38°C
20/06/2026
Sejarah

Manisnya Wajit Cililin di Tengah Bayang Kolonialisme

  • Agustus 12, 2025
  • 2 min read
Manisnya Wajit Cililin di Tengah Bayang Kolonialisme

INFO BANDUNG BARAT–Wajit Cililin adalah salah satu kudapan khas dari Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, yang telah ada sejak tahun 1916. Kudapan ini pertama kali dibuat oleh dua perempuan desa bernama Juwita dan Uti. Bahan utamanya sederhana—beras ketan, gula aren, dan kelapa—semuanya berasal dari hasil agraris setempat.

Awalnya, makanan ini dikenal sebagai “ketan digulaan” dan hanya dibuat berdasarkan pesanan untuk acara penting seperti pernikahan dan khitanan. Dari dapur sederhana, cita rasa manis wajit mulai dikenal di lingkungan sekitar, meski kala itu belum dikenal dengan nama wajit.

Asal-usul Nama Wajit

Istilah wajit muncul ketika seorang pendatang dari Jawa mencicipi “ketan digulaan” dan berkata bahwa di daerahnya makanan tersebut dikenal dengan sebutan wajik. Karena pengaruh pelafalan Sunda, kata tersebut berubah menjadi wajit. Perubahan nama ini bukan sekadar penyesuaian bahasa, melainkan juga cerminan akulturasi budaya antara pendatang dan masyarakat lokal di Cililin.

Wajit dan Bayang Kolonialisme

Pada masa kolonial sekitar tahun 1920-an, konsumsi wajit dibatasi. Bahan bakunya yang dianggap mewah hanya boleh dinikmati oleh kalangan bangsawan (menak) dan pejabat kolonial Belanda. Rakyat biasa tidak diperkenankan menikmatinya, menjadikan wajit simbol eksklusivitas di tengah ketimpangan sosial.

Putri Juwita dan Uti, bernama Irah, menolak pembatasan ini. Ia mulai menjual wajit secara diam-diam kepada masyarakat umum. Tahun 1936 menjadi titik balik ketika ia memutuskan menjualnya secara terbuka hingga ke kota Bandung. Langkah ini menjadi bentuk perlawanan budaya terhadap monopoli pangan kolonial.

Perkembangan dan Branding Wajit Cililin

Kesuksesan penjualan wajit membawa Irah menunaikan ibadah haji pada 1950-an. Sepulangnya, ia mendirikan merek “Wajit Asli Cap Potret Hj. Siti Romlah”, yang masih diproduksi hingga kini oleh generasi penerus.

Generasi keempat, Syamsul Ma’arif, meneruskan usaha ini dengan keyakinan bahwa wajit telah membuat nama Cililin terkenal hingga melampaui nama daerah itu sendiri. Kini, wajit tidak sekadar menjadi oleh-oleh khas, tetapi juga simbol identitas Cililin dan bukti bahwa tradisi kuliner dapat menjadi bentuk ketahanan budaya.

Wajit Cililin sebagai Warisan Budaya

Lebih dari sekadar manisan, wajit Cililin adalah warisan budaya yang menyimpan cerita perjuangan masyarakat Sunda di masa kolonial. Setiap potong wajit menghadirkan rasa manis yang berpadu dengan aroma gula aren dan kelapa, sekaligus membawa kita pada masa ketika rasa menjadi bahasa untuk melawan batasan sosial.

Dengan cita rasa yang tetap lestari hingga kini, wajit Cililin tidak hanya menjadi kebanggaan warga Bandung Barat, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner Indonesia.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *