Kupat Tahu 99: Legenda Kuliner Padalarang yang Lahir dari Masa Perang
INFO BANDUNG BARAT — Jika melintasi kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, ada satu aroma gurih yang sulit dilewatkan. Di Jalan Raya Padalarang Nomor 593 berdiri sebuah warung legendaris bernama Kupat Tahu 99. Lebih dari sekadar tempat makan, warung ini merupakan saksi bisu perjuangan rakyat yang telah bertahan selama hampir delapan dekade.
Sejarah Kupat Tahu 99 berawal dari sosok bernama Mulya, orang pertama yang memperkenalkan racikan kupat tahu khas Padalarang ini sebelum masa kemerdekaan. Namun, eksistensinya benar-benar teruji pada periode 1945–1946.
Saat itu, Belanda dan sekutunya mencoba menduduki Bandung setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Kondisi ini memaksa warga Padalarang melakukan eksodus atau mengungsi ke daerah Ciwidey. Di tengah situasi perang yang serba sulit, mereka bertahan hidup dengan menjual kupat tahu.
Situasi perang membuat bahan makanan sulit diperoleh. Bumbu kacang dan sayuran seperti tauge yang lazim digunakan dalam kupat tahu sulit ditemukan. Sebagai gantinya, santan dipilih sebagai bahan utama kuah karena lebih mudah didapat. Dari keterpaksaan itulah lahir ciri khas Kupat Tahu Padalarang dengan kuah santan gurih yang berpadu dengan mi bihun (soun) lembut, tanpa bumbu kacang maupun sayuran seperti pada kupat tahu Singaparna. Justru di situlah letak keunikannya.
Hidangan ini terdiri atas ketupat bertekstur padat dan kenyal, tahu goreng yang renyah di luar namun lembut di dalam, serta siraman kuah santan berbumbu kecap rempah. Sederhana, tetapi kaya rasa.
Meski akar usahanya telah dimulai sejak 1945 di tempat pengungsian (Ciwidey), Kupat Tahu Padalarang mulai berkembang pesat dan populer secara luas di wilayah Padalarang sekitar tahun 1990-an. Padalarang sebagai daerah transit utama antara Bandung dan Jakarta menjadikan kuliner ini favorit bagi pekerja pabrik, kuli angkut, hingga wisatawan.
Menyantap sepiring Kupat Tahu 99 bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga menghargai warisan budaya dan kreativitas masyarakat dalam bertahan hidup di masa sulit.***