38°C
21/03/2026
Bhineka

Maryam dan Maria dalam Perspektif Lintas Iman

  • Desember 26, 2025
  • 3 min read
Maryam dan Maria dalam Perspektif Lintas Iman

INFO BANDUNG BARAT — Dalam diskursus hubungan Islam dan Kristen, perbedaan teologis kerap menjadi titik fokus utama. Namun, di balik perbedaan tersebut terdapat ruang temu yang sering terabaikan, salah satunya melalui figur Maryam dalam Islam dan Maria dalam Kristen. Keduanya bukan sekadar tokoh perempuan dalam narasi keagamaan, melainkan simbol spiritual yang menegaskan kapasitas perempuan untuk membangun relasi iman yang langsung, utuh, dan bermakna dengan Tuhan.

Dalam tradisi Kristen, Maria dimuliakan sebagai Bunda Allah atau ibu dari Yesus. Sementara dalam Islam, Maryam dihormati sebagai ibu Nabi Isa dan simbol kesucian. Ia juga menjadi satu-satunya perempuan yang namanya diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an. Fakta ini menunjukkan bahwa dua tradisi keagamaan besar yang kerap dipertentangkan justru berbagi penghormatan mendalam terhadap satu figur perempuan yang sama. Penghormatan tersebut tidak semata berkaitan dengan peran domestik atau biologis, melainkan menyoroti kualitas spiritual Maryam dan Maria sebagai titik temu dalam membangun dialog lintas iman, sekaligus simbol universal nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.

Dalam perspektif Islam, Maryam binti Imran dipandang sebagai perempuan suci yang sejak kecil telah didedikasikan untuk beribadah di Baitul Maqdis di bawah pengasuhan Nabi Zakaria. Al-Qur’an mengisahkan kedatangan Malaikat Jibril yang menyampaikan kabar tentang kelahiran seorang putra suci melalui kalimat Allah, tanpa perantara laki-laki. Maryam digambarkan melahirkan dalam kesendirian di bawah pohon kurma, disertai mukjizat berupa rontokan buah kurma dan aliran air sebagai penguat fisiknya. Dalam Islam, Maryam disebut sebagai siddiqah, yakni perempuan yang jujur dan membenarkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Di tengah konteks global yang masih mempertanyakan posisi perempuan dalam tradisi agama, figur Maryam menjadi argumen kuat bahwa Islam mengangkat martabat perempuan berdasarkan ketakwaan dan keutamaan moral.

Dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 42, Allah berfirman, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas seluruh perempuan di dunia.” Ayat ini menegaskan kedudukan spiritual Maryam yang tinggi, tanpa dikaitkan dengan status pernikahan atau relasi patriarkal.

Sementara itu, dalam tradisi Kristen, Maria dari Nazaret merupakan tokoh sentral yang memungkinkan terjadinya inkarnasi Tuhan ke dunia. Dalam Injil Lukas 1:26–38 diceritakan perjumpaan Maria dengan Malaikat Gabriel yang memberitakan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Respons Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lukas 1:38), menjadi simbol kepasrahan dan ketaatan iman dalam tradisi Kristiani. Berbeda dengan narasi Islam, Maria melahirkan Yesus di sebuah palungan di Betlehem karena tidak mendapatkan tempat di penginapan. Peristiwa ini kemudian diperingati sebagai Natal. Dalam teologi Katolik dan Ortodoks, Maria dihormati dengan gelar Theotokos (Bunda Allah) dan dipandang sebagai pendoa syafaat bagi umat, sedangkan dalam tradisi Protestan ia dihormati sebagai teladan iman.

Titik temu utama kedua agama ini terletak pada pengakuan atas mukjizat kelahiran perawan dan penghormatan terhadap Maria/Maryam sebagai perempuan mulia di hadapan Tuhan. Perbedaan mendasarnya berada pada identitas anak yang dilahirkannya. Islam memandang Isa sebagai nabi dan utusan Allah, sementara Kristen meyakini Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Anak Allah yang memiliki hakikat ilahi.

Secara keseluruhan, Maria dan Maryam menjadi saksi lintas iman bahwa perempuan mampu menjadi ruang turunnya kehendak Tuhan, bukan sekadar pengikut di pinggiran spiritualitas. Keduanya berperan sebagai jembatan spiritual yang menghubungkan Islam dan Kristen, sekaligus mewakili martabat perempuan, kemurnian hati, serta keyakinan bahwa mukjizat Tuhan melampaui batas logika manusia.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *