Memori Cikalongwetan dalam Secangkir Walini
INFO BANDUNG BARAT — Kabut pagi biasanya masih menggantung rendah saat para pemetik teh mulai menapaki lereng-lereng perbukitan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Di tengah udara yang menggigit kulit, sebuah papan nama besar bertuliskan “Walini” berdiri menantang zaman. Bagi jutaan orang di luar sana, Walini adalah aroma teh hangat yang tersaji di meja makan, sebuah merek dagang yang akrab menemani sarapan. Namun, bagi tanah Cikalongwetan, nama itu menyimpan memori tentang darah, keringat, dan roda ekonomi yang telah berputar melintasi tiga zaman.
Hamparan hijau yang membentang di sini adalah sebuah saksi bisu. Ia merekam pergeseran kekuasaan dari tangan para meneer Belanda, beralih ke pangkuan republik, hingga nyaris tergilas oleh ambisi modernisasi bernama kereta cepat.
Membuka Arsip Priangan 1893
Jauh sebelum daun-daun teh dari kawasan ini masuk ke dalam kotak kemasan modern, dataran tinggi Jawa Barat adalah lumbung emas bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tanah vulkanis hasil letusan gunung purba yang subur dan cuaca dingin membuat wilayah ini sangat ideal untuk komoditas bernilai tinggi.
Sejarah Walini berakar kuat dari sebuah kawasan yang dulu dikenal sebagai Perkebunan Panglejar. Jika kita membalik lembaran arsip masa lalu, nama Panglejar sudah tercatat resmi dalam dokumen registrasi pemerintah kolonial sejak tahun 1893. Fakta ini dikupas tuntas oleh Lia Nuralia dalam jurnal Panalungtik (2020) lewat penelitiannya mengenai artefak kolonial di Panglejar, Maswati, dan Rajamandala.
Tahun 1893 bukanlah waktu yang singkat. Kala itu, industri perkebunan Priangan sedang berada di puncak keemasannya. Hutan-hutan dibabat, jalan-jalan setapak diperlebar, dan rel-rel lori mulai membelah bukit untuk mengangkut hasil panen ke pelabuhan. Panglejar tumbuh menjadi salah satu urat nadi ekonomi kolonial yang menghubungkan tanah Cikalongwetan langsung dengan pasar komoditas di Eropa.
Prasasti Marianne dan Mesin Uap Panglejar
Sebuah perkebunan skala besar selalu membutuhkan jantung operasional, yakni pabrik pengolahan. Lewat penelusuran sejarah yang sama, Nuralia menemukan sebuah artefak penting yang masih tersisa di area pabrik Panglejar. Di sana, tertanam sebuah prasasti berbahasa Belanda yang warnanya mulai memudar dimakan usia.
Batu itu mencatat tanggal 24 Maret 1925 sebagai momen peletakan batu pertama pabrik. Nama yang dipahat di atasnya adalah Marianne Jeannette van Hillegondsberg. Kehadiran nama seorang perempuan Eropa di tengah perbukitan Cikalongwetan ini memberi gambaran utuh tentang komunitas ekspatriat Belanda yang kala itu hidup, bermukim, dan membangun peradaban kecil di tengah lautan kebun teh.
Meski bangunan fisik pabrik yang megah itu baru dibangun pada 1925, aktivitas pengolahan teh sebenarnya sudah berjalan bertahun-tahun sebelumnya. Peta topografi cetakan pemerintah Hindia Belanda bertarikh 1918 sudah mencantumkan simbol pabrik teh di titik yang sama. Artinya, pabrik yang dibangun pada 1925 tersebut kemungkinan besar adalah hasil ekspansi atau modernisasi besar-besaran untuk merespons lonjakan permintaan teh global pasca-Perang Dunia I.
Beralih Tuan dan Nasionalisasi 1957
Roda sejarah berputar ke arah yang tak pernah diduga oleh pemerintah kolonial. Proklamasi 1945 mengubah segalanya. Setelah peperangan fisik yang melelahkan dan perundingan diplomasi yang alot, pemerintah Indonesia mengambil langkah radikal pada akhir 1950-an.
Lewat kebijakan nasionalisasi tahun 1957, seluruh aset ekonomi Belanda disita dan diambil alih oleh negara. Perkebunan Panglejar, beserta ribuan hektar lahan dan pabrik pengolahannya, resmi berpindah tuan. Dari tangan pemodal asing, kawasan ini masuk ke dalam pengelolaan perusahaan negara yang kini kita kenal sebagai PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII). Transisi ini mengubah orientasi kawasan; dari yang awalnya murni sarana pengerukan kekayaan untuk dibawa ke Eropa, menjadi aset strategis demi menyokong perekonomian republik yang baru seumur jagung.
Lahirnya Identitas Baru di Tahun 2002
Selama puluhan tahun setelah kemerdekaan, teh Indonesia rajin diekspor dalam bentuk curah. Daun-daun teh terbaik dari Panglejar dan kebun-kebun lain di Jawa Barat dikirim ke luar negeri tanpa identitas, lalu dikemas oleh merek asing dan dijual kembali dengan harga selangit.
Sadar akan celah bisnis ini, PTPN VIII mulai merombak strateginya. Mereka tidak lagi hanya ingin menjadi petani dan penjual daun mentah. Perusahaan plat merah ini mendirikan unit Industri Hilir Teh untuk mengolah, meracik (blending), dan memproduksi teh siap seduh untuk konsumen langsung.
Berdasarkan kajian dari Candrika Paramitha Mumpuni dan Rachmat Pambudy dari IPB University (2015), PTPN VIII secara resmi melempar produk Teh Walini ke pasaran pada tahun 2002. Pemilihan nama “Walini” adalah sebuah langkah cerdas. Mereka meminjam nama kawasan perkebunan di Cikalongwetan yang sudah legendaris untuk disematkan pada produk komersial.
Tentu saja, dalam peta sejarah dan geografi, kebun Walini dan Teh Walini harus didudukkan dalam porsi yang pas. Daun teh yang Anda seduh dari kotak Teh Walini tidak seratus persen dipetik dari Cikalongwetan. Sebagai perusahaan raksasa, PTPN VIII meracik produk tersebut dari gabungan pucuk teh terbaik di berbagai kebun milik mereka. Walini dalam wujud teh kemasan adalah sebuah identitas turunan; roh sejarah yang dikemas dalam sekantung teh celup.
Intermezzo Kereta Cepat yang Batal Singgah
Tidur panjang Cikalongwetan sempat terusik hebat ketika pemerintah mengumumkan megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh). Rencana awalnya sangat ambisius, menjadikan kawasan Walini sebagai salah satu titik stasiun perhentian sekaligus membangun kota mandiri berkonsep Transit Oriented Development (TOD).
Tiba-tiba, tanah tenang ini menjadi incaran para spekulan. Mesin-mesin berat mulai diproyeksikan meratakan sebagian bukit hijau. Jejak euforia ini masih terekam abadi di jagat maya. Dalam sebuah video YouTube dari Nanno Salim Channel tertanggal 15 Agustus 2021 berjudul Gowes Happy ke Kebun Teh Walini Cikalongwetan, terpampang jelas papan penanda yang mengklaim kawasan tersebut sebagai lokasi pengembangan stasiun kereta cepat.
Rencana manusia kerap berhadapan dengan realitas lapangan. Karena berbagai pertimbangan geologis, pembengkakan biaya, dan efisiensi waktu tempuh, pemerintah mengubah rute. Stasiun urung dibangun di hamparan kebun teh Cikalongwetan, dan jalurnya digeser ke Padalarang.
Ancaman deru beton dan baja pun lenyap seketika. Walini kembali merengkuh kesunyiannya, terhindar dari nasib disulap menjadi hutan beton. Hari ini, kawasan tersebut tetap berdiri memeluk identitas aslinya. Dari prasasti Marianne di tahun 1925, nasionalisasi yang heroik, hingga stasiun kereta peluru yang tinggal wacana, Cikalongwetan dan kebun teh Walini terus bertahan merekam zaman, membiarkan sejarahnya diseduh pelan-pelan bersama kabut yang turun setiap pagi.