Perjalanan Osa Maliki, Dari Padalarang Hingga Selamatkan PNI
INFO BANDUNG BARAT — Osa Maliki Wangsadinata adalah salah satu tokoh nasional yang perannya kerap terlupakan dalam sejarah politik Indonesia. Lahir pada 30 Desember 1907, ia tumbuh di lingkungan masyarakat Sunda yang sederhana dan sejak muda telah tertarik pada gagasan kemerdekaan. Dari masa pengasingan hingga kursi kepemimpinan partai, perjalanan hidupnya merefleksikan pergulatan antara idealisme, nasionalisme, dan realitas politik Indonesia yang terus berubah.
Pada masa mudanya, Osa aktif di berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam dan Pemuda Indonesia. Semangatnya yang radikal membuatnya terlibat dalam gerakan pemberontakan tahun 1926 yang berujung pada penangkapannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Boven Digoel, sebuah tempat pengasingan di Papua yang dikenal keras dan penuh penderitaan. Namun justru di pengasingan itulah karakter nasionalismenya menguat. Di antara para tahanan politik lainnya, Osa belajar memahami arti keteguhan dan pengorbanan dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Sekembalinya dari pengasingan sekitar tahun 1938, Osa Maliki memilih jalan pendidikan. Ia menjadi guru di Taman Siswa Bandung, lembaga yang dikenal menanamkan nilai kemandirian dan cinta tanah air. Pendidikan bagi Osa bukan sekadar profesi, tetapi bentuk lain dari perjuangan untuk membentuk kesadaran kebangsaan generasi muda. Namun hidupnya tidak berjalan tenang. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat ditahan oleh Kempeitai, polisi militer Jepang, karena dianggap terlalu vokal dan berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan militer.
Setelah Indonesia merdeka, Osa bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), partai yang menjadi simbol perjuangan nasionalis dan kebangsaan. Karier politiknya berkembang pesat, hingga akhirnya ia menjadi salah satu tokoh sentral dalam dinamika partai. Namun, di dalam tubuh PNI sendiri, muncul perpecahan besar antara kubu Ali-Surachman yang dianggap terlalu dekat dengan kelompok kiri dan kubu Osa-Usep yang dipimpin oleh Osa Maliki bersama Usep Ranawidjaja.
Kubu Osa-Usep mengambil posisi yang jelas: menolak pengaruh komunis dan mendukung tuntutan Tritura yang disuarakan oleh gerakan mahasiswa tahun 1966. Sikap ini membawa Osa lebih dekat dengan kalangan militer dan pemerintahan baru di bawah Soeharto. Meskipun sikapnya dianggap pragmatis oleh sebagian pihak, langkah Osa terbukti menyelamatkan PNI dari ancaman pembubaran total. Dalam situasi politik yang penuh tekanan pasca-1965, Osa memimpin PNI untuk menyesuaikan diri tanpa sepenuhnya kehilangan identitas nasionalisnya.
Pada akhir 1960-an, Osa Maliki diangkat menjadi Ketua Umum PNI, menggantikan Ali Sastroamidjojo. Di bawah kepemimpinannya, partai itu berhasil bertahan hingga Pemilu 1971, meskipun perolehan suaranya menurun drastis dibanding masa kejayaan sebelumnya. Osa sendiri menolak gagasan untuk membubarkan partai sebelum waktunya. Ia berjuang mempertahankan eksistensi PNI hingga akhirnya kebijakan fusi partai pada masa Orde Baru membuat PNI dilebur ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1973.
Osa Maliki meninggal dunia pada 15 September 1969 di Semarang, tak lama setelah menyampaikan pidato di hadapan mahasiswa. Kepergiannya menandai akhir dari satu babak penting dalam sejarah politik nasionalisme Indonesia. Warisannya bukan sekadar pada partai yang pernah dipimpinnya, tetapi juga pada nilai keteguhan, pendidikan, dan kesetiaan terhadap cita-cita kemerdekaan.***