38°C
06/10/2026
Sejarah

Menyingkap Asal-Usul Bumi di Balik Lambang Gemeente Bandoeng dari Ex Undis Solum hingga Jejak Abadi Bandung Barat

  • Oktober 6, 2026
  • 5 min read
Menyingkap Asal-Usul Bumi di Balik Lambang Gemeente Bandoeng dari Ex Undis Solum hingga Jejak Abadi Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Lambang sebuah wilayah administratif tidak pernah sekadar menjadi hiasan atau penanda birokratis belaka. Di dalam goresan tinta, warna, dan semboyannya, sering kali tersimpan arsip bisu tentang ingatan kolektif, bentang alam, hingga cara nenek moyang memahami asal-usul tempat mereka berpijak.

Hal tersebut tampak jelas dalam lambang Gemeente Bandoeng, yaitu pemerintahan kolonial Kota Bandung yang resmi dibentuk pada tahun 1906. Lambang historis ini menampilkan sebuah perisai yang dihiasi oleh elemen air, mahkota, dua ekor singa penjaga, serta sehelai pita yang membentang di bagian bawah dengan tulisan berbahasa Latin “Ex Undis Sol”.

Sekilas, frasa tersebut tampak seperti pelengkap estetika khas lambang era kolonial. Namun, di balik barisan huruf tersebut, tersimpan narasi besar tentang evolusi bentang alam Tatar Bandung, sebuah sejarah purba yang jejaknya hari ini membentang melintasi batas administratif modern dan menyambungkan Kota Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat.

Antara Sol dan Solum

Dalam telaah sejarah lokal yang mendalam, buku klasik karya budayawan Haryoto Kunto berjudul Wajah Bandoeng Tempo Doeloe mengungkap catatan menarik sekaligus koreksi penting mengenai semboyan tersebut. Menurut Kunto, terdapat kekeliruan leksikal dalam penulisan frasa Latin pada lambang Gemeente Bandoeng.

Kata sol dalam bahasa Latin secara harfiah berarti “matahari”. Jika diterjemahkan secara kaku, “Ex Undis Sol” bermakna “matahari yang muncul dari gelombang”. Padahal, maksud yang hendak diabadikan oleh para perancang kolonial bukanlah fenomena astronomis matahari, melainkan kisah geologis tentang daratan yang muncul dari permukaan air.

Untuk mencapai makna yang tepat secara gramatikal maupun kontekstual, Haryoto Kunto menjelaskan bahwa kata yang seharusnya digunakan adalah solum. Kosakata Latin ini berkaitan erat dengan tanah, bumi, atau permukaan tempat berpijak, sehingga semboyan yang autentik seharusnya adalah “Ex Undis Solum” yang bermakna “daratan atau tanah yang muncul dari gelombang”.

Menyibak Misteri Danau Bandung Purba

Makna filosofis dari Ex Undis Solum tersebut kemudian menemukan relevansi ilmiahnya ketika kita menarik garis mundur ke masa lampau, jauh sebelum geliat urbanisasi merajai kawasan Bandung Raya. Sebelum kolonial Belanda menancapkan tonggak kotapraja, wilayah ini merupakan sebuah cekungan raksasa yang tergenang air dan dikenal dalam literatur geologi sebagai Danau Bandung Purba.

Dalam karya penting berjudul Bandung Purba: Gunung Sunda dan Danau Bandung Purba, tim peneliti yang dimotori oleh geolog terkemuka Budi Brahmantyo memaparkan bagaimana jejak danau raksasa ini dapat direkonstruksi melalui geomorfologi kawasan. Danau tersebut membentang luas, dikelilingi oleh gugusan pegunungan purba, dan menjadi saksi bisu dinamika vulkanik ribuan tahun silam.

Menariknya, batas barat dari cekungan danau purba tersebut bersinggungan langsung dengan wilayah yang kini secara administratif masuk ke dalam Kabupaten Bandung Barat. Kawasan seperti Padalarang, Rajamandala, hingga Ngamprah menyimpan lembaran-lembaran sejarah bumi yang paling dramatis di Tatar Bandung.

Karst Rajamandala dan Mitos Sanghyang Tikoro

Di kawasan karst Rajamandala, tersingkap batuan gamping berumur jutaan tahun yang menjadi lantai dasar laut purba sebelum terangkat ke permukaan bumi. Di sinilah interaksi antara air, batu kapur, dan tektonik membentuk bentang alam karst yang unik, termasuk sistem gua dan aliran sungai bawah tanah.

Kondisi tersebut membawa kita pada salah satu titik paling ikonik yang sering dikaitkan dengan misteri surutnya Danau Bandung Purba, yaitu Sanghyang Tikoro di Rajamandala yang dialiri oleh Sungai Citarum. Selama bertahun-tahun, cerita rakyat berkembang bahwa lenyapnya danau diakibatkan oleh jebolnya bendungan alami di Sanghyang Tikoro, seolah-olah air danau tersedot habis melalui tenggorokan bumi tersebut.

Namun, sains modern memberikan penjelasan yang jauh lebih kompleks. Dalam artikel ilmiah berjudul “Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba Tidak Melalui Gua Sangiangtikoro” yang dimuat dalam Majalah Geologi Indonesia (Vol. 17 No. 3, 2002), Budi Brahmantyo bersama Sampurno dan Bandono mementahkan anggapan populer tersebut.

Melalui analisis geomorfologi yang ketat, riset itu membuktikan bahwa proses pengeringan tidak terjadi secara sederhana lewat amblesan di Sanghyang Tikoro. Pengeringan tersebut merupakan hasil dari proses evolusi lembah Sungai Citarum di bagian hilir, seperti di kawasan Curug Jompong, yang terkikis secara perlahan oleh tenaga air selama ribuan tahun sehingga membiarkan air danau surut secara bertahap dan meninggalkan endapan tanah sedimen yang subur di dasar cekungan.

Menyatu dalam Warisan Cekungan Bandung

Kendati demikian, Sanghyang Tikoro tetap memegang posisi penting sebagai simbol geomorfologis. Bersama jajaran pegunungan kapur Padalarang di Kabupaten Bandung Barat, kawasan ini menjadi monumen alam yang membuktikan bahwa sejarah geologi Tatar Bandung melampaui sekat-sekat teritorial buatan manusia.

Hari ini, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat memang merupakan dua entitas pemerintahan yang otonom dengan dinamika pembangunannya masing-masing. Gemeente Bandoeng pada tahun 1906 tentu tidak mencakup wilayah otonom kabupaten yang baru lahir seabad kemudian.

Namun, batas-batas administratif tersebut menjadi lebur ketika kita melihat lanskap melalui kacamata sejarah alam. Keduanya dipersatukan oleh warisan ekologis dan geologis yang sama di dalam Cekungan Bandung.

Tanah yang Lahir dari Air dan Waktu

Semboyan Ex Undis Solum, baik sebagai koreksi harfiah maupun sebagai metafora puitis, mengajarkan kita untuk melihat kota bukan sekadar sebagai kumpulan gedung beton, jalan raya, dan lampu-lampu perkotaan. Di bawah aspal Jalan Braga maupun di balik tebing kapur Padalarang, tersimpan lapisan sejarah bumi ketika air pernah berkuasa sebelum akhirnya surut dan memberi jalan bagi kehidupan manusia untuk tumbuh.

Sebuah lambang kota dari masa lalu terbukti mampu membawa kita melompati zaman untuk membaca ulang lanskap tempat kita tinggal hari ini. Dari gelombang air purba yang menenggelamkan cekungan, telah lahirlah daratan atau solum.

Dari kesuburan daratan itu pula tumbuh peradaban, permukiman tradisional, kota kolonial, hingga wilayah-wilayah penyangga modern di Kabupaten Bandung Barat. Di antara Kota Bandung dan Bandung Barat hari ini, jejak air purba itu masih menyisakan cerita sebagai pengingat abadi bahwa sebelum manusia membuat garis-garis batas peta dan wilayah administratif, alam telah lebih dulu menorehkan sejarah bahwa di atas tanah tempat kita berdiri, semuanya pernah bermula dari air dan waktu.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *