38°C
11/03/2026
Sejarah

Observatorium Bosscha: Warisan Satu Abad Ilmu Astronomi di Indonesia

  • Desember 23, 2025
  • 3 min read
Observatorium Bosscha: Warisan Satu Abad Ilmu Astronomi di Indonesia

INFO BANDUNG BARAT — Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, merupakan observatorium astronomi tertua di Indonesia. Diresmikan pada tahun 1923, observatorium ini sejak awal dibangun sebagai pusat penelitian astronomi, khususnya untuk pengamatan objek-objek langit di belahan selatan yang pada masa itu masih minim data ilmiah.

Pembangunan Observatorium Bosscha tidak lepas dari peran Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang filantropis dan ilmuwan asal Belanda. Melalui kerja sama Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV), Bosscha mendanai pendirian observatorium sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan di Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, observatorium ini kemudian dikelola oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Salah satu bangunan paling ikonik di dalam kompleks Observatorium Bosscha adalah Gedung Refraktor Ganda Zeiss. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1925 dan menjadi rumah bagi teleskop utama yang mulai beroperasi pada 1928. Hingga kini, teleskop tersebut telah digunakan hampir satu abad.

“Yang sering disebut Observatorium Bosscha itu sebenarnya bukan hanya satu gedung, melainkan sebuah kompleks. Gedung ini adalah tempat penyimpanan dan pengoperasian instrumen astronomi utama, yaitu teleskop,” jelas Yatny Yulianty, astronom sekaligus staf Observatorium Bosscha, saat memandu Tim Info Bandung Barat dalam kunjungan ke lokasi pada Rabu (17/12/2025).

Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dipesan langsung dari Carl Zeiss di Jena, Jerman. Instrumen ini dikirim ke Hindia Belanda melalui jalur laut, lalu diangkut ke Bandung menggunakan kereta api dan kereta kuda menuju Lembang. Karena bobotnya mencapai sekitar 17 ton, teleskop tidak dikirim dalam satu kesatuan utuh.

“Gedungnya dibangun lebih dulu. Teleskop datang dalam bagian-bagian terpisah dan dirakit ulang di dalam gedung. Tingkat presisinya sangat tinggi, karena pergeseran beberapa milimeter saja bisa mengganggu keseimbangannya,” kata Yatny.

Teleskop ini dirancang sebagai refraktor ganda, artinya dalam satu tabung terdapat dua teleskop yang bekerja secara terpisah. Keduanya digunakan untuk dua metode pengamatan yang berbeda, yakni pengamatan visual dan fotografi. Pada masa awal, perekaman data astronomi dilakukan menggunakan pelat kaca berlapis emulsi kimia yang sangat sensitif terhadap cahaya.

Sejak mulai beroperasi, teleskop Refraktor Ganda Zeiss memainkan peran penting dalam pengamatan bintang ganda di belahan langit selatan. Kontribusinya tidak hanya penting bagi astronomi di Indonesia, tetapi juga bagi komunitas ilmiah internasional pada awal abad ke-20.

Selain instrumennya, arsitektur Gedung Refraktor Ganda Zeiss juga dirancang secara fungsional. Atap berbentuk kubah memungkinkan teleskop bergerak mengikuti pergerakan objek langit, sementara lantai di dalam gedung dapat dinaik-turunkan untuk menyesuaikan posisi pengamat. Seluruh desain ini dibuat demi mendukung kerja astronom yang sebagian besar dilakukan pada malam hari dalam kondisi minim cahaya.

Karena usia bangunan yang telah melampaui 50 tahun serta kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, Observatorium Bosscha ditetapkan sebagai cagar budaya, baik di tingkat daerah maupun nasional. Status ini menegaskan bahwa Bosscha bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan warisan ilmu pengetahuan yang masih aktif hingga hari ini.

“Hingga sekarang, observatorium ini masih digunakan untuk penelitian, pendidikan, dan publikasi ilmiah. Jadi bukan hanya monumen masa lalu, tetapi ruang ilmu yang terus hidup,” tutup Yatny Yulianty.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *