38°C
20/06/2026
Sejarah

Saksi Bisu Perkeretaapian Indonesia: Terowongan Sasaksaat yang Tetap Bertahan

  • Desember 14, 2025
  • 2 min read
Saksi Bisu Perkeretaapian Indonesia: Terowongan Sasaksaat yang Tetap Bertahan

INFO BANDUNG BARAT — Kereta api memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama sejak masa kolonial Belanda. Moda transportasi ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah pedalaman menuju pusat perdagangan. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini, salah satunya di Kabupaten Bandung Barat.

Selain jalur rel yang membentang di kawasan ini, terdapat sebuah terowongan kereta api yang hingga kini masih aktif digunakan, yakni Terowongan Sasaksaat. Terowongan ini berada di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dan dikenal sebagai salah satu terowongan kereta api tertua sekaligus terpanjang di Indonesia.

Terowongan Sasaksaat dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai bagian dari proyek Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Pembangunannya dimulai pada 1902 dan mulai dioperasikan pada 1903. Proyek ini dirancang untuk menghubungkan wilayah Priangan dengan Batavia melalui jalur pegunungan yang memiliki medan cukup berat.

Jika dihitung hingga saat ini, usia Terowongan Sasaksaat telah mencapai lebih dari satu abad. Meski demikian, konstruksinya masih berdiri kokoh. Pada awal abad ke-20, terowongan sepanjang sekitar 950 meter ini dibangun dengan menembus perbukitan dan tebing curam, menjadikannya salah satu terowongan kereta api terpanjang di Indonesia.

Pada masa awal pengoperasiannya, terowongan ini menjadi jalur penting bagi kereta pengangkut hasil bumi seperti teh, kopi, dan beras. Keberadaan Terowongan Sasaksaat mencerminkan kemajuan teknologi serta perencanaan teknik pada masa kolonial.

Namun, di balik fungsinya yang strategis, pembangunan terowongan ini juga menyimpan sisi kelam. Proses pengerjaannya melibatkan tenaga kerja paksa. Ribuan pekerja lokal dikerahkan untuk menggali batu dan membangun struktur terowongan dengan peralatan yang sangat terbatas.

Di dalam terowongan terdapat ceruk kecil yang dikenal sebagai sleko, yakni tempat perlindungan bagi petugas saat kereta melintas. Total terdapat 35 sleko, dengan 17 di sisi kiri dan 18 di sisi kanan. Selain itu, di dalam terowongan juga terdapat sumber mata air dengan aliran yang tetap jernih. Secara teknis, jalur rel dibuat sedikit menanjak di bagian tengah agar air dapat mengalir ke sisi terowongan dan tidak menggenangi rel.

Hingga kini, Terowongan Sasaksaat masih menjadi bagian penting dari jalur kereta api di wilayah Priangan. Meski telah berusia lebih dari 100 tahun, terowongan ini tetap aktif dilalui kereta penumpang dan barang, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *