INFO BANDUNG BARAT — Pernah terpikir, kenapa berita tentang artis selalu lebih cepat viral dibandingkan berita penting seperti kebijakan publik, isu lingkungan, atau ekonomi? Dari gosip rumah tangga hingga dugaan perselingkuhan, kisah selebritas selalu menarik perhatian publik. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari cara kerja media digital, psikologi sosial, dan budaya hiburan yang makin dominan di kehidupan sehari-hari.
Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung memperhatikan sosok yang dianggap memiliki status tinggi. Selebritas menjadi simbol aspirasi, gaya hidup, bahkan cermin impian banyak orang. Dalam konteks psikologis, rasa ingin tahu terhadap kehidupan mereka muncul dari kebutuhan untuk membandingkan diri dan mencari identitas sosial. Menurut Jurnal Psychology Research and Behavior Management (2018), “celebrity worship” atau ketertarikan berlebihan terhadap figur terkenal berkaitan erat dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri di tengah masyarakat.
Kedekatan emosional antara publik dan selebritas juga menumbuhkan rasa keterlibatan. Saat artis mengalami masalah pribadi, publik merasa ikut terlibat dan berhak menilai. Contohnya, dugaan perselingkuhan Hamish Daud yang berujung pada perceraian dengan penyanyi Raisa menjadi topik yang cepat menyebar karena menghadirkan sensasi emosional dan rasa penasaran. Kisah pribadi selebritas seperti ini bukan sekadar hiburan, tapi juga ruang bagi publik untuk “melihat diri” di kehidupan orang lain yang dianggap lebih menarik.
Kemajuan media sosial memperkuat fenomena tersebut. Instagram, TikTok, dan X (Twitter) memungkinkan publik mengakses kehidupan selebritas secara langsung. Setiap unggahan menjadi potongan kisah yang dikonsumsi massal. Dalam Jurnal Journalism (2019) disebutkan bahwa batas antara berita dan hiburan kini semakin kabur. Publik cenderung tertarik pada konten yang emosional dan ringan, sementara berita yang penuh data dan analisis seringkali kalah perhatian. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan tingkat keterlibatan, bukan penting atau tidaknya suatu isu. Semakin banyak reaksi terhadap gosip artis, semakin besar kemungkinan konten itu muncul di beranda pengguna lain. Akibatnya, berita hiburan menjadi lebih dominan daripada laporan mendalam mengenai kebijakan publik.
Pergeseran ini dikenal sebagai peralihan dari hard news ke soft news. Jurnal Communication Studies (2010) mencatat bahwa media, baik cetak maupun daring, semakin sering mengangkat isu selebritas karena lebih mudah menjaring perhatian publik. Berita yang ringan dan menghibur lebih cepat diklik, dibagikan, dan dibicarakan. Sementara berita serius tentang ekonomi, kemiskinan, atau lingkungan cenderung tenggelam dalam banjir konten hiburan.
Fenomena ini juga menjalar ke dunia politik. Popularitas selebritas kini dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Dalam pemilu 2024, misalnya, sejumlah artis dan influencer digunakan untuk mempromosikan calon tertentu. Strategi ini dianggap efektif karena pengaruh emosional selebritas besar terhadap pengikut mereka. Namun, Jurnal International Journal of Press/Politics (2019) memperingatkan bahwa penggunaan selebritas dalam politik dapat menggeser perhatian publik dari substansi ke tampilan. Politik menjadi tontonan, bukan lagi diskusi rasional. Ketika masyarakat lebih sibuk membahas gaya atau ekspresi selebritas pendukung calon daripada gagasan politiknya, maka kualitas demokrasi bisa terancam.
Kecanduan terhadap berita selebritas juga membawa dampak sosial. Kita sering tahu detail kehidupan pribadi artis, namun kurang mengikuti isu-isu penting yang menyangkut kehidupan banyak orang. Pew Research Center (2007) mencatat bahwa 40% masyarakat merasa media terlalu banyak menyoroti selebritas, sehingga perhatian publik terhadap berita serius terus menurun. Media akhirnya terjebak pada logika klik dan algoritma, sementara audiens kehilangan keseimbangan informasi.
Berita tentang selebritas memang menghibur dan tidak salah untuk dinikmati. Namun penting bagi kita untuk sadar bahwa setiap klik menentukan arah media. Semakin sering kita memilih gosip, semakin sedikit ruang bagi berita bermakna. Seperti dijelaskan oleh DW (2024), kecenderungan ini menunjukkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan informasi, dari kebutuhan akan pengetahuan menjadi pencarian hiburan.***