Pesona Villa Merah Sukawana, Saksi Bisu Kejayaan Teh Kolonial hingga Lokasi Syuting Pidi Baiq
INFO BANDUNG BARAT — Di tengah hamparan perkebunan teh yang luas, berdiri sebuah bangunan kolonial mencolok berwarna merah. Bangunan tersebut adalah Villa Merah Sukawana, situs peninggalan sejarah yang telah berdiri lebih dari satu abad dan menjadi saksi bisu kejayaan perkebunan teh pada masa kolonial Belanda.
Sejarah Villa Merah berakar dari masa kejayaan perkebunan Belanda di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Kebun Pangheotan. Catatan arsip Belanda menyebutkan bahwa konsesi perkebunan ini mulai diperoleh pada tahun 1877. Pada awalnya, sekitar tahun 1883, kawasan tersebut ditanami kopi. Namun, komoditas ini gagal akibat serangan penyakit tanaman.
Perkebunan kemudian beralih menanam kina yang sempat berjaya dan memiliki beberapa pabrik pengolahan. Baru pada sekitar tahun 1911, komoditas utama dialihkan ke teh dengan penggunaan bibit unggulan. Teh yang dihasilkan berkualitas tinggi dan diekspor ke Eropa. Nama “Pangheotan” sendiri diyakini berasal dari nama Van Houten, seorang meneer Belanda pemilik perkebunan di kawasan tersebut, yang pelafalannya disederhanakan oleh masyarakat setempat.
Villa Merah diperkirakan dibangun pada awal 1900-an. Lokasinya berada di lereng selatan Gunung Tangkuban Parahu, wilayah Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Bangunan ini difungsikan sebagai rumah dinas administrator perkebunan. Dari sisi arsitektur, Villa Merah mengadopsi gaya Indische Empire yang disesuaikan dengan iklim pegunungan. Ciri khasnya meliputi plafon tinggi dan jendela berukuran besar untuk sirkulasi udara optimal, serta dinding tebal yang mampu menahan suhu dingin pada malam hari.
Setelah Indonesia merdeka, perkebunan ini dinasionalisasi dan diambil alih oleh negara. Pengelolaannya kemudian berada di bawah PT Perkebunan Negara (PTPN) VIII, yang kini menjadi PTPN I Regional 2. Nama kawasan pun resmi berubah menjadi Perkebunan Sukawana, mengikuti nama wilayah setempat.
Saat ini, kawasan Perkebunan Sukawana berkembang sebagai destinasi agrowisata yang cukup populer. Villa Merah telah direvitalisasi dan difungsikan sebagai tempat menginap bagi wisatawan. Bangunan ini mampu menampung hingga 30 orang, dilengkapi fasilitas empat kamar tidur, dapur, ruang tengah, serta kamar mandi dengan air panas.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat mencatat Villa Merah sebagai salah satu objek yang diduga peninggalan sejarah dan cagar budaya. Keaslian arsitekturnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah perkebunan di Jawa Barat.
Menariknya, Villa Merah juga kerap dijadikan lokasi syuting film. Salah satunya adalah film Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara karya Pidi Baiq, yang menjadikan villa ini sebagai markas geng Baracas yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, Budi Doremi, dan Ajun Perwira.
Dengan demikian, Villa Merah Sukawana bukan sekadar bangunan tua di tengah perkebunan teh. Ia merupakan perpaduan antara sejarah kolonial, keindahan alam Priangan, serta cerita budaya populer yang terus hidup hingga kini.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah