Om, Bapa, dan Toa: Humor Gus Dur tentang Kedekatan dengan Tuhan
INFO BANDUNG BARAT — KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, dikenal luas sebagai tokoh pluralisme Indonesia. Namun, ada satu ciri khas Gus Dur yang sulit dilupakan, yakni kemampuannya menyampaikan pesan-pesan serius melalui humor yang cerdas dan menggelitik. Bagi Gus Dur, tertawa bukan sekadar hiburan, melainkan cara elegan untuk mengajak orang berpikir, bercermin, dan menghargai perbedaan.
Salah satu humor Gus Dur yang paling populer adalah kisah dialog antara tiga pemuka agama yang “berlomba” menentukan siapa di antara mereka yang paling dekat dengan Tuhan. Kisah ini terekam dalam buku Mati Tertawa Bareng Gus Dur dan hingga kini masih relevan sekaligus mengundang senyum.
Dikisahkan, seorang tokoh agama Buddha, seorang pendeta Kristen, dan Gus Dur sebagai perwakilan Islam sedang duduk bersama. Percakapan mereka kemudian mengarah pada topik spiritualitas: siapa yang paling dekat dengan Tuhan.
Sang biksu angkat bicara lebih dulu. Dengan penuh keyakinan, ia mengatakan bahwa agamanyalah yang paling dekat dengan Tuhan. “Coba lihat saja,” katanya, “kalau kami memanggil Tuhan, cukup dengan satu kata: ‘Om’.” Seruan singkat tersebut, menurutnya, menunjukkan kedekatan yang sangat intim.
Tak mau kalah, sang pendeta menyampaikan pendapatnya. Ia merasa agamanya justru lebih dekat lagi. “Kami memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Bapa’,” ujarnya. “Itu bukan sekadar panggilan, tetapi relasi kekeluargaan antara anak dan orang tua.”
Giliran Gus Dur berbicara. Namun, alih-alih langsung menjawab, ia justru tertawa terbahak-bahak setelah mendengar kedua argumen tersebut. Pendeta dan biksu pun penasaran. “Apakah Anda merasa agama Anda yang paling dekat dengan Tuhan?” tanya mereka.
Masih sambil tertawa, Gus Dur menjawab, “Boro-boro dekat. Justru menurut saya, Islam itu yang paling jauh dari Tuhan.”
Jawaban itu tentu mengejutkan. Dengan gaya khasnya yang penuh ironi, Gus Dur kemudian menjelaskan, “Bagaimana mau dekat? Setiap mau memanggil Tuhan saja, kami harus naik menara dan menggunakan pengeras suara yang keras sekali. Seolah-olah Tuhan itu jauh di sana, jadi harus diteriaki setiap hari supaya mendengar.”
Tawa pun pecah. Namun, di balik kelucuan tersebut, tersimpan kritik yang tajam sekaligus penuh kasih.
Kisah ini mencerminkan semangat toleransi dan pluralisme yang selalu diperjuangkan Gus Dur. Dengan menempatkan tokoh lintas agama duduk bersama dalam satu cerita, Gus Dur menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi dialog, keakraban, bahkan canda.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah