38°C
05/05/2026
Budaya Sejarah

Sekar Roekoen, Utusan Sunda dalam Kongres Pemuda

  • Oktober 30, 2025
  • 3 min read
Sekar Roekoen, Utusan Sunda dalam Kongres Pemuda

INFO BANDUNG BARAT — Pada masa pergerakan nasional, ketika semangat persatuan bangsa mulai tumbuh di kalangan pemuda, suara dari Tanah Sunda turut hadir melalui sebuah organisasi bernama Sekar Roekoen. Organisasi ini berdiri pada 26 Oktober 1919 di Batavia sebagai wadah bagi para pelajar Sunda untuk memelihara bahasa, budaya, serta mempererat persaudaraan di antara sesama anak muda Sunda yang merantau ke ibu kota.

Sekar Roekoen didirikan oleh para pelajar asal Tatar Sunda seperti Iwa Kusumasumantri, Iki Adiwidjaja, Hilman, Moh. Sapi’i, dan Mangkudiguna. Mereka merasa bahwa jati diri Sunda belum sepenuhnya terwakili dalam organisasi kedaerahan yang sudah ada seperti Jong Java. Karena itu, mereka membentuk perkumpulan sendiri untuk membangkitkan rasa bangga terhadap bahasa dan kebudayaan Sunda, serta memperkuat hubungan antarsesama pemuda Sunda di perantauan.

Dalam aturan dasarnya, Sekar Roekoen menegaskan bahwa seluruh kegiatan harus selaras dengan ajaran agama, tidak bertentangan dengan aturan negara, serta tidak terlibat dalam urusan politik. Kegiatan mereka mencakup latihan gamelan, pementasan seni, penerbitan majalah, hingga diskusi kebahasaan. Mereka rutin mengadakan pertemuan budaya dan lomba menulis dalam bahasa Sunda, menjadikan kegiatan ini sarana memperkuat identitas di tengah arus modernisasi pada masa kolonial.

Seiring waktu, Sekar Roekoen berkembang pesat. Cabangnya tersebar di berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Bandung, Lembang, Serang, Salatiga, hingga Yogyakarta. Anggotanya bahkan mencapai lebih dari lima ratus orang. Fakta ini menunjukkan bahwa semangat kebudayaan Sunda kala itu tidak hanya tumbuh di tanah asalnya, tetapi juga hidup di kalangan pelajar Sunda di kota-kota besar Hindia Belanda.

Pada Kongres Sekar Roekoen tahun 1922 di Bandung, organisasi ini menggelar pertemuan besar yang membahas berbagai hal, termasuk soal pilihan kata ganti diri dalam bahasa Sunda seperti abdi, kuring, dan urang. Kongres tersebut juga dimeriahkan dengan pementasan drama Enden Ratna, pertunjukan gamelan, dan pameran kerajinan tangan. Kegiatan itu bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi cara mereka menegaskan bahwa kebudayaan Sunda harus menjadi bagian penting dari kehidupan pemuda yang terdidik.

Sekar Roekoen tercatat sebagai satu-satunya organisasi dari Tatar Sunda yang ikut serta dalam Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928). Pada Kongres Pemuda I, perwakilannya, Hamami, bahkan mengusulkan agar bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar dalam sidang. Dua tahun kemudian, pada Kongres Pemuda II, Sekar Roekoen cabang Batavia mengirimkan delegasi yang terdiri dari Mupradi, Kornel Singawinata, Mareng Suriawidjaja, dan Julaeha. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pemuda Sunda tidak hanya terlibat dalam kegiatan kebudayaan, tetapi juga aktif berperan dalam pembentukan semangat persatuan nasional.

Setelah tahun 1928, arah gerakan Sekar Roekoen semakin meluas. Perubahan dalam anggaran dasarnya menegaskan tujuan baru: menumbuhkan kecintaan pemuda Sunda kepada tanah air, meningkatkan ilmu pengetahuan, mempererat hubungan antarpemuda Sunda, serta memperkuat kerukunan di antara pemuda Indonesia. Pada tahun 1931, Sekar Roekoen melebur ke dalam organisasi Indonesia Muda, langkah yang menandai tekad pemuda Sunda untuk menyatu dalam perjuangan nasional melawan penjajahan.

Sekar Roekoen meninggalkan warisan berharga bagi generasi masa kini. Dari organisasi ini, kita belajar bahwa semangat kebangsaan tidak harus meniadakan akar budaya daerah. Para pemuda Sunda pada masa itu menunjukkan bahwa menjaga bahasa dan kebudayaan daerah bukan berarti terpisah dari cita-cita nasional, melainkan bagian dari memperkaya keindonesiaan itu sendiri. Di tengah dunia modern dan digital saat ini, semangat Sekar Roekoen tetap relevan: menjaga bahasa, sastra, dan nilai-nilai luhur Sunda sembari ikut membangun masa depan bangsa.***


Penulis: Ayu Diah Nur’azizah

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *