Ngadulag, Ketika Beduk Menjadi Simbol Akulturasi dan Sukacita Ramadan
Anggie Baeduri Aulia
- Februari 26, 2026
- 3 min read
INFO BANDUNG BARAT — Beduk selama ini dikenal sebagai penanda masuknya waktu salat. Namun, di Jawa Barat, tabuhan beduk memiliki makna yang jauh lebih dalam. Saat Ramadan tiba, suara beduk tak hanya terdengar menjelang salat, tetapi juga menggema selepas berbuka, usai tarawih, hingga malam takbiran. Tradisi itulah yang dikenal sebagai ngadulag, sebuah warisan budaya
yang terus hidup di tengah masyarakat Sunda.
Ngadulag berarti menabuh beduk dan beberapa kohkol (kentongan) yang biasa terdapat di masjid dengan irama dulag. Irama ini, yang oleh orang Sunda diibaratkan berbunyi “dulug-dug-dag”, dimainkan secara kreatif sehingga menghasilkan bunyi yang enak didengar.
Ngadulag merupakan tradisi menabuh beduk pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang dan selama bulan Ramadan hingga Idulfitri. Seni dulag bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Di berbagai desa di Jawa Barat, ngadulag menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam menyemarakkan malam-malam suci Ramadan. Tradisi ini kerap dilakukan menjelang sahur untuk membangunkan warga serta sesudah salat tarawih. Seiring waktu, tradisi ini berkembang; suasana malam takbiran pun sering diramaikan dengan dentuman meriam karbit dari bambu (lodong) yang dimainkan para remaja.
Dalam buku Sufisme Sunda: Hubungan Islam dan Budaya dalam Masyarakat Sunda (2017), Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., menjelaskan bahwa ngadulag menjadi simbol kegembiraan seorang muslim dalam menyambut Ramadan. Tradisi ini menunjukkan bahwa ajaran Islam di Tatar Sunda tumbuh selaras dengan budaya setempat.
Menariknya, beduk bukanlah instrumen yang berasal dari tradisi Islam di Timur Tengah. Dalam sejarahnya, penggunaan beduk di Nusantara merupakan hasil akulturasi budaya, khususnya pengaruh Tionghoa dan tradisi Buddhis yang telah lebih dahulu mengenal alat musik tabuh berbentuk drum besar untuk keperluan ritual.
Ketika Islam berkembang di Indonesia, para penyebar agama mengadopsi instrumen tersebut sebagai media dakwah dan penanda waktu ibadah. Di wilayah asal Islam, penanda waktu salat cukup dengan azan tanpa iringan beduk. Namun, di Indonesia, terutama di Jawa dan Sunda, beduk justru menjadi bagian penting dari praktik keagamaan. Hal ini menegaskan bahwa Islam di Nusantara berkembang melalui pendekatan kultural, merangkul tradisi yang telah ada dan memberinya makna baru.
Setiap ketukan dalam ngadulag memiliki arti tersendiri. R.A. Danadibrata dan Rachmatullah Ading Affandie (RAF) (1984:50) mencatat beberapa pola dulag yang menjadi penanda waktu dan peristiwa penting selama Ramadan. Dulag kuramas ditabuh sehari sebelum Ramadan sebagai ajakan untuk membersihkan diri sebelum memasuki ibadah puasa. Dulag jaman dibunyikan saat waktu sahur, biasanya mulai pukul 02.00 hingga menjelang Subuh, dengan tabuhan perlahan yang diselingi jeda sebagai pengingat warga untuk bangun. Dulag tarawih dan dulag tadarus menandai masuknya waktu salat tarawih dan kegiatan membaca Al-Qur’an. Sementara dulag fitrah atau dulag lilikuran dibunyikan sejak malam ke-21 Ramadan hingga menjelang 1 Syawal sebagai penanda dimulainya masa pembayaran zakat fitrah. Setiap pola memiliki ciri khas berbeda sehingga masyarakat dapat mengenali maksudnya hanya dari irama yang terdengar.
Ngadulag pada akhirnya bukan sekadar tradisi bunyi-bunyian. Ia adalah simbol harmoni antara Islam dan kearifan lokal, bukti bahwa keberagamaan di Indonesia tumbuh dari proses akulturasi yang damai dan kreatif. Di tengah arus modernisasi, menjaga tradisi ngadulag berarti merawat identitas sekaligus mengokohkan hubungan antara nilai-nilai Islam dan budaya Sunda agar tetap hidup dan bergema di setiap Ramadan.***