinglaya rupanya diketahui oleh Ki Jongkrang Kalapitung. Didorong rasa iri dan ambisi, ia kemudian menyusun berbagai siasat untuk menyingkirkan Mundinglaya. Salah satu rencana tersebut dilakukan dengan memasang perangkap batu di aliran Sungai Cibitung, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Batu Langkob. Salah satu ujung batu panjang disangkutkan pada tebing, sementara ujung lainnya ditopang oleh batu penyangga. Ketika seseorang melintas, batu tersebut dapat dijatuhkan untuk menjepit korbannya.

Namun, rencana itu tidak sepenuhnya berhasil. Mundinglaya berhasil lolos dari perangkap, tetapi naas, Munding Dongkol justru tertimpa dan terjepit Batu Langkob hingga meninggal dunia. Hingga kini, dua Batu Langkob masih dapat ditemukan di aliran Sungai Cibitung. Salah satunya masih utuh, sementara yang lainnya telah runtuh. Batu-batu tersebut menjepit batu lain yang menyerupai tubuh kerbau (munding), yang dipercaya masyarakat sebagai perwujudan Munding Dongkol.

Tidak berhenti di situ, Ki Jongkrang kembali merancang tipu daya. Ia memasang sebuah cermin besar di sebelah barat yang memantulkan bayangan seolah-olah sang putri sedang bertetirah di atas sebuah bukit sambil berteduh di bawah payung. Padahal, bukit tersebut sebenarnya berada di sebelah timur, tepatnya di wilayah Kampung Mukapayung. Terbuai kebahagiaan karena mengira akan segera bertemu sang putri, Mundinglaya melangkah tanpa kewaspadaan.

Tanpa sepengetahuan Mundinglaya, Ki Jongkrang telah menggali cubluk atau lubang yang ditutupi dedaunan dan ranting. Mundinglaya pun terperosok ke dalam lubang tersebut dan tidak dapat bangkit kembali. Lokasi tempat Ki Jongkrang meletakkan cermin itu kini dikenal dengan nama Leuwi Eunteung. Sementara itu, batu yang dipercaya sebagai perwujudan Mundinglaya masih berdiri kokoh (ngajugrug) di sawah milik Ali Suharna dan dikenal pula dengan sebutan Batu Munding Jalu.

Seluruh kecurangan Ki Jongkrang disaksikan oleh sang putri dari puncak bukit. Diliputi rasa takut dan sedih, sang putri melarikan diri dan bersembunyi di sebuah bukit yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Ia meninggalkan payung yang sebelumnya digunakan untuk berteduh. Payung yang kemudian berubah menjadi batu itulah yang dipercaya sebagai asal-usul nama Mungkal Payung, sedangkan bukit tempat sang putri bersembunyi dikenal sebagai Gunung Putri.

Pada masa berikutnya, datang seorang nakhoda bernama Demang Karancang yang berniat mempersunting sang putri. Namun, niat tersebut tidak pernah terwujud. Oleh sebab itu, bukit yang berada di sebelah timur Gunung Putri dinamakan Gunung Karancang, yang juga dikenal dengan sebutan Gunung Nakhoda atau Gunung Kasep Roke.

Legenda Desa Mukapayung tidak hanya menjadi cerita rakyat, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat setempat yang memperkaya identitas desa sekaligus menambah daya tarik wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Bandung Barat.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *